Saturday, February 21, 2015

Semalam Di Kota Bandung

Jam menunjukkan pukul 08.05 tepat, ketika burung besi yang membawaku melesat dengan gagahnya, meninggalkan bandara Juanda dengan tujuan yaitu ke kota kembang Bandung. Pemandangan lewat jendela, hanya terlihat sekumpulan rumah-rumah yang tampak semakin kecil. Lama-lama digantikan sekumpulan awan putih yang menari-nari, menggambarkan betapa cerah cuaca pagi ini. Secerah dan ceria hatiku tentunya. Bagaimana tidak, tiba-tiba ada undangan berkunjung ke kota yang sudah lama sekali tidak pernah kusinggahi.

Hampir 10 tahun lebih aku tidak pernah mengunjungi Bandung. Terakhir tahun 2003, itupun tidak sempat berkeliling kota karena ada keperluan yang mendadak dan cukup singkat. Untuk kunjunganku kali ini juga di luar jadwal - hanya semalam, karena harus aku sempatkan setelah sempat tertunda beberapa kali dan sedikit memaksakan diri datang di sela-sela kesibukan yang sudah tidak bisa di otak-atik jadwalnya. Jadi tiket pulangpun sudah ada di tangan. Sayang sekali sebenarnya, tapi kondisi tidak memungkinkan. Tak apalah, mungkin lain waktu bisa di atur lebih rapi dan matang.

Hari masih begitu pagi, ketika si burung besi mendarat di bumi parahiangan Bandung. Masih sekitar pukul 09.45 WIB, tapi sengat hangat mentari sudah menyapa kulit para penumpang termasuk saya ketika menuruni tangga pesawat. Sudah tidak aku hiraukan bau keringat dan parfum yang bercampur aduk menyengat hidung, hanya senyum terkembang disertai binar bola mata bahagia ketika sang penjemput sudah berdiri di depan mata.

Ketika dua tangan di depanku mengembang, tanpa pikir panjang kuhamburan badanku ke dalam pelukannya. Erat dan hangat, disertai bisikan lembutnya “Miss you so badly honey….” Sambil makin mempererat pelukan, kujawab lirih “Me too my honey…”

Tapi adegan layaknya sinetron itupun harus segera dihentikan, karena daripada emosi kami tidak terkontrol dan menjadi tontonan gratis di tempat umum.

***
Tujuan pertama kali adalah mencari sarapan. Dan pilihan akhirnya jatuh pada bubur ayam yang konon cukup kesohor yaitu Bubur Ayam Pak H. Amid atau Bubur Ayam Pajajaran. Sebenarnya aku kurang begitu suka sarapan bubur ayam. Tapi penasaran juga pengen membandingkan bubur ayam yang sudah pernah aku rasakan, terutama bubur ayam Surabaya dengan bubur ayam Bandung yang sangat terkenal itu. Ternyata rasanya memang berbeda dengan bubur ayam kebanyakan yang dijual orang. Bubur ayam di sini tidak memakai kacang kedelai tapi terdiri dari bubur nasi, daging ayam, ati ayam ampela, cakue dan telur ayam. Sedangan bumbunya bisa menambahkan sendiri di tempat tersedia, misalkan mau tambah kecap, sambal, garam atau bumbu lainnya silahkan saja sesuai selera.

Sambil menikmati bubur yang terasa makin spesial karena ada dia di samping, kami pun saling bercerita untuk menumpahkan rasa kangen setelah hampir setahun tidak berjumpa. Kucuri-curi pandang untuk memperhatikan badannya yang kelihatan semakin segar (sedikit gemuk), di tunjang wajah dia yang tampak matang dan dewasa. Sedikit tersendat nafasku menahan kekaguman yang begitu menyesakkan dada - “Elangku yang dulu kelihatan masih belia, ternyata sudah menjelma menjadi sosok matang dan tegas… Begitu dewasa dan mempesona

Yang diperhatikan ternyata merasa. Lelaki itu menatapku dengan tajam. Ahh….mata elang itu selalu membuatku gugup dan tersipu. Dia pasti tahu aku sedang menahan rindu yang demikian membiru. Dielusnya rambut kepalaku, sambil mendaratkan kecupan lembutnya. Berharap sentuhan dia mampu meredam gejolak yang biasanya membuat tetes2 kristal turun dari belahan kedua bola mataku. Setahun sudah jarak dan waktu ini memisahkan kami. Juga beribu kendala yang belum mampu teratasi.

***
Semakin siang semakin terasa hawa panas dan gerah di kota Bandung yang dulunya begitu sejuk. Di tambah kemacetan yang demikian tidak beraturan antara pengemudi motor dan mobil, rasanya sudah merubah kesan kota yang dulu begitu tenang dan nyaman.

Tidak mau terjebak macet sampai harus kelaparan di jalan, kami memilih makan siang di sekitar bandara Husein Sastranegara yang kebetulan masih dekat dengan hotel tempat saya menginap. Sekali lagi kami memilih kuliner yang sudah cukup terkenal yaitu Sate Pojok Husein Sastranegara. Tempatnya di lokasi parkir bandara Husein, antara ruko-ruko dan resto yang lumayan banyak untuk dijadikan alternatif tempat mencari makan. Disana memang banyak pilihan resto dengan berbagai macam menu, dari yang tradisional sampai cita rasa barat. Tapi karena termasuk penasaran ingin mencicipi sate kambing yang katanya tanpa bau kambing itu, akhirnya kami memutuskan untuk makan siang disana. Meskipun pengunjungnya ramai, tapi tempatnya cukup nyaman.

Karena cuman berdua, kami hanya memesan 7 tusuk sate kambing dengan 2 porsi nasi putih. Ternyata itu sudah cukup membuat kami kekenyangan, tapi puas dengan kelezatan sate kambing yang rasanya begitu gurih dan empuk. Memang benar, tak sedikitpun tersisa bau kambing yang biasanya sulit untuk dihilangkan sama sekali.

***
Sekali lagi dengan alasan menghindari macet yang membosankan, acara makan malam memilih lokasi yang tidak jauh dari hotel. Pengen suasana yang beda, kami memilih kuliner di pinggir jalan Pasteur