Tuesday, May 9, 2017

Strategi Bappenas Dalam Menekan Gini Ratio Atau Kesenjangan Antara Si Kaya Dan Si Miskin

Foto milik : finance.detik.com


Berbicara tentang kesenjangan ekonomi itu memang sudah menjadi pe er pemerintah sejak jaman dulu. Dan itu bukanlah suatu persoalan yang sederhana. Karena pemerintahpun sudah berusaha sekuat tenaga untuk mencari jalan keluar. Namun belum sepenuhnya bisa diatasi.


Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2016 jumlah penduduk miskin tercatat mencapai 10,7% atau 27,7 juta jiwa dari total penduduk berdasarkan pernghitungan 2015 mencapai 255,18 juta jiwa. Sedangkan ketimpangan yang tergambar dari Gini Ratio sekarang ini masih ada pada level 0,397 atau sedikit di bawah batas yang di anggap mengkhawatirkan. Sesuai kesepakatan Internasional yaitu 0,40. 


Pengentasan kemiskinan menjadi prioritas nasional dan masuk dalam rencana kerja pemerintah dengan menyiapkan program beranggaran triliunan rupiah. Seperti yang dijelaskan oleh Menteri Perencanaan dan Pembangunan (PPN)/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro tentang program-program yang akan dijalankannya di bawah ini. 


Pertumbuhan dalam 2 tahun terakhir cuma sekitar 5% tapi Gini Ratio bisa turun dari 0,41 ke 0,397. Rasio gini turun dari 0,41 ke 0,397. Pengangguran dan kemiskinan turun. Artinya kalau kita pakai analisa tadi dengan 40% terendah 40% menengah dan 20% terkaya, di 2016 semua kelompok membaik, cuma tadi masalah kecepatan membaiknya itu.  


Kalau kita perhatikan dari 3 kelompok ini, yang 40% menengah kecepatannya incomenya paling tinggi sehingga dia bisa memperkecil gap antara 20% orang terkaya. Jadi bagan utama dari penurunan gini tadi, kan itu kok kelihatannya kecil ya. Itu karena yang baru membaik itu adalah 40% menengah dan 20% yang kaya dan itu kelihatan kalau kita lihat porsinya, itu yang 40% menengah naik 20% turun. Sehingga kesenjangan mengecil. Tapi yang 40% terendah praktis tidak mengalami perubahan. Artinya porsi mereka tetap.  


Jadi ini kondisi sebelum 2016, 40% terendah 40% menengah dan 20% terkaya. Kemudian pada 2016 yang menengah naik cukup tinggi porsinya, yang 20% turun. Artinya mereka saling mengkompensasi, tapi yang di bawah tetap. Bahwa income mereka membaik itu iya tapi itu akhirnya membuat penurunan rasio gini kita ada, tapi kecil. Kita ingin penurunan rasio gini lebih besar. 


Caranya gimana, harus 40% terendah ini diintervensi lebih serius lagi supaya porsi mereka naik sehingga mereka bisa memperkecil kesenjangan baik dengan yang menengah maupun dengan yang kaya. Saya percaya kalau 40% terendah itu diurusin istilahnya, menjadi fokus utama maka penurunan gini lebih cepat.


No comments:

Post a Comment