Thursday, May 21, 2015

Khilda Baiti Rohmah : Kartini Muda Yang Ingin Menciptakan Perubahan Lewat Sampah

143209183621998821
Khilda Baiti Rohmah
Perempuan yang menginspirasi saya kali ini mempunyai nama lengkap Khilda Baiti Rohmah. Kelahiran Bandung, 14 Juli 1988 yang merupakan pendiri dari Komunitas SAMPAHKOE. Terus terang saya tidak cukup mengenal beliau. Sejak aktif berkecimpung dalam mengelola Bank Sampah, saya banyak berkomunikasi dengan sesama penggiat komunitas di seputar wilayah Surabaya dan Jawa Timur saja. Sampai akhirnyapun saya memperbanyak referensi segala hal yang berhubungan dengan “persampahan” melalui internet. Suatu ketika saya membaca profile yang cukup menarik di salah satu website : http://indonesia-feature.blogspot.com. Kisah yang menarik, unik dan sangat berkesan. Terutama menggugah semangat saya yang merasa sudah cukup tua untuk melakukan sesuatu. Sehingga kemudian saya memberanikan diri untuk mencari tahu lebih jauh tentang beliau. Dari pencarian di google sampai kemudian saya menemukan fesbuknya, meminta pertemanan, chatting sebentar dan kemudian memberanikan diri untuk mengangkat cerita tentang seorang Khilda yang sejak muda sudah punya komitmen dan kepedulian cukup tinggi terhadap lingkungan.

Cerita di awali sekitar akhir tahun 2006, dimana Khilda bertemu seorang kakek pengangkut sampah. Kakek tersebut bercerita bahwa dia sudah menekuni pekerjaan sebagai pengangkut sampah sudah selama 35 tahun. Dengan penghasilan hanya 350 ribu setiap bulan, dia harus menghidupi keluarga dengan 8 orang anak. Yang kesemuanya tidak bisa mengenyam pendidikan karena tidak ada biaya. Dari sepenggal cerita itulah akhirnya Khilda mencari ide bagaimana membuat kegiatan untuk mengelola sampah tapi yang mampu meninggatkan pendapatan para pengangkut sampah tersebut.

Pada tahun 2007, Khilda masuk jurusan Teknik Lingkungan di Universitas Pasundan Bandung. Keputusannya untuk memilih jurusan itu juga tidak lepas dari kepeduliannya pada masalah lingkungan, khususnya sampah. Sejak itu dia mulai mencari tahu bagaimana cara mengelola sampah yang benar sekaligus memiliki nilai jual. Sedangkan ketertarikan dia pada sampah, ketika dia mengetahui bahwa ternyata ada 3 peran dalam pengelolaan sampah. Yaitu orang yang membuang sampah, orang yang mengelola sampah seperti pemerintah, dan orang yang menggantungkan hidup dari sampah. Dan peran yang ketiga inilah yang justru lebih sering dia temui setiap tempat.
Sebenarnya kepedulian perempuan yang lahir 27 tahun yang lalu itu terhadap persoalan lingkungan khususnya sampah, sudah sejak dia duduk di bangku SMA. Berasal dari keluarga yang sederhana, sebagai anak pertama dari 6 bersaudara itu sudah mandiri sejak SMP (waktu itu dia duduk di Tsanawiyah). Dengan membantu orangtuanya membiayai sekolah ke-5 adiknya, apapun pekerjaan dia coba. Mulai jadi loper koran, buruh percetakan, editor di perusahaan web sampai mengajar privat.

