Monday, December 21, 2015

Cinta Ibu adalah cinta yang tak tergadaikan


Seperti biasa, setiap pagi kami selalu bertemu di depan rumah. Karena kebetulan rumah kami berhadapan. Saya menyapu daun-daun kering yang berserakan di luar pagar. Sedang dia setiap pagi selalu memanasi motor niaga roda 3 yang biasa di pakai jualan setiap harinya.

Tapi pagi ini tidak seperti biasanya. Saya hanya mendengar suara motor itu cuma sebentar. Sudah selesai merampungkan pekerjaan. Ketika hendak masuk ke dalam rumah, saya melihat dia mengutak-atik mesin motornya dengan serius sambil berjongkok. Karena penasaran, saya dekatilah dia.

“Kenapa motormu, Sus?” tanya saya sembari ikut berjongkok di sampingnya. Orang yang saya panggil Susy itu tengah berjibaku di antara peralatan motor yang berserakan. Nampaknya dia cukup menguasai mesin motor tersebut, melihat keseriusannya dalam mengutak-atik bagian mesin yang nampaknya sumber masalah.

“Emboh mbak, tadi tiba-tiba kok mati pas tak panasi. Kayake businya kotor.” jawab dia tanpa menoleh sedikitpun. 

Saya hanya menimpali dengan ucapan "oohh..." saja. Kemudian pamit kembali ke rumah, karena khawatir mengganggu pekerjaannya.

***


Namanya Susy. Sudah hampir 10 bulan terakhir ini berjualan kue-kue kering dengan berkeliling di sekitar perumahan menggunakan motor  niaga yang berroda 3. Sebenarnya terlihat sangat kontras sekali. Motor yang begitu besar itu dikendarai seorang perempuan yang perawakannya sedang, bahkan cenderung kurus.

Dia memulai kerja pagi-pagi sekali, sekalian mengantarkan anak bungsunya sekolah. Anaknya itupun duduk terhimpit di antara kue-kue kering. Selanjutnya dia menjajakan dagangan di sekitar perumahan sampai siang. Sekalian menjemput anaknya pulang sekolah. Kemudian pulang ke rumah, karena harus mempersiapkan kebutuhan suaminya yang sedang sakit. Seperti masak untuk makan siang dan meminumkan obat yang harus rutin dikonsumsi. Sekitar jam 2 dia kembali keliling berjualan, sampai menjelang maghrib baru kembali ke rumah. Begitulah aktifitasnya setiap hari selama seminggu penuh. Termasuk hari minggu. Dimana hari yang seharusnya bisa di pakai untuk beristirahat dan bercengkerama dengan keluarga, tidak ada dalam kamus hidup Susy sekarang.

Perempuan tegar itu memang harus bekerja keras untuk menghidupi suami dan ke 3 anaknya. Dikarenakan kondisi suaminya yang sudah 2 tahun ini terserang penyakit jantung dan stroke, sehingga tidak mampu untuk bekerja dengan normal. Padahal anak-anaknya harus sekolah. Belum tuntutan kebutuhan sehari-hari untuk kelangsungan hidup mereka. Termasuk kontrol ke dokter dan membeli obat untuk suaminya. Tentunya semua itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit.

Dulu Susy dan suaminya termasuk pelaku usaha yang sukses. Meskipun hanya berdagang di pasar, tapi mereka mempunyai 3 buah toko yang dikontrakkan. Sedang 1 toko untuk berjualan sendiri yaitu menjual bahan kebutuhan pokok seperti beras, minyak, sabun, gula, kecap dan lain-lainnya. Darah dagang dan keturunan pebisnis memang kental turun dari orang tua baik dari pihak Susy yang keturunan Madura dan suaminya yang keturunan Tionghoa.

Tapi semua itu berubah 360 derajat beberapa tahun yang lalu ketika tiba-tiba suaminya terkena serangan jantung dan stroke. Sebagai tetangga sayapun cukup terkejut karena sebelumnya tidak pernah mendengar suami Susy mempunyai sakit berat bahkan sampai kena stroke.

Cerita selanjutnya lebih mengejutkan. Ternyata kondisi yang memprihatinkan itu tidak hanya berhubungan dengan kesehatan suami Susy. Usaha mereka pun sudah beberapa tahun ini terpuruk. Bahkan bisa dikatakan bangkrut karena sekarang mereka sudah tidak mempunya apa-apa lagi. Toko-toko yang dulu dikontrakkan sudah ludes semua. Bahkan toko mereka yang menjadi penghidupan selama inipun turut terjual, untuk menutup hutang-hutang. Tinggal mobil satu-satunya yang dikorbankan untuk biaya rumah sakit suami Susy. Semua itu disebabkan persaingan bisnis dari sesama pedagang yang iri dan tidak suka melihat toko mereka lebih ramai. Apalagi konon kabarnya, jalan yang di tempuh lawan bisnis mereka dengan cara yang tidak masuk akal. Itu juga diutarakan Susy karena beberapa kali menjumpai hal-hal ghaib di toko mereka sebelum akhirnya di tutup karena harus berpindah pemilik. Selanjutnya suaminya sering sakit bahkan sampai suatu saat tidak bisa melakukan apa-apa selain tiduran saja di kamar selama berbulan-bulan. Otomatis Susy di tuntut untuk mencari nafkah demi kelangsungan hidup keluarganya. Apapun kerjaan dilakoninya yang penting halal. Dari membawa dagangan teman untuk di jual lagi, bikin kue yang dititipkan ke tukang sayur sampai buka warung lontong mie dan gorengan di depan rumahnya.

Susy tidak pernah patah semangat dengan keadaan ini. Dia mengerahkan segala kemampuan dan ketrampilannya seperti memasak dan membuat kue untuk menghidupi keluarganya. Walaupun masih jauh dari kata cukup, tapi dia selalu optimis serta menjalaninya dengan ikhlas dan sabar. Itu juga pemahaman yang dia tanamkan kepada ke 3 buah hatinya. Bahwa tidak selamanya roda itu ada di atas. Mereka juga harus siap untuk menerima keadaan ketika roda kehidupan itu ada di bawah.

***

Naluri seorang ibu telah memancarkan kekuatan dan energi yang luar biasa kepada Susy untuk menyelamatkan kondisi keluarganya. Begitu juga rasa cinta dan kasih sayang yang tulus telah memberikan semangat untuk melakukan sesuatu buat keluarga tercinta. Dia tidak malu atau minder meskipun dulu termasuk pengusaha yang sukses, sekarang harus memulai dari bawah lagi. Bahkan dia tidak menuntut suaminya atau bahkan berniat meninggalkannya. Karena dia memahami bahwa selama ini mereka sudah cukup kenyang menghadapi segala macam cobaan selama mengarungi biduk rumah tangga. Bahkan dulu lebih banyak suka dan bahagia daripada dukanya.

Susy adalah ibu yang menginspirasi. Dan dari pengalaman di atas dapatlah kita petik pelajaran berharga tentang sebuah pengorbanan seorang ibu untuk keluarga, suami dan anak-anaknya yang begitu luar biasa. Cinta ibu sangat tulus dan tidak akan tergadaikan oleh apapun.


Selamat Hari Ibu 2015 untuk semua perempuan hebat di Indonesia…




No comments:

Post a Comment