Saturday, February 21, 2015

Tuhan Mengijinkan Saya Selingkuh

Sepenggal kalimat itu keluar dari bibir Miko, cukup mengagetkan dan  membuat aku melongo. Tapi buru-buru tersadar dan segera menutup mulut saya, karena takut kedahuluan lalat masuk.

Sebenarnya ini untuk kesekian kalinya kami bertemu, dia curhat dengan masalah yang itu dan itu lagi. Bukan saya bosan, tapi saya sudah mati gaya untuk memberi saran atau nasehat yang bisa di terima akal sehatnya. Lama-lama saya berpikir, mungkin dia hanya butuh teman untuk mendengarkan keluh kesahnya. Bukan saran atau jalan keluar dari masalah yang dihadapinya. Kalau bukan karena sudah aku anggap adik sendiri, tidak bakalan aku merelakan ninggalin kerjaan segudang hanya demi ketemu dia saja.

Meskipun belum setahun persahabatan kami, entah kenapa dia begitu percaya dan (katanya) merasa nyaman bisa menceritakan semua masalahnya kepada saya. Bagaimana saya bisa bertemu Miko, ceritanya pasti lebih panjang dari artikel ini sendiri. Jadi kita lebih enak membahas Miko dan permasalahannya yang “rumit” dan unik bagi saya.

Seperti pada umumnya sinetron Indonesia, film India atau cerita drama Korea pada umumnya. Miko menjalin hubungan terlarang dengan Ririn sudah hampir 2 tahun. Terlarang karena Miko masih mempunya keluarga, istri sah dan 2 orang anak. Dan dia bekerja sebagai abdi negara, dimana perkawinannya dilindungi oleh aturan profesi dan hukum negara. Sedang Ririn seorang janda dengan 3 orang anak. Tapi Ririn adalah perempuan yang tegar dan tangguh. Di samping dia harus bekerja untuk menghidupi anak-anaknya, dia juga tengah berjuang melawan penyakit yang sudah lama bersarang di tubuhnya. Miko tahu itu, bukan membuatnya mundur tapi  semakin kagum dan semakin dalam cintanya kepada Ririn. Mereka memang pernah menjalin cinta ketika sama-sama satu sekolah, terpisah karena beda keyakinan.

Cinta itu datang tanpa di undang dan tanpa bisa di tolak. Ketika rasa itu semakin dalam dan keduanya sudah tidak bisa dipisahkan, akhirnya muncul dilema. Miko ingin menikahi Ririn secara siri. Tapi Ririn menolak, di samping karena dia tidak mau mengganggu rumah tangga  Miko, perbedaan keyakinan yang membuat mereka tidak bisa dipersatukan.

“Aku bener-bener lagi galau mbak… Tadi pagi kami masih telpon-telponan dan membahas masa depan. Eh siangnya tiba-tiba dia marah dan minta putus. Aku bingung dengan sikap dia yang sering berubah-ubah tanpa di duga.”

Wajah Miko tampak mendung, dia menghela napas panjang sambil merebahkan badannya di sandaran sofa. Aku sesekali mengaduk Strawberri Float di depanku dan menunggu dia melanjutkan ceritanya…

“Saya yakin Ririn juga sangat mencintai saya mbak. Tapi dia pandai menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya. Kadang saya ragu-ragu dalam menangkap apa yang dia omongin ke saya, karena saya tau itu bohong. Padahal nantinya dia pasti akan cerita sejujurnya. Itu salah satu sifat dia yang masih membuat saya bingung mbak…”

Kasihan Miko, padahal mencintai seseorang itu tidak hanya mengenal secara fisik aja. Kalau bisa dalam hatinyapun kita harus tahu, meskipun ada pepatah mengatakan dalam “hati orang siapa yang tahu”.  Tapi bagi saya, banyak cara untuk bisa mengenal pasangan atau orang yang kita cintai. Salah satunya dengan sering berkomunikasi dan bertukar pikiran. Semakin  dekat tidak mungkin kalau tidak semakin mengenalnya. Kalau sudah seperti ini, berarti komunikasinya yang nggak bagus.

