Saturday, February 21, 2015

Sportif Bukan Berarti Kalah

Kita sering mendengar kata SPORTIF itu lebih identik dengan dunia olah raga, yaitu sebuah sikap atau mental dimana seseorang bersikap ksatria, jujur dan fair (dalam bermain).

Sikap sportif dalam dunia olahraga, dimaknai sebagai sebuah sikap bermain atau bertanding secara fair mengikuti aturan yang berlaku dan tidak menghalalkan segala cara untuk meraih kemenangan. Sportif juga mengandung arti adalah sikap kesatria untuk menerima kekalahan, mau menghargai dan menghormati, serta mengakui keunggulan dan kemenangan lawan. Sikap sportif ini menjadi sangat penting, karena sebuah pertandingan atau kompetisi pastinya harus memunculkan adanya pihak yang menang dan pihak yang kalah.

***

Kemarin sore saya ada acara bukber dengan teman-teman komunitas Sekretaris Surabaya. Biasanya saya jarang ikut dalam setiap pertemuan rutin bulanan. Di samping sudah hampir 10 tahun tidak berprofesi sebagai sekretaris, jadwal pertemuan selalu bentrok dengan tugas-tugas yang ada sekarang.

Seneng juga bisa bertemu dengan teman-teman lama dan nambah kenalan dengan anggota-anggota yang baru. Tapi saya merasa ada sedikit yang kurang, ketika sampai akhir acara tidak menjumpai teman yang cukup dekat karena pernah satu kantor juga. Namanya Hana – hampir 3 tahun kami sama-sama menjadi sekretaris di sebuah kantor properti. Saya sekretaris Manager Marketing dan dia sekretaris Direktur Pemasaran. Sempat saya tanyakan ke beberapa rekan yang kebetulan juga mengenalnya cukup dekat, kenapa Hana tidak hadir sore ini. Jawaban mereka cukup membuatku tertegun…
Sekarang Hana tidak pernah hadir dalam setiap pertemuan komunitas Sekretaris Surabaya, padahal dia duduk dalam kepengurusan sebagai Wakil Ketua Bidang Sosial. Itu terjadi semenjak Hana tidak terpilih mewakili Sekretaris Surabaya dalam ajang kompetisi Sekretaris tingkat Nasional 3 bulan yang lalu, dimana nantinya pemenang akan di kirim ke Bangkok untuk bertanding di tingkat Internasional.

Itu memang ajang pemilihan yang rutin tiap tahun diselenggarkan. Hana yang seorang Sekretaris Senior mempunyai penampilan dan kecerdasan yang tidak diragukan lagi. Dia menjadi wakil Surabaya sudah 2 kali dan memang masih belum beruntung untuk bisa di kirim ke luar negri. Tapi kekalahan dia tahun ini di wilayah Surabaya membuat dia kecewa dan down. Apalagi yang menjadi pemenangnya adalah sekretaris yunior yang usianya sangat jauh di bawah dia. Alasan juri lokal karena usia Hana sudah di atas kepala 4, waktunya generasi muda yang ditampilkan supaya lebih fresh. Padahal secara administrasi tidak ada ketentuan seperti itu. Yang penting cakap, cerdas dan mempunyai penampilan bagus.

Sampai sekarang saya masih kurang jelas alasan yang tepat dan masuk akal dari Hana karena saya hubungi lewat telpon juga tidak bisa. Meskipun saya memahami kekecewaan dia, tapi melihat kematangan baik usia maupun dalam hal berorganisasi, saya tetap menyesalkan sikap yang di ambil Hana sampai tidak mau aktif lagi dalam organisasi yang menjadi kebanggaannya itu.

***

Pada prakteknya, sikap sportif memang tidak hanya dijumpai dalam dunia olahraga. Bahkan menurut saya, semua hal yang mengandung unsur kompetisi dan persaingan juga sangat membutuhkan sikap sportif.

Seperti contoh cerita saya di atas, bahwa sikap SPORTIF adalah satu sikap dimana dibutuhkan kemauan untuk jujur, ksatria dan menerima kenyataan.

Sedangkan untuk membangkitkan rasa sportifitas dari dalam diri kita adalah dengan berusaha :

1. Mengakui atau menghargai prestasi orang lain.
Meskipun orang itu adalah kompetitor kita, sikap seperti itu memang agak sulit diterapkan. Karena mengingat terkait langsung dengan kestabilan emosi. Namun rasanya tidak ada alasan kalau kita tetap tidak jujur mengamati prestasi orang lain. Apalagi kalau jelas-jelas prestasi itu terbukti secara nyata. Dengan bahasa yang lebih singkat, sportif berarti bersikap sehat menghargai orang lain.

2. Memberi penghargaan terhadap orang lain.
Baik secara langsung maupun tidak langsung, adalah salah satu sikap mulia selama tidak disertai maksud menghina atau mencemooh. Sikap ini sebenarnya sudah ada dan mendasar pada setiap hati manusia. Kadang ego dan gengsinya lebih tinggi, dengan tidak mau mengakui kelebihan atau prestasi orang lain.

3. Bahagia atau ada kepuasan batin melihat orang lain berhasil.
Bila kita telah memberikan penghargaan juga berdampak psikologis amat kuat dalam interaksi manusia. Terlebih, kalau orang yang dihargai itu merasa bahagia juga, akan terbentuk pada akhirnya pribadi-pribadi yang saling menghargai. Inilah kepribadian luhur bangsa kita yang mesti di jaga eksistensinya.

“Dengan menunjukkan sikap yang sportif, justru kita sudah menjadi seorang pemenang. Menang karena mampu menunjukkan kebesaran jiwa dan keikhlasan menerima kelebihan orang lain”


Marilah kita juga tunjukkan sikap sportif dalam menerima hasil pemilu yang akan diselenggarakan besok Rabu, 9 Juli 2014… Salam damai Indonesia….

***

Catatan harian, 08 Juli 2014
Pukul : 03:30

No comments:

Post a Comment