Wednesday, November 22, 2017

Hari Jamban Sedunia 2017, Sebuah Harapan Adanya Perubahan

Bu Reni mengambil air di sumur umum kalau musim kemarau (dokumen pribadi)


Pernahkah kalian mendengar Hari Jamban Sedunia? Pernahkah kalian tahu, bahwa masih banyak saudara kita yang belum memiliki toilet sendiri. Sehingga harus menempuh jarak yang cukup jauh berkilo-kilo meter untuk bisa sekedar buang hajat. 


Percaya nggak percaya kan? 


Ini Indonesia looooo mas bro mbak bro. Yang katanya sudah 72 tahun merdeka. Yang katanya negeri subur, makmur, sentausa, gemah ripah loh jinawi. Eh terus apa hubungannya ya? Tentu saja ada dong! Dengan kemerdekaan yang kita raih serta kekayaan alam yang berlimpah, Indonesia seharusnya sudah termasuk negara yang bermartabat. Dimana segala sesuatunya bisa di ukur dari hari yang sepele seperti kesejahteraan rakyat untuk memiliki jamban dan sanitasi yang memadai. 


Sudah belum ya? Ada beberapa contoh cerita di bawah ini, semoga bisa menjadi masukan dan membuka mata kita. Bahwa ternyata masih banyak saudara kita yang tidak seberuntung kita. Terutama yang tinggal di daerah perkotaan.


Bu Reni harus menempuh jarak sejauh 1 kilometer dari rumahnya kalau mau mengambil air bersih untuk masak, minum bahkan mandi. Dusun yang dia tinggali termasuk kawasan kekurangan air, terutama ketika musim kemarau. Air menjadi sangat susah. Kondisi ini sudah berlangsung sejak puluhan tahun lalu. Bahkan menurut pengakuannya, kondisi seperti ini sudah ada sejak dulu ketika dia masih kecil.


Masyarakat setempat harus berjuang untuk mendapatkan air dengan cukup susah payah, karena di dusun mereka tidak ada sumur. Karena dari 90 Kepala Keluarga hanya ada 15 orang yang memiliki sumur. Mereka harus mencari air ke sumur terbuka yang letaknya di tengah hutan yang jaraknya cukup jauh dengan berjalan kaki karena jalannya tidak memungkinkan untuk dilewati kendaraan roda dua sekalipun. Melewati sawah, kebun dan hutan sambil membawa jerigen, ember bahkan gentong yang terbuat dari tanah untuk mengangkut air. 


Saya mencoba mengambil air dari sumur umum warga desa balong (dokumen pribadi)

Sumur umum tersebut hanya berupa bak beton penampung air dan tidak ada pompanya. Jadi kalau ingin mengambil air, harus menimba. Tidak ada penutup apapun baik mulut sumur itu maupun tembok sekeliling. Jika mau mandi atau cebok, akan jelas terlihat secara bebas dari sudut manapun. Makanya warga sering mengenakan pakaian sekedarnya apabila akan beraktifitas mandi. Kondisi ini, menurut bu Reni sudah menjadi kebiasaan dan hal yang lumrah. Warga mandi dan beraktifitas lainnya di sumur tanpa dinding penutup itu.


Sanitasi air bersih yang sudah terpasang di rumah bu Reni (dok.pri)

Tapi sekarang bu Reni yang warga dusun Balong desa Turi RT 13 RW 03 kecamatan Tambakrejo Bojonegoro itu tidak perlu antri dan menginap semalaman di hutan untuk mendapatkan air. Karena berkat bantuan kredit dari Komida dan water.org, di rumahnya sudah terpasang saluran air yang tidak hanya bisa dinikmati keluarganya tapi juga tetangga sekitarnya. Ya, dia tidak akan menolak kalau tetangganya akan mengambil air bersih di rumahnya. Di samping memang begitulah sifat tepo sliro penduduk desa yang sudah tertanam sejak dulu, tapi juga karena masih banyak tetangganya yang hidup di bawah garis kemiskinan (kurang mampu).