“Mbak….saya tau dia ragu-ragu dengan status saya. Dia bingung ketika saya bilang serius untuk mengajak dia kawin siri. Saya ingin merawat, mendampingi bahkan menemani dia sampai nafas terakhir saya sekalipun. Mbak juga percaya kan kalau saya serius…”

Kata-katanya sedikit meninggi penuh emosi. Membuat saya spontan mengalihkan pandangan dari laptop ke wajah Miko. Tampak mata elang itu sedikit berkaca-kata memendam kepedihan. Tercekat juga aku melihat perubahan mimik yang tadinya begitu dingin sekarang menjadi seperti tak berdaya.

“Saya memang lemah kalau berhadapan dengan Ririn mbak. Apa karena saya begitu mencintai dia. Kadang dia tiba-tiba menghilang seperti tidak membutuhkan saya. Padahal saya seperti cacing kepanasan kalau tidak menghubungi dia setiap jam…”

Perempuan itu pintar menyembunyikan perasaannya Miko… Kamu aja yang tidak bisa mengontrol emosi dan gejolak perasaanmu. Itu sudah sering saya sampaikan lewat bbm maupun telpon, supaya Ririn juga bisa sedikit menghargai orang yang penuh perhatian padanya. Tapi kadang cinta itu lebih menguasai emosi yang tidak masuk akal daripada yang sehat.

“Berbeda keyakinan bukan halangan bagi saya mbak. Saya sudah sering meyakinkan dia, bahwa Tuhan yang kita sembah itu sebenarnya adalah satu. Hanya jalan dan sarana untuk memuja Nya saja berbeda.”

Waduuuuuuhhhh…..saya sudah nggak bisa mikir dengan tenang mendengar kalimatnya yang barusan. Ingin mementahkan pendapat dia, tapi melihat wajahnya yang keruh dan masam membuat saya mengurungkan niat. Bukan saat yang tepat untuk beradu argumentasi. Padahal seharusnya dia tahu, posisi Ririn tidaklah gampang untuk menerima pendapat dia itu. Apalagi masalah keyakinan adalah masalah yang sangat sensitif dan prinsip sekali.

“Mbak….saya yakin, tangan Tuhan jualah yang berperan untuk mempertemukan kami. Jadi apapun yang terjadi, kami akan hadapi bersama-sama. Saya akan berjuang meyakinkan Ririn…”

Akhhhh…..kembali Miko menyebut nama Tuhan, untuk membenarkan apa yang seharusnya tidak boleh mereka lakukan. Sekali lagi, saya hanya mendengarkan ceritanya yang bak sinetron berseri kejar tayang. Tanpa bertanya, merespon ataupun menjawab. Karena dia sudah tidak butuh nasehat saya….

Cinta memang urusan Tuhan. Anugrah terindah yang diberikan kepada semua makhluk hidup. Tidak terkecuali saya, yang sempat menikmati indahnya ketika kita bisa mencintai dan dicintai seseorang. Tapi jangan sampai keindahan itu menjadi kotor kalau ada yang tersakiti. Dan itu sudah sangat disadari oleh Miko.

Sesampai di rumah, saya mengirimkan bbm ke Miko ;

Seperti yang sering kamu bilang, tangan Tuhan yang menuntunmu untuk memberikan cintamu kepada Ririn. Tapi kamu lupa, Tuhan juga ingin tahu, seberapa bijak kamu bisa menuntun cinta itu ke tempat (seseorang) yang tepat. Kedengarannya klise “mencintai tidak harus  memiliki” kalau dia bukan orang yang tepat untuk dimiliki…. *udah gitu aja*

***

Ruang Rindu, 26 Juni 2014
Pukul : 18.10

No comments:

Post a Comment