Sunday, April 26, 2015

#BeraniLebih Dalam Mengambil Keputusan

Kejadian itu sudah lama. Hampir 6 tahun yang lalu. Tapi sampai saat ini saya masih sering merasa tidak percaya telah berani mengambil satu keputusan yang cukup besar waktu itu. Bagaimana tidak. Ketika saya dalam puncak karir dengan jabatan yang cukup bagus dan gaji di atas rata-rata,  tiba-tiba mendapat satu masalah yang cukup pelik. Saya dihadapkan 2 pilihan yaitu memilih untuk tetap meneruskan karir tapi anak-anak telantar atau berhenti bekerja dengan resiko tidak akan mendapatkan pemasukan lagi. Padahal saya bekerja dari sebelum menikah sampai dikaruniai 3 putra, kurang lebih selama 15 tahunan.

Awalnya ketika tiba-tiba pembantu rumah tangga saya  yang bernama Wiwik mau mengundurkan diri. Bisa kebayang kan, gimana nggak kalang kabut saya dan suami mendengarnya. Apalagi tidak ada jeda waktu untuk kami mencari penggantinya. Saya sudah minta dia untuk mundur lagi barang seminggu atau 2 minggu tapi dia tidak mau. Minta tolong orang tua atau mertua, sepertinya tidak mungkin. Karena orang tua saya di luar kota, sedangkan mertua juga sudah sangat sepuh. Kalau sekedar mengawasi masih bisa. Tapi anak saya yang bungsu waktu itu masih berumur 3 tahun. Butuh seseorang yang khusus menjaga dia. Akhirnya saya mengajukan cuti 2 mingguan, sambil mencari informasi ke teman atau penyalur asisten rumah tangga. Rencana gantian dengan suami.

Sampai suatu hari, saya bertemu teman yang pernah mempekerjakan Wiwik di rumahnya. Tidak berselang lama, saya juga bertemu dengan teman Wiwik yang pernah tinggal satu kos dan bu kosnya. Seperti di sambar petir saya mendengar cerita langsung  dari mulut mereka yang cukup mengenal dekat Wiwik.

Dari teman saya, dia menceritakan bahwa ternyata Wiwik orangnya panjang tangan. Tidak hanya uang yang di ambil. Tapi juga baju dan peralatan rumah seperti piring dan gelas. Sedangkan dari teman satu kosnya, meluncur pengakuan kalau Wiwik sering berlaku kasar pada anak saya, Adham. Sehari-hari Adham di bawa ke rumah kos dia, dari siang sampai sore. Padahal saya tidak pernah mengijinkan Wiwik meninggalkan rumah selama jam kerja dia yaitu jam 07.00 – 17.00 WIB. Karena selain Adham yang masih 3 tahun, ada kakaknya yang berumur 10 tahun juga harus di awasi dan di jaganya. Tapi kenyataannya justru anak saya terlantar sendirian di rumah, bahkan seharian mainan game online di warnet.

Dari kumpulan cerita yang cukup mengagetkan itu, seperti membuka mata hati dan nurani saya sebagai seorang ibu. Ternyata tanpa saya sadari hampir 3 tahun saya sudah menitipkan anak saya pada orang yang salah. Betapa selama ini anak saya hidup di bawah tekanan orang yang tidak hanya sadis tapi juga tidak punya naluri keibuan.  

Akhirnya saya harus #BeraniLebih dalam mengambil keputusan. Sebelum semuanya terlambat. Setelah cuti saya habis, dengan tekad bulat saya mengajukan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan. Dan saya yakin, pasti banyak yang bisa saya kerjakan meskipun hanya di rumah. Salah satunya adalah menulis.

Karena setinggi apapun jabatan, sesukses apapun karir dan sebesar apapun gaji yang saya terima. Tapi kalau anak-anak saya tidak mendapatkan hak sebagaimana mestinya, saya merasa telah gagal menjadi seorang ibu.




Facebook : https://www.facebook.com/avysaja
Twitter : @mbak_avy

No comments:

Post a Comment