Setiap berkunjung ke satu daerah, Khilda tak jarang juga meminta berkunjung ke tempat pembuangan akhir sampah., karena di sanalah ia dapat belajar tentang sampah. Di sana, ia bisa bertemu dengan banyak orang yang menggantungkan hidupnya dari mengangkut dan mengambil barang-barang yang masih layak untuk dijual. Saat kuliah, Khilda pun aktif di dunia ‘persampahan’. Saat duduk di semester 1 dan 2, bersama teman-temannya ia berjualan Takakura (salah satu metode pengomposan). Ia juga magang menjadi fasilitator pengelolaan sampah di Cimahi saat duduk di semester 3, lalu di tahun ketiga kuliah, bersama teman-temannya meneliti pembuatan energi alternatif dari sampah. Ia juga membuat pelatihan pengelolaan sampah rumah tangga bagi dosen-dosen di Fakultas Teknik Unpas.

Sampai pada suatu ketika terbersit untuk mendirikan Komunitas SAMPAHKOE. Dimana sejak awal mendirikan komunitas tersebut, Khilda pun rela menyisihkan 30 persen pendapatan/gaji dari pekerjaannya untuk membiayai kegiatan pengelolaan sampah. Kegiatan komunitas ini berawal di Cimahi ketika ia membantu pengembangan tempat pengelolaan sampah terpadu, dilanjutkan di Sukabumi, bekerjasama dengan dinas kebersihan setempat membina 2 lokasi yaitu di Baros dan Cikundul. Setahun kemudian, program pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang ia rintis pun berkembang. Sampah itu ia olah menjadi kompos dan beberapa kerajinan, hingga akhirnya ia bisa meningkatkan gaji pengangkut sampah, dari semula Rp 350 ribu menjadi Rp 650 ribu per bulan. Belakangan, Khilda pun juga mendapatkan pesanan dari Brunei Darrusalam.

Sejak itu, Khilda mengembangkan komunitas pengelola sampah di Cimahi, Bandung, dan Sukabumi yang diberi nama Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST). Dari semua kegiatannya itu, akhirnya Khilda pun mendapat penghargaan pertama. Yaitu  Ashoka Young Change Award Tahun 2009 di bidang Water and Sanitation.
Pada awal tahun 2010, aktivitasnya di Sampahkoe di liput oleh sebuah media. Ketika artikel pertama tentang komunitas Sampahkoe terbit, seminggu kemudian Khilda dihubungi panitia dari Sampoerna yang mengabarkan bahwa artikel kegiatannya di Sukabumi menjadi salah satu pemenang Sampoerna Pejuang 9 Bintang. Khilda mengaku terkejut karena dia merasa tidak pernah mengikuti kompetisi tersebut. Ternyata wartawan yang meliput kegiatannya itulah yang memasukkan artikelnya ke lomba tersebut. Akhirnya, Khilda pun berhasil menjadi juara Pejuang Lokal Termuda di Bidang Manajemen Lingkungan. Artikelnya sendiri berhasil meraih juara ketiga Penulisan Artikel.

