Wednesday, November 7, 2018

Emak Milenial Anti Hoax dan Harus Cerdas

Emak Milenial Anti Hoax dan Harus Cerdas Memilih BBM


"Mulai nanti malam bbm naik lo, sana isi penuh motor-motornya." suara mas suami terdengar beradu kencang dengan suara penyiar televisi yang sedang menginformasikan soal kenaikan bbm yang akan dimulai tengah malam nanti. 


Yang jelas, dia tengah memberitahu ke saya dan anak-anak yang lebih banyak menggunakan transportasi sepeda motor untuk kegiatan sehari-hari. Itu terjadi beberapa waktu yang lalu ketika pemerintah memutuskan untuk menaikkan tarif bbm, tapi beberapa menit sebelumnya sudah dibatalkan oleh bapak presiden. Dan saya rasa, respon seperti yang suami sampaikan itu sangat manusiawi. Spontan. Bahkan hampir semua masyarakat Indonesia pasti melakukan hal yang sama seperti suami saya lakukan. Dan jangan lupa, sudah menjadi bagian dari budaya juga lo. Terus budaya seperti apa sih yang itu?



Saya sih tidak terlalu merespon, eh ternyata begitu juga anak-anak yang tetap asik dengan laptopnya masing-masing. Karena alasan kami sama yaitu malas ngebayangin antrian di SPBU menjelang kenaikan bbm yang biasanya dimulai dari tengah malam. Karena biasanya warga akan berbondong-bondong untuk mengisi tangki sepeda motor dan mobil plus membawa jerigen buat stok. Kembali lagi, itu menjadi salah satu budaya bangsa kita. Padahal dari pihak SPBU pasti juga akan membatasi. Dalam beberapa haripun pasti sudah habis. Berapa keuntungan sih yang akan didapat dengan membeli gila-gilaan bahan bakar sebelum naik.


Keesokan harinya, ternyata kehebohan dari kenaikan bbm itu masih berlanjut (padahal sudah resmi dibatalkan sama pak presiden). Dari mulai bapak-bapak yang nongkrong di pos ronda sambil main catur, sampai ibu-ibu yang lagi belanja sayur. Eh topiknya malah makin panas. Apalagi ketika bu Irma tetangga rumah ngomel nggak karuan sama si Arip penjual sayur yang ditakutkan ikut-ikutan menaikkan harga sayur mayur seiring isu kenaikan BBM.  


"Kayaknya harga belanjaan kita pagi ini mulai naik semua ya Rip? Ini ayam bertelurnya kemarin sebelum isu bbm naik lo, jangan sampai harganya juga ikutan naik." ujar bu Irma sambil bersungut.


Si Arip cuman cengar cengir nggak bisa jawab meladeni omelan emak-emak. Sebagian memang ikut ngompori celotehan bu Irma, tapi ibu-ibu yang lain ada yang cuek dan tetap terus belanja. Karena bagaimanapun show must go on. Hidup harus tetap berjalan. Emak-emak tidak boleh berhenti memasak untuk keluarga meskipun harga-harga melambung tinggi.  


Tapi memang seperti itulah situasi yang selalu terjadi kalau ada informasi tentang kenaikan bbm. Tidak dipungkiri, yang paling heboh pasti ibu rumah tangga yang mempunyai tugas menjadi menteri keuangan dan manager pembelian dalam rumah tangga. Makanya emak di jaman milenial harus smart menyikapi segala perubahan terutama di bidang ekonomi. Dan yang paling penting, jangan kemakan hoax yang sering muncul dan berkembang pesat kayak jamur di musim penghujan.


Emak di era milenial harus cerdas dalam memilih bbm


Entah mulai kapan awalnya, sebutan jaman milenia atau era milenial cukup ngehits yang identik dengan jaman kekinian. Seiring semakin canggihnya tekhnologi, yang semua serba digital. Sebutan itu juga tidak lepas dari karakter manusia seperti anak milenial atau bahkan emak-emak milenial. Saya sempat mencari tahu, apa sih yang di maksud dengan karakter di era milenial itu?


