Friday, May 1, 2015

Jejak-jejak Marsinah


Marsinah, Tokoh Penggerak Buruh (Foto : Wikipedia)

Tanggal 1 Mei telah ditetapkan oleh pemerintah sebagai Hari Buruh Nasional. Tapi bayangan dalam benak hampir seluruh masyarakat Indonesia kalau mendengar “hari buruh” adalah demo, unjuk rasa, turun ke jalan, bikin macet dan diikuti kebrutalan yang selalu berakhir kerusuhan. Padahal kalau kita mengingat ke belakang pada 12 tahun yang lalu, dimana waktu itu demo buruh telah menorehkan banyak kisah pilu hingga lahirnya seorang “srikandi” buruh nasional. Srikandi itu bernama MARSINAH. Buruh pabrik di PT. Catur Putera Surya Sidoarjo. Kebetulan dia cukup aktif dalam aksi unjuk rasa para buruh pada waktu itu. Bahkan dia dengan terang-terangan memasang badan  mewakili teman-teman buruh yang merasa tertindas karena kesewenang-wenangan manajemen perusahaan. Sampai akhirnya, nyawapun dia korbankan. Tapi namanya dijadikan simbol keberanian dalam bersuara dan menyampaikan aspirasi rakyat kecil yang dinamakan buruh.

KRONOLOGI HILANGNYA MARSINAH

Awal tahun 1993, Gubernur KDH TK I Jawa Timur mengeluarkan surat edaran No. 50/Th. 1992 yang berisi himbauan kepada pengusaha agar menaikkan kesejahteraan karyawannya dengan memberikan kenaikan gaji sebesar 20% gaji pokok. Himbauan tersebut tentunya disambut dengan senang hati oleh para karyawan, namun di sisi pengusaha berarti beban pengeluaran perusahaan yang makin bertambah.

Pada pertengahan April 1993, Karyawan PT. Catur Putera Surya (PT. CPS) Porong membahas Surat Edaran tersebut dengan resah. Akhirnya, karyawan PT. CPS memutuskan untuk unjuk rasa tanggal 3 dan 4 Mei 1993 menuntut kenaikan upah dari Rp.1.700,-  menjadi Rp. 2.250,-.

Pada 3 Mei 1993, para buruh mencegah teman-temannya yang masih bekerja. Sedangkan Komando Rayon Militer (Koramil) setempat turun tangan mencegah supaya tidak terjadi aksi buruh.

Tanggal 4 Mei 1993, para buruh mogok total. Mereka mengajukan 12 tuntutan, termasuk perusahaan harus menaikkan upah pokok dari Rp. 1.700,- per hari menjadi Rp. 2.250,- per hari. Tunjangan tetap Rp. 550,- per hari mereka perjuangkan dan bisa diterima, termasuk oleh buruh yang absen.

Sampai dengan tanggal 5 Mei 1993, Marsinah masih aktif bersama rekan-rekannya dalam kegiatan unjuk rasa dan melakukan perundingan-perundingan. Marsinah menjadi salah seorang dari 15 orang perwakilan karyawan yang melakukan negosiasi dengan pihak perusahaan.

Siang hari tanggal 5 Mei 1993, tanpa Marsinah, 13 buruh yang dianggap menghasut unjuk rasa digiring ke Komando Distrik Militer (Kodim) Sidoarjo. Di tempat itu mereka dipaksa mengundurkan diri dari CPS. Mereka dituduh telah menggelar rapat gelap dan mencegah karyawan masuk kerja. Marsinah sempat mendatangi Kodim Sidoarjo untuk menanyakan keberadaan rekan-rekannya yang sebelumnya dipanggil pihak Kodim. Setelah itu, sekitar pukul 10 malam, Marsinah lenyap.

Mulai tanggal 6,7,8 Mei 1993 keberadaan Marsinah tidak diketahui oleh rekan-rekannya sampai akhirnya ditemukan telah menjadi mayat pada tanggal 8 Mei 1993.

SRIKANDI BURUH INDONESIA

Marsinah lahir di Nglundo, 10 April 1969.  Anak nomor dua dari tiga bersaudara pasangan Sumini dan Mastin. Sejak usia 3 tahun, Marsinah telah ditinggal mati oleh ibunya. Bayi Marsinah kemudian diasuh oleh neneknya - Pu’irah, yang tinggal bersama bibinya-Sini, di desa Nglundo, Nganjuk, Jawa Timur.