Hadiah yang diperoleh dari lomba tersebut, ia gunakan untuk membiayai kuliah sampai selesai dan sebagian lagi untuk pengembangan TPST. Ternyata,  kerja keras Khilda tak sia-sia. Beberapa tempat binaannya berhasil mendapatkan penghargaan P2WKSS (Peningkatan Peranan Wanita Menuju Keluarga Sehat dan Sejahtera) tingkat provinsi.
14320923881936216321
menjadi delegasi Indonesia di Asia Pasific Youth Conference di Seoul, Korea Selatan
14320924521126075976
ketika menerima penghargaan Tupperware She Can Award tahun 2012
Jadi total penghargaan yang di raih Khilda sejak dia berkecimpung dalam dunia “persampahan” adalah :
1. Ashoka Young Change Award Tahun 2009 di bidang Water and Sanitation
2. Sampoerna Pejuang 9 Bintang diselenggarakan Sampoerna awal tahun 2010
3. Mahasiswa Berprestasi Universitas Pasundan Bandung tahun 2011
4. Danamon Award 2011
5. Tupperware She Can Award tahun 2012
6. Srikandi Merah Putih dari Indosat tahun 2013
7. Perempuan Inspiratif NOVA 2014
8. Tahun 2013, ia juga terpilih menjadi delegasi Indonesia di Asia Pasific Youth Conference di Seoul, Korea Selatan, dan menjadi muslimah satu-satunya yang terpilih menghadiri konferensi tersebut.
14320922911542845420
sebagai Perempuan Inspiratif Nova 2014
Sedangkan kegiatan yang sedang digalakkan Khilda saat ini diantaranya adalah :
1. Tengah mengembangkan beberapa penelitian terkait potensi energi alternatif dari sampah.
2. Membuat beberapa mesin untuk pembuatan energi alternatif tersebut, meskipun masih skala kecil.
3. Mengembangkan program pengelolaan sanitasi terpadu.
1432092197486353804
Tidak pernah lelah berbagi ilmu dan informasi yang bermanfaat
Bersama beberapa teman-temannya, Khilda berusaha mengumpulkan dana untuk mengajukan permohonan hibah program ke berbagai pihak. Inovasi terbaru yang ia kembangkan bersama timnya adalah ‘minyak sampah’, yakni bahan bakar alternatif dari sampah kulit pisang. Awalnya, ia hanya ingin melakukan tugas penelitian untuk mata kuliah Bioteknologi Linkungan, namun saat itu tidak memiliki modal. Kebetulan Khilda juga sering mengikuti diskusi tentang pengelolaan sampah di Facebook. Dan, di sana ada salah satu pembaca yang tertarik dan mengajaknya untuk mengunjungi penangkaran monyet di mana terdapat banyak limbah kulit pisang. Akhirnya, ia diberikan modal untuk melakukan penelitian dan berhasil. Saat ini, di tempat penangkaran monyet tersebut sampah kulit pisang telah dikembangkan untuk pembuatan bioethanol atau energi alternatif.

Awalnya ketika Khilda menekuni dunia ‘persampahan’ ini, keluarganya sempat heran. Tapi setelah dia menjelasakan panjang lebar terkait program atau kegiatan yang dijalankannya, ahirnya keluarganya pun mendukung. Bahkan Khilda membagi ilmu tersebut kepada sang ayah yang berprofesi sebagai guru PLH. Dan saat ini, ayahnya juga sedang menulis buku pelajaran PLH untuk SD dan SMP. Kakak dari ibunya dia ajarkan membuat beberapa handycraft dari sampah. Khilda yang memiliki hobi membaca dan menulis ini pun sekarang juga sedang menggarap penulisan buku biografi tentang pengalaman hidupnya berpetualang dengan sampah.
14320920461643641451
Khilda dengan putri kecilnya, Khayla Almeera Maritza
Sekarang, Khilda tengah menikmati peran barunya sebagai seorang ibu dari seorang anak perempuan bernama Khayla Almeera Maritza. Selain kegiatan rutin mengelola komunitas SAMPAHKOE, dia juga harus membagi waktu untuk mengurus anak. Sebisa mungkin semua pekerjaannya dikerjakan di rumah. Atau kalau terpaksa dia harus keluar, putri kecilnyapun dia bawa. Beruntung, suaminya - Genta Yudaswara, selalu mendorong dan memberi motivasi untuk terus berkembang serta menyumbangkan ide-ide cara pengelolaan sampah.

Khilda mengaku, sebenarnya dia masih mempunyai banyak mimpi. Salah satunya adalah ingin membuat kampung sanitasi terpadu. Dengan mengembangkan potensi desa melalui pengelolaan sanitasinya, khususnya sampah. Ia juga ingin belajar mengelola sampah ke berbagai negara. Dia ingin mewujudkan mimpinya agar bisa seperti Kartini yang bisa menciptakan perubahan. Yang jelas, Indonesia masih membutuhkan banyak perempuan-perempuan seperti Khilda. Kepeduliannya terhadap sampah tidak hanya akan membantu kelangsungan hidup lingkungan kita, tapi juga masa depan generasi muda dari lingkungan yang makin tercemar.