Apa itu Komida yang kepanjangan dari Koperasi Mitra Dhuafa? Apa itu water.org? Akan saya jelaskan di artikel tersendiri ya. 


Letak dusun Balong sekitar 30 kilometer dari pusat Kabupaten Bojonegoro, dengan waktu tempuh sekitar lebih dari 2 jam. Medan cukup sulit dengan kontur tanah berbatu kapur dan berlumpur apalagi kalau lagi musim hujan. Membuat perjalanan membutuhkan waktu yang lebih lama karena harus hati-hati dengan jalanan yang sangat licin. 


Tanah menjadi licin dan becek kalau habis hujan (dokumen pribadi)

Pengalaman yang hampir sama dengan bu Reni juga dialami oleh ibu Supeni yang sudah 2 tahun ini memiliki WC berkat pinjaman dari Komida. Warga RT 19 RW 04 Dusun Kedung Ngingas Desa Kolong Kecamatan Ngasem Bojonegoro tersebut mengaku bahwa sebenarnya ada program pemerintah untuk pengadaan jamban. Tapi bantuannya terlalu sedikit dengan prosedur yang tidak mudah. Tapi kalau kredit dari Komida tidak membutuhkan anggunan, prosedur mudah dan pembayaran sangat ringan.



Dulu dia dan keluarga juga warga desa yang lain sudah terbiasa buang hajat di belakang rumah atau di hutan. Kalau di belakang rumah, dengan membuat lubang (jumbleng) yang nantinya akan di tutup kalau sudah penuh. Kemudian akan berpindah tempat untuk membuat lubang jumbleng yang baru. Begitu seterusnya. Tapi ketika anak perempuannya makin dewasa, dia merasa sangat membutuhkan fasilitas buang air yang lebih aman dan nyaman. Cita-citanyapun tercapai untuk memiliki jamban yang memadai berkat kucuran kredit dari Komida yang bekerja sama dengan water.org.


Sumur tempat bu Supeni mengambil air sekaligus tempat mandi umum (dokumen twitter @kjpl_indonesia)


Ketika di tanya oleh awak media, apa yang dia inginkan setelah pinjamannya lunas. Jawaban bu Supeni adalah sanitasi air bersih. Supaya dia dan keluarga tidak harus berjalan jauh, bahkan mengantri berjam-jam untuk mengambil air buat masak dan minum.


Foto bersama team water.org, Komida dan blogger serta media di depan rumah bu Supeni baju maroon (dokumentasi milik mbak Reni)

Bu Reni dan bu Supeni adalah 2 dari segelintir orang yang baru bisa menikmati fasilitas sanitasi yang di dapat secara kredit dari Komida. Sebenarnya masih banyak warga di Bojonegoro yang belum memiliki sanitasi sehat dan kecukupan untuk kebutuhan akses air bersih, khususnya di waktu musim kemarau. Gambaran betapa susahnya mendapatkan air sangat tergambar jelas pada kisah bu Reni dan bu Supeni. Yang tinggal di dusun berbeda di Kabupaten Bojonegoro. 


Saya sangat beruntung sekali bisa berkesempatan mengunjungi mereka bertepatan memperingati Hari Jamban Sedunia yang jatuh pada tanggal 19 Nopember 2017 lalu. Atas ajakan water.org yaitu sebuah organisasi non-profit yang peduli terhadap lingkungan, akses air bersih dan sanitasi. Juga turut serta dalam kegiatan tersebut adalah lembaga keuangan mikro (LKM) untuk pembiayaan pinjaman sanitasi yaitu Komida. Bersama beberapa awak media dari Bojonegoro, Surabaya, Tuban dan Malang untuk melihat langsung masyarakatnya yang masih BABs atau buang air besar sembarangan. 