Pernah bersekolah di SD Karangasem 189, Kecamatan Gondang. Sedang pendidikan menengahnya di SMPN 5  Nganjuk. Ketika menjalani masa sekolah SMA, Marsinah mulai mandiri dengan mondok di kota Nganjuk. Selama menjadi murid SMA Muhammadiyah, ia dikenal sebagai siswa yang cerdas. Semangat belajarnya tinggi dan ia selalu mengukir prestasi dengan peringkat juara kelas. Jalan hidupnya menjadi lain, ketika ia terpaksa harus menerima kenyataan bahwa ia tidak punya cukup biaya untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Dia sangat berharap bisa kuliah di IKIP. Tapi karena tidak ada biaya, sehingga cita-cita itu masih terbatas angan-angan saja.

Selanjutnya dia mengirimkan sejumlah lamaran pekerjaan ke berbagai perusahaan di Surabaya, Mojokerto dan Gresik. Akhirnya diterima di pabrik sepatu BATA di Surabaya tahun 1989. Setahun kemudian ia pindah ke pabrik arloji Empat Putra Surya di Rungkut Industri. Sebelum akhirnya ia pindah mengikuti perusahaan tersebut yang membuka cabang di Siring, Porong, Sidoarjo. Marsinah adalah generasi pertama dari keluarganya yang menjadi buruh pabrik.

Kegagalan untuk meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi tidak membuat semangat belajarnya padam. Marsinah punya keyakinan bahwa pengetahuan itu mampu mengubah nasib seseorang, seperti diungkapkan oleh seorang teman dekatnya. Karena itu untuk menambah pengetahuan dan keterampilan, Marsinah mengikuti kursus komputer dan bahasa Inggris di Dian Institut, Sidoarjo. Kursus komputer dengan paket Lotus dan Word Processor sempat dirampungkan beberapa waktu sebelum ia meninggal. Semangat belajar yang tinggi juga tampak dari kebiasaannya menghimpun rupa-rupa informasi. Ia suka mendengarkan warta berita, baik lewat radio maupun televisi. Minat bacanya juga tinggi. Saking senangnya membaca, ia terpaksa memakai kacamata. Pada waktu-waktu luang, ia seringkali membuat kliping koran. Malahan untuk kegiatan yang satu ini ia bersedia menyisihkan sebagian penghasilannya untukmembeli koran dan majalah bekas, meskipun sebenarnya penghasilannya pas-pasan untuk menutup biaya hidup.

Dua sifatnya yaitu pemberani dan setia kawan, inilah yang membekalinya menjadi pelopor perjuangan. Pada pertengahan April 1993, para buruh PT. CPS (Catur Putra Surya) pabrik tempat kerja Marsinah.

Hingga ajal menjemputnya, Marsinah menyandang gelar Srikandi Buruh atau pahlawan bagi rekan-rekannya. Tidak hanya di kota Sidoarjo atau Jawa Timur. Tapi semangat dan keberaniannya mampu menginspirasi buruh seluruh Indonesia untuk bersatu dan menyuarakan aspirasi mereka.

BANGKITNYA KEBERANIAN

Marsinah sudah meninggal. Mayatnya ditemukan di gubuk petani dekat hutang Wilangan, Nganjuk tanggal 9 Mei 1993. Dengan sekujur tubuh penuh luka memar bekas pukulan benda keras dan kedua pergelangannya lecet-lecet, mungkin karena diseret dalam keadaan terikat. Tulang panggulnya hancur karena pukulan benda keras berkali-kali. Di sela-sela pahanya ada bercak-bercak darah, diduga karena penganiayaan dengan benda tumpul. Pada bagian yang sama menempel kain putih yang berlumuran darah. Mayatnya ditemukan dalam keadaan lemas, mengenaskan.

Marsinah adalah seorang buruh perempuan yang tidak ragu untuk kehilangan nyawanya demi keyakinannya tentang kebenaran. Seorang gadis desa lugu yang tidak canggung berdiri di barisan terdepan pengunjuk rasa. Sebuah keberanian untuk menggusur kepasrahan pada nasib. Marsinah adalah sosok perjuangan yang telah dihancurkan oleh sebuah ketakutan dan kecurigaan. Tapi kita tidak bisa mengingkari bahwa jiwanya tidak bisa dipenjara. Jiwanya akan membumbung tinggi untuk berubah menjadi lidah-lidah api yang akan menghanguskan segala bentuk ketidakadilan.

Semoga pengorbanan Marsinah tidak sia-sia. Dan para buruh bisa menempatkan posisi sebagai mitra bagi pengusaha. Sehingga tercapai kesepakatan serta keharmonisan bersama, tanpa harus diwarnai perpecahan dan kerusuhan.

Selamat Hari Buruh Nasional 01 Mei 2015

Sumber berita :

No comments:

Post a Comment