Semoga kisah perjuangan Kartini muda dengan nama Khilda Baiti Rohmah ini mampu membangkitkan semangat dan inspirasi dari perempuan-perempuan Indonesia lainnya.

Monday, May 18, 2015

Kebahagiaan Dalam Bingkai Kebersamaan

suami selalu siap mengantarkan kapan saja (itu salah satu bentuk dukungan pada kegiatan saya) biasanya sekalian ajak anak-anak.
Hampir 15 tahun berkarir kemudian harus keluar dari pekerjaan yang sudah mapan dan menjanjikan, adalah satu hal yang membuat dilematis. Dengan 3 putra yang makin beranjak dewasa dan membutuhkan biaya tidak sedikit, tentunya seorang istri diharapkan bisa membantu menopang kebutuhan ekonomi keluarga. Tapi karena ada satu alasan yang sangat penting, akhirnya saya tidak mempunyai pilihan lain. Harus rela melepas karir yang cukup bagus dan gaji di atas rata-rata. Karena keluarga, terutama anak-anak sangat membutuhkan saya di samping mereka.

Suami rela mengantar dan menunggui (berbaju putih nomor 2 dari depan kanan) dan saya berbaju hitam ketika ada acara blogger di Malang sampai acara selesai.

Awalnya memang cukup sulit. Tapi suami selalu memberi semangat dan membebaskan saya mencari kegiatan yang bisa dikerjakan di rumah. Salah satunya adalah berwiraswasta dengan membuat asesoris yang kemudian saya jual secara online. Selanjutnya saya juga menekuni dunia tulis menulis atau yang dinamakan blogger. Semua kegiatan itu memang bisa saya kerjakan di rumah. Tapi ada kalanya saya juga harus keluar untuk membeli bahan asesoris atau mengikuti kegiatan blogger, yang waktunya bisa juga malam dan di luar kota. Dengan dukungan suami yang selalu memberi semangat dan kepercayaan, sehingga semua kegiatan itu bisa menghasilkan tambahan pendapatan untuk keluarga. Tidak segan-segan pula suami mau mengantarkan saya untuk berbelanja bahan asesoris atau keluar kota bila ada acara blogger. Kalau saya bisa berangkat sendiri, beliau yang gantian menjaga anak-anak di rumah. Sudah hampir 6 tahun kami saling mendukung dalam berkegiatan dan menjaga anak-anak secara bersama-sama dan gotong royong.





Friday, May 1, 2015

Jejak-jejak Marsinah


Marsinah, Tokoh Penggerak Buruh (Foto : Wikipedia)

Tanggal 1 Mei telah ditetapkan oleh pemerintah sebagai Hari Buruh Nasional. Tapi bayangan dalam benak hampir seluruh masyarakat Indonesia kalau mendengar “hari buruh” adalah demo, unjuk rasa, turun ke jalan, bikin macet dan diikuti kebrutalan yang selalu berakhir kerusuhan. Padahal kalau kita mengingat ke belakang pada 12 tahun yang lalu, dimana waktu itu demo buruh telah menorehkan banyak kisah pilu hingga lahirnya seorang “srikandi” buruh nasional. Srikandi itu bernama MARSINAH. Buruh pabrik di PT. Catur Putera Surya Sidoarjo. Kebetulan dia cukup aktif dalam aksi unjuk rasa para buruh pada waktu itu. Bahkan dia dengan terang-terangan memasang badan  mewakili teman-teman buruh yang merasa tertindas karena kesewenang-wenangan manajemen perusahaan. Sampai akhirnya, nyawapun dia korbankan. Tapi namanya dijadikan simbol keberanian dalam bersuara dan menyampaikan aspirasi rakyat kecil yang dinamakan buruh.