Lokasi sumur umum sangat jauh dari pemukiman dan di tengah hutan (dok.pri)

Masalah air ini memang masalah lama, bahkan dari bertahun-tahun yang lalu. Pe er yang belum bisa dituntaskan tidak hanya pemerintah tapi juga masing-masing individu yang berkepentingan. Di samping pemahaman yang kurang, keterbatasan ekonomi adalah salah satu yang menghambat masyarakat Jawa Timur untuk memiliki sanitasi termasuk jamban. Bahkan masyarakat Kabupaten Bojonegoro yang wilayahnya dikenal kaya akan minyak dan gas, ternyata masih banyak penduduknya yang belum memiliki jamban akibat kendala keuangan serta kesulitan ekonomi.


Tapi untunglah saat ini ada lembaga keuangan mikro (LKM) yang memberikan pinjaman lunak untuk akses air bersih dan sanitasi, yaitu salah satunya adalah Koperasi Mitra Dhuafa (Komida). Mereka memberikan pinjaman untuk pembangunan jamban atau akses air bersih, dengan angka maksimal Rp 6,5 juta. Angsuran dicicil setiap minggu, disesuaikan dengan kemampuan anggota. 


Bapak Sugeng dari Komida sedang presentasi (dokumentasi : mbak Imelda)


Menurut Direktur Operasional Koperasi Mitra Dhuafa (Komida) Sugeng Riyono pada awak media, pihaknya fokus menggarap sektor sanitasi masyarakat miskin karena tidak ada lembaga keuangan besar yang mau menggarapnya. Sudah 3 tahun Komida membantu pembiayaan masyarakat miskin dari sisi kesehatannya dan cukup berhasil. Pihaknya sudah merambah di sekitar 400 kabupaten dan kota di 11 provinsi. Sudah ratusan ribu penerima manfaat pinjaman untuk sanitasi dan air bersih ini.  


Mbak Fay dari water.org (dokumen pribadi)

Sementara itu Andi Musfarayani yang akrab di panggil Fay - Advocacy Manager water.org mengatakan bahwa pihaknya tidak memberikan sanitasi atau jamban secara cuma-cuma. Tapi pihaknya akan selalu berupaya mendampingi Komida untuk terus mensosialisasikan pentingnya sanitasi dan ketersediaan air bersih bagi kesejahteraan warga. Memang ada alasan tersendiri kenapa tidak memberikannya secara gratis, yaitu untuk menumbuhkan rasa tanggungjawab. Jika ada effort lebih, maka warga akan benar-benar merawat kamar mandi atau jamban yang sudah dimilikinya tersebut. 


Selamat merayakan Hari Jamban Sedunia 2017. 

6 comments:

  1. Happy international toilet dayyy!
    Semoga postingan ini bisa mencerahkan banyak pihak ya mbaaa
    --bukanbocahbiasa(dot)com--

    ReplyDelete
  2. Kalau hari Jamban sedunia baru tau ini mbak . Tapi kalau sebagian besar penduduk Indonesia masih banyak yang belum punya jamban tau pas jaman SMP atau SMA pas kemah di Grape Ngawi.
    Mereka ke kali waktu mau BAB maupun BAK.
    Pertanyaannya waktu sampeyan disana BAK atau mandinya dimana mbak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mbak yulia...jaman now aja masih banyak lo, yg blm terendus pemerintah...miris ya?

      Kalau bab ada yg bikin jumbleng atau lubang di belakang rumah...katanya kalau sudah penuh lalu di tutup dan bikin lubang baru. Kalau bak ya seperti bab di belakang rumah itu.

      Beberapa rumah sdh punya sanitasi air, bisa mandi di rumah. Kalau yang belum punya ya di tempat mandi umum itu mbak... Malah pemandangan orang mandi itu sudah biasa bagi mereka. Yang mandi gak malu lagi, dan yang ngelihat jg gak merasa aneh lo. Miris ya?

      Delete
  3. Dolan ning Bojonegoro nggak ngabari jauh hari sebelumnya hehehe....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sori mas didik....ndadak banget

      Undangan baru di kirim hari selasa, jumat sudah berangkat. Wes gak kepikir ngabari krn blm tahu tempatnya.

      Delete