Saturday, February 21, 2015

Tidak Ada (Keluarga) Yang Sempurna Di Dunia Ini

Suka penasaran tiap habis baca artikel kompasianer paling ajaib saat ini, gurunya mbak Hanna Chandra yaitu Pakde Kartono (Kompasianer). Habis baca artikel beliau – yang konon ternyata kembaran dari Bad Pritt dan Arswendo Atmowiloto – selalu bikin iri dan dengki. Ketika membaca kalimat demi kalimat artikel pakde, serasa kita di ajak berimajinasi betapa keluarga mereka begitu sempurna, dengan kemapanan dari segi materi dan ekonomi, jabatan serta kasih sayang yang seolah tidak ada kekurangannya. Selalu pamer kemesraan dengan budhe, saling menyanjung, memuji, memberi perhatian, bertukar puisi sampai berciuman pun diceritakan disini. Kalau saya sih sedikit nggak percaya, karena gak ada fotonya. Mungkin bukan saya saja yang pengen tau gimana dahsyatnya ciuman pakde yang bikin bude klepek-klepek. Minjam istilah mas Mawalu “No pics = hoax”…. Gimana pakde? Berani nggak ngebuktiinnya??

Selanjutnya, saya tidak akan membahas keluarga Pakde Kartono dengan bude. Karena semakin di bahas semakin bikin iri dan tanda tanya juga semakin besar. Benarkah gambaran keluarga yang sempurna seperti yang ditunjukkan pakde ke bude itu nyata alias bukan hoax? Yang jelas kita tunggu saja apa Pakde mau memasang fotonya yang lagi bermesraan dengan Bude (tapi bukan bude Angelina Jolie yeeee). Baru deh kita acungi 4 jempol….

Kita sering mendengar kata-kata mutiara TIDAK ADA YANG SEMPURNA DI DUNIA INI. Entah itu manusianya, perempuan, laki-laki, istri, suami bahkan sebuah keluarga sekalipun. Padahal, sebuah keluarga itu terbentuk pasti di awali dengan janji-janji manis 2 pasang anak manusia. Mereka saling berkomitmen untuk membentuk satu keluarga yang harmonis, bahagia, rukun serta saling menyayangi bahkan sampai maut memisahkan. Terdengar sangat sempurna sekali. Tapi dengan berjalannya waktu, semakin lama akan semakin banyak kekurangan yang terlihat dari masing-masing pasangan, banyak masalah yang muncul, bosan dengan rutinitas, dan yang paling serem adalah melihat rumput tetangga yang lebih hijau. Begitu juga keluarga saya. Sssssstttt…..bukan maksud saya ngomongin kejelekan suami atau keluarga saya, lebih aman ngomongin keluarga sendiri. Dosanya cuman dikit hehehehe….

Biasanya kami berselisih paham hanya karena masalah kecil. Saya orangnya terlalu “perfectionis”. Makhlum perempuan sendiri, yang sehari-hari pekerjaan rumah tidak di bantu oleh asisten rumah tangga. Semua barang harus tertata rapi, diletakkan di tempat yang semestinya, kalau mengambil sesuatu jangan lupa dikembalikan ke tempat semula, bila perlu minta ijin saya dulu (apalagi kalau barang yang berada di wilayah kekuasaan saya seperti dapur dan tempat tidur – bisa rame kalau hilang atau tidak ada di tempatnya). Sedang suami pembawaannya sedikit santai dan woles (slow atau lambat kata anak jaman sekarang). Meskipun akhirnya dia berusaha mengikuti pola pikir dan “aturan” yang saya buat (kebanyakan laki-laki lebih memilih mengalah daripada harus ribut yang ujung-ujungnya berantem).  Karena saya juga selalu tekankan untuk memberi contoh kepada anak-anak kami yang 3 orang laki semua.