KRONOLOGI HILANGNYA MARSINAH

Awal tahun 1993, Gubernur KDH TK I Jawa Timur mengeluarkan surat edaran No. 50/Th. 1992 yang berisi himbauan kepada pengusaha agar menaikkan kesejahteraan karyawannya dengan memberikan kenaikan gaji sebesar 20% gaji pokok. Himbauan tersebut tentunya disambut dengan senang hati oleh para karyawan, namun di sisi pengusaha berarti beban pengeluaran perusahaan yang makin bertambah.

Pada pertengahan April 1993, Karyawan PT. Catur Putera Surya (PT. CPS) Porong membahas Surat Edaran tersebut dengan resah. Akhirnya, karyawan PT. CPS memutuskan untuk unjuk rasa tanggal 3 dan 4 Mei 1993 menuntut kenaikan upah dari Rp.1.700,-  menjadi Rp. 2.250,-.

Pada 3 Mei 1993, para buruh mencegah teman-temannya yang masih bekerja. Sedangkan Komando Rayon Militer (Koramil) setempat turun tangan mencegah supaya tidak terjadi aksi buruh.

Tanggal 4 Mei 1993, para buruh mogok total. Mereka mengajukan 12 tuntutan, termasuk perusahaan harus menaikkan upah pokok dari Rp. 1.700,- per hari menjadi Rp. 2.250,- per hari. Tunjangan tetap Rp. 550,- per hari mereka perjuangkan dan bisa diterima, termasuk oleh buruh yang absen.

Sampai dengan tanggal 5 Mei 1993, Marsinah masih aktif bersama rekan-rekannya dalam kegiatan unjuk rasa dan melakukan perundingan-perundingan. Marsinah menjadi salah seorang dari 15 orang perwakilan karyawan yang melakukan negosiasi dengan pihak perusahaan.

Siang hari tanggal 5 Mei 1993, tanpa Marsinah, 13 buruh yang dianggap menghasut unjuk rasa digiring ke Komando Distrik Militer (Kodim) Sidoarjo. Di tempat itu mereka dipaksa mengundurkan diri dari CPS. Mereka dituduh telah menggelar rapat gelap dan mencegah karyawan masuk kerja. Marsinah sempat mendatangi Kodim Sidoarjo untuk menanyakan keberadaan rekan-rekannya yang sebelumnya dipanggil pihak Kodim. Setelah itu, sekitar pukul 10 malam, Marsinah lenyap.

Mulai tanggal 6,7,8 Mei 1993 keberadaan Marsinah tidak diketahui oleh rekan-rekannya sampai akhirnya ditemukan telah menjadi mayat pada tanggal 8 Mei 1993.

SRIKANDI BURUH INDONESIA

Marsinah lahir di Nglundo, 10 April 1969.  Anak nomor dua dari tiga bersaudara pasangan Sumini dan Mastin. Sejak usia 3 tahun, Marsinah telah ditinggal mati oleh ibunya. Bayi Marsinah kemudian diasuh oleh neneknya - Pu’irah, yang tinggal bersama bibinya-Sini, di desa Nglundo, Nganjuk, Jawa Timur.

Pernah bersekolah di SD Karangasem 189, Kecamatan Gondang. Sedang pendidikan menengahnya di SMPN 5  Nganjuk. Ketika menjalani masa sekolah SMA, Marsinah mulai mandiri dengan mondok di kota Nganjuk. Selama menjadi murid SMA Muhammadiyah, ia dikenal sebagai siswa yang cerdas. Semangat belajarnya tinggi dan ia selalu mengukir prestasi dengan peringkat juara kelas. Jalan hidupnya menjadi lain, ketika ia terpaksa harus menerima kenyataan bahwa ia tidak punya cukup biaya untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Dia sangat berharap bisa kuliah di IKIP. Tapi karena tidak ada biaya, sehingga cita-cita itu masih terbatas angan-angan saja.