Saya mengutip dari kamus Wikipedia kurang lebih begini, bahwa karakteristik dari anak milenial itu tidak ada yang sama. Biasanya berdasarkan wilayah dan kondisi ekonomi. Tapi generasi Mililenial umumnya ditandai dengan peningkatan penggunaan dan keakraban dengan komunikasi, media dan tekhnologi digital. Begitu juga sebutan untuk emak milenial. Di samping tugas utama sebagai ibu rumah tangga pada umumnya yaitu harus pintar mengatur keuangan dan ekonomi domestik keluarga. Emak di era milenial tidak boleh gaptek dan harus melek tekhnologi. 


Sebagai seorang ibu dan istri seperti lainnya, tentu saya juga peka banget dengan info kalau bbm mau naik. Nggak cuman kepala yang puyeng, darah tinggi juga udah mau kambuh aja nih. Tapi sebagai 'emak milenial' yang tidak gaptek media sosial, tentunya saya juga harus mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang alasan kenapa pemerintah mempunyai keputusan tersebut. 


Sekali lagi, sebagai emak milenial tentunya saya juga harus bisa mencari informasi dengan mencari perbandingan untuk bbm yang lebih murah tapi tetap berkualitas. Apalagi jauh-jauh hari juga sudah ada berita yang mengatakan kelangkaan bahan bakar premium. 


Emak-emak milenial harus tangguh dan cerdas


Sebenarnya hampir semua motor di rumah sudah lama menggunakan Pertalite, dengan berbagai pertimbangan : 


1. Kualitas Pertalite tidak kalah dengan Premium maupun Pertamax. Karena sejak tahun 2014 dalam upaya mengurangi BBM kendaraan bersubsidi, pemerintah mulai membatasi penjualan premium. Kadang memang seperti langka. Dan sekarang di ganti dengan Pertalite.


2. Harga lebih murah daripada Premium maupun Pertamax. Ini nih yang masuk perhitungan dari emak-emak yang cerdas. Harga di bawah tapi kualitas tidak kalah. 


3. Ramah lingkungan dan lebih bersih.


Nah, cocok kan pilihan kita? Terutama di poin ke 3 yaitu ramah lingkungan. Karena sebagai anggota aktifis lingkungan, sayapun tergerak untuk turut menjaga kelestarian bumi Indonesia tercinta ini. Disamping itu saya juga mengamati beberapa keunggulan dari Pertalite yaitu  tidak ada kandungan timbal serta memiliki kandungan sulfur maksimal 0.05 persen m/m atau setara dengan 500 ppm, warnanya hijau dengan penampian visual jernih dan terang.


Semua bbm produk dari Pertamina adalah yang terbaik. Tapi kita memang harus pintar-pintar memilih mana yang tepat buat kendaraan kita dan mana yang cocok dengan dompet kita. Anak-anakpun tidak pakai protes ketika mamanya mulai menginstruksikan untuk menggunakan Pertalite untuk kendaraan mereka. Karena jatah uang saku tidak bakal berkurang meski ada kenaikan harga bbm. 


Jadi kesimpulannya, sebagai menteri keuangan di dalam rumah kita. Ibu haruslah pintar dalam  mengatur keuangan tanpa harus dilanda rasa takut ketika ada kenaikan harga. Bumi tidak akan berhenti berputar. Jam tidak akan berhenti berdetak. Kitapun tidak akan mati ketika mendengar bbm naik. Saya juga tetap akan naik motor dengan hepi, karena meski bbm naik tapi saya tetap harus bekerja dan beraktifitas dengan menggunakan sepeda motor. 


Salam bbm :)


Artikel ini diikutkan dalam ajang AJP 2018 yang digelar oleh @Pertamina untuk Kategori Citizen Journalizm 



No comments:

Post a Comment