Selama usia perkawinan kami berjalan 22 tahun, bohong sekali kalau tidak pernah ada masalah. Baik itu yang berupa kerikil-kerikil kecil maupun yang hampir memercikkan api. Tapi untunglah masalah kami tidak sampai harus di bawa ke meja “Mahkamah Konstitusi” untuk dicarikan jalan perdamaian. Banyak pertimbangan yang bisa kami bicarakan bersama ketika timbul satu masalah yang sedikit serius, sehingga ego masing-masing bisa ditekan. Bukan maksud menggurui, tapi hanya sekedar berbagi rahasia bagaimana kami lebih memikirkan kebahagiaan anak-anak daripada kepentingan diri sendiri, yaitu :

1. Orang tua adalah mentari bagi anak-anak.
Pikirkan seandainya mereka sampai kehilangan mentari yang memberi kehangatan dan penerangan dalam hidup mereka. Sesungguhnya mereka tidak minta dilahirkan kalau hanya menyusahkan atau tidak mendapatkan keadilan dari orang tuanya. Kita sendiri tidak mungkin menolak atau memilih ketika di beri amanah oleh Yang Maha Kuasa. Apapun keadaan kita, kehadiran anak bisa memberikan energi yang luar biasa dalam menghadapi kehidupan ini. Demikian juga sebaliknya. Materi yang berlimpah tidak ada gunanya tanpa perhatian dan kehadiran kedua orang tua yang lengkap menghantar mereka hingga bisa mampu mandiri.

2. Bisa menerima kelebihan dan kekurangan suami, karena sebaliknya kelebihan dan kekurangan kita pengen juga bisa di terima oleh pasangan.
Semakin lama usia perkawinan, semakin banyak kelemahan masing-masing yang kita tahu. Tapi kembali kita  menyadari bahwa kelemahan itu memang bawaan dari bayi, sudah bonus yang diberikan oleh Tuhan. Kalau kita sering menghitung-hitung kesalahan pasangan, begitu juga dia sebaliknya bisa mengungkit kelemahan kita. Begitupun kalau kita merasa punya banyak kelebihan, tentunya pasangan pasti mempunyai juga kelebihan. Dan kelebihan itu pulalah yang membuat kita memilih dia menjadi pemenangnya untuk menjadi pendamping hidup.

3. Menghindari sumber pertikaian.
Contoh paling sederhana dan masih sangat hangat, ketika musim pilpres kemarin – pilihan saya dan suami jelas berbeda. Pernah sekali dua kali kami diskusi, tapi ujung-ujungnya berantem dan saling nyindir. Tentu saja membuat suasana di rumah jadi gak nyaman. Akhirnya kami berkomitmen untuk tidak membahas lagi kapanpun dan dimanapun.

4. Kembali mengingat komitmen di awal pernikahan.
Orang kalau sudah lupa diri kadang tidak peduli dengan nasehat orang lain. Bahkan dia juga tidak akan peduli apabila ada yang menderita atau tersakiti. Pengalaman dari beberapa teman yang curhat dan berbagi pengalaman. Terus terang kalau mereka minta pendapat atau solusi kalau ada masalah keluarga, pesen saya cuman satu “searching aja di google, cari bagaimana menjaga keharmonisan keluarga atau solusi yang lain”, banyak banget pakar yang menuliskan tips-tipsnya. Karena saya sendiri masih jauh dari baik dan lurus. Yang jelas, saya dan suami sering saling mengingatkan bahwa keluarga itu tercipta karena takdir. Apalagi setelah ada anak-anak. Dan hanya Tuhan yang bisa mengubah takdir itu, bukan kita manusia.

5. Tempat yang paling nyaman dan hangat adalah di tengah keluarga yang lengkap.
Semua pasti setuju dengan maksud kalimat “Home Sweet Home”. Dan hampir semua pasti selalu menggambarkan kalimat tersebut ketika rasa capek, penat, lelah, sedih, galau bahkan kesepian – akan sirna sekejap bila sudah sampai di rumah. Ada kebahagiaan dan kedamaian bersumber di sana, serta cinta dan kehangatan yang dipancarkan oleh seluruh anggota keluarga.

Begitu banyak orang terkenal yang hidupnya terlihat begitu sempurna, berlimpah materi dan ketenaran tapi ternyata malah lebih memilih mengakhiri hidupnya dengan tragis. Betapa ternyata materi tidak bisa membayar kebahagiaan yang hakiki.

“Ketika masalah datang silih berganti, hanya sikap dewasa dan bijaksana yang bisa menjadi  benteng kokoh untuk melindungi dari kehancuran”


Catatan harian, 13 Agustus 2014
Pukul : 19.40

No comments:

Post a Comment