Selanjutnya dia mengirimkan sejumlah lamaran pekerjaan ke berbagai perusahaan di Surabaya, Mojokerto dan Gresik. Akhirnya diterima di pabrik sepatu BATA di Surabaya tahun 1989. Setahun kemudian ia pindah ke pabrik arloji Empat Putra Surya di Rungkut Industri. Sebelum akhirnya ia pindah mengikuti perusahaan tersebut yang membuka cabang di Siring, Porong, Sidoarjo. Marsinah adalah generasi pertama dari keluarganya yang menjadi buruh pabrik.

Kegagalan untuk meneruskan pendidikan ke perguruan tinggi tidak membuat semangat belajarnya padam. Marsinah punya keyakinan bahwa pengetahuan itu mampu mengubah nasib seseorang, seperti diungkapkan oleh seorang teman dekatnya. Karena itu untuk menambah pengetahuan dan keterampilan, Marsinah mengikuti kursus komputer dan bahasa Inggris di Dian Institut, Sidoarjo. Kursus komputer dengan paket Lotus dan Word Processor sempat dirampungkan beberapa waktu sebelum ia meninggal. Semangat belajar yang tinggi juga tampak dari kebiasaannya menghimpun rupa-rupa informasi. Ia suka mendengarkan warta berita, baik lewat radio maupun televisi. Minat bacanya juga tinggi. Saking senangnya membaca, ia terpaksa memakai kacamata. Pada waktu-waktu luang, ia seringkali membuat kliping koran. Malahan untuk kegiatan yang satu ini ia bersedia menyisihkan sebagian penghasilannya untukmembeli koran dan majalah bekas, meskipun sebenarnya penghasilannya pas-pasan untuk menutup biaya hidup.

Dua sifatnya yaitu pemberani dan setia kawan, inilah yang membekalinya menjadi pelopor perjuangan. Pada pertengahan April 1993, para buruh PT. CPS (Catur Putra Surya) pabrik tempat kerja Marsinah.

Hingga ajal menjemputnya, Marsinah menyandang gelar Srikandi Buruh atau pahlawan bagi rekan-rekannya. Tidak hanya di kota Sidoarjo atau Jawa Timur. Tapi semangat dan keberaniannya mampu menginspirasi buruh seluruh Indonesia untuk bersatu dan menyuarakan aspirasi mereka.

BANGKITNYA KEBERANIAN

Marsinah sudah meninggal. Mayatnya ditemukan di gubuk petani dekat hutang Wilangan, Nganjuk tanggal 9 Mei 1993. Dengan sekujur tubuh penuh luka memar bekas pukulan benda keras dan kedua pergelangannya lecet-lecet, mungkin karena diseret dalam keadaan terikat. Tulang panggulnya hancur karena pukulan benda keras berkali-kali. Di sela-sela pahanya ada bercak-bercak darah, diduga karena penganiayaan dengan benda tumpul. Pada bagian yang sama menempel kain putih yang berlumuran darah. Mayatnya ditemukan dalam keadaan lemas, mengenaskan.

Marsinah adalah seorang buruh perempuan yang tidak ragu untuk kehilangan nyawanya demi keyakinannya tentang kebenaran. Seorang gadis desa lugu yang tidak canggung berdiri di barisan terdepan pengunjuk rasa. Sebuah keberanian untuk menggusur kepasrahan pada nasib. Marsinah adalah sosok perjuangan yang telah dihancurkan oleh sebuah ketakutan dan kecurigaan. Tapi kita tidak bisa mengingkari bahwa jiwanya tidak bisa dipenjara. Jiwanya akan membumbung tinggi untuk berubah menjadi lidah-lidah api yang akan menghanguskan segala bentuk ketidakadilan.

Semoga pengorbanan Marsinah tidak sia-sia. Dan para buruh bisa menempatkan posisi sebagai mitra bagi pengusaha. Sehingga tercapai kesepakatan serta keharmonisan bersama, tanpa harus diwarnai perpecahan dan kerusuhan.

Selamat Hari Buruh Nasional 01 Mei 2015

Sumber berita :