Friday, March 25, 2016

Part 1 : Kenangan Manis Bersama Abang Gojek


Dokumentasi pribadi

Sebenarnya pengalaman saya ini terjadi sekitar bulan Desember tahun 2015 yang lalu. Mudah-mudahan cukup tepat kalau saya ceritakan sekarang, di tengah kontroversi yang bermunculan akhir-akhir ini terhadap keberadaan transportasi berbasis online itu. Dan beberapa tahun setelah kehadirannya di dunia transportasi, ya baru kemarin itu pertama kali saya merasakan naik transportasi umum yang bernama GOJEK.


Waktu itu saya sedang di rumah kakak di daerah Cakung Jakarta Timur. Jam sudah menunjukkan pukul 20.00 WIB, padahal saya harus segera meluncur ke hotel Grand Sahid Jaya di daerah Sudirman Jakarta Pusat. Di samping tidak ada yang mengantarkan, kakak saya bilang kalau rute ke sana adalah jalan yang super macet di Jakarta. Tapi kemudian keponakan saya yang mahasiswi memberi saran untuk memesan gojek saja. Karena dia sendiri sudah sering menggunakan jasa gojek supaya tidak terlambat datang ke kampus dan cukup aman. Akhirnya saya berfikir, kenapa tidak di coba saja. Meskipun sebelumnya saya tidak pernah menggunakan jasa gojek. Kemudian sama keponakan dipesankan lewat aplikasi punya dia. 


Hanya 10 menit dari waktu pemesanan, abang gojek sudah berada di depan pintu pagar. Saya pun langsung mendatangi dia sambil membawa barang-barang yang cukup banyak. Terdiri dari 1 travel bag, 1 kardus dan 2 tas jinjing. Awalnya si abang bingung juga melihat barang bawaan saya yang seabreg-abreg hahahaha... Untunglah dia memakai sepeda motor matic. Kemudian dia menata barang-barang saya, dengan menaruk kardus di bawah setir dan diatasnya tas jinjing 2 buah. Terus travel bagnya? Kata si abang itu travel bagnya saya pangku aja. Omaigot.... Bukan masalah ketika saya harus memangku travel bag itu. Tapi saya nggak tega melihat si abang gojek itu duduknya jadi agak maju karena punggungnya terganjal travel bag saya..... hiks :(


Mulailah perjalanan dari Pulo Gebang Cakung Jakarta Timur menuju jalan Sudirman Jakarta Pusat. Jalanan yang kami lalui memang masih cukup ramai. Tapi sempat ada rasa sedikit was-was dan kepikiran.....eh jangan-jangan entar di bawa kemana-mana nih sama si abang gojek ini. Wajar dong...di samping baru pertama naik gojek, di Jakarta pula. Cerita-cerita yang serem sudah bermunculan di pikiran saya waktu itu.


Akhirnya untuk menghindari rasa takut itu, saya coba berakrab-akrab dengan mengajak ngobrol si abang gojek yang ternyata bernama Wiryawan. Dia masih kuliah (dan saya lupa nanya kuliahnya dimana), ngojek ini dikerjakan pada waktu malam setelah usai kuliah. Sudah hampir setahun dijalaninya. Di samping itu, dia juga harus membiayai adiknya yang hanya seorang dan duduk di kelas 3 SMP. Ayahnya sudah lama meninggal, sedang ibunya tukang cuci baju tetangga. Ya Alloh, hati saya jadi terharu dan merasa bersalah dengan perasaan penuh curiga di awal tadi.


Dalam hati saya sempat memuji dan berdoa, semoga pencipta aplikasi gojek yaitu Nadiem Makarim mendapat berkah serta rizki yang berlimpah selama-lamanya. Karena berkat dia lewat aplikasi gojek tersebut, banyak pengangguran yang mendapat pekerjaan. Mahasiswa yang pengen mandiri bisa mencari penghasilan. Terutama konsumen yang sebagian besar dari kota besar, pasti membutuhkan transportasi yang cepat dan ekonomis. Maksudnya adalah terjangkau dan bisa di negosiasikan di awal transaksi.


Kembali ke abang gojek yang saya tumpangi. Kemudian iseng-iseng saya tanyakan tarif gojek yang harus saya bayar nanti. Jawaban dia cukup mengejutkan. "Lima belas ribu, bu". Hah.....saya pun spontan merespon begitu, karena tadi saya pikir ongkosnya antara 40-50 ribuan. Hampir setengah tidak percaya mendengarnya. Karena perjalanan itupun memakan waktu sekitar kurang lebih 2 jaman. Jangan di tanya deh, gimana rasa paha saya menahan travel bag yang beratnya hampir 10 kiloan. Terus gimana si abang gojeknya ya, yang harus menyetir sambil duduk agak maju karena punggungnya kena tas saya.... Ya ampun, maafkan daku ya bang :(


Beberapa kali si abang gojek harus menanyakan rute kepada teman sesama gojek yang dijumpainya di jalan. Itupun dia meminta izin ke saya dengan nada yang halus dan sopan. Supaya saya tidak merasa terganggu kalau dia beberapa kali harus berhenti. Padahal gedung Grand Sahid Jaya Hotel tempat tujuan saya sudah kelihatan dari jauh. Tapi untuk mencapai tempat itu, masih harus beberapa kali muterin jalan. Dan si abang tidak mengomel ataupun mengeluh...


Akhirnya sampailah saya di depan hotel tempat saya menginap dan tujuan akhir malam itu. Tanpa pikir panjang, saya sodorkan uang 30 ribu rupiah ke abang gojek bernama Wiryawan itu (hiks.....bukan pamer lo). 

"Maaf, terlalu banyak, bu." jawaban dia spontan, dan cukup mengagetkan saya.
"Nggak papa bang. Itu ucapan terima kasih saya sudah diantarakan di sini dengan lancar dan selamat." jawab saya setengah memaksa untuk dia segera menerima uang saya itu.
"Itukan tugas saya bu, karena saya juga masih dapat dari kantor." Eh dia masih ngeyel nggak mau terima.
"Terima aja bang. Kasihkan ke adik atau ke ibumu juga gakpapa." Saya sodorkan uang itu lebih dekat kedadanya. Akhirnyapun dia terima sambil mengucapakan terima kasih beberapa kali.


Karena gojek berhenti di luar halaman hotel dan jaraknya lumayan jauh, si abang gojek tersebut membantu saya membawakan tas-tas bawaan hingga sampai lobby hotel. Sempat dia di tegur petugas security hotel karena memarkir sepeda motornya bukan di tempat yang semestinya. Tapi untung tidak lama, dan security tersebut memakhlumi.


Itulah sekilas pengalaman saya dengan abang Gojek bernama Wiryawan. Terus kesimpulannya apa dong?


Ya tidak ada. Saya hanya menceritakan pengalaman ketika pertama kali menggunakan jasa gojek sewaktu di Jakarta, Dari cerita saya di atas pasti teman-teman sudah bisa mengambil kesimpulan sendiri-sendiri. Karena pendapat dan pandangan tiap orang berbeda. Dan kita harus menghormatinya.  Begitu juga ketika transportasi online ini banyak di protes karena di anggap mengancam rejeki bagi pelaku transportasi konvensional yang sudah lebih dulu ada. Hanya satu pertanyaan yang muncul di benak saya :


"Memangnya kalau transportasi online di tutup, akan menjamin konsumen kembali sepenuhnya berpindah menggunakan transportasi konvensional?"


 



No comments:

Post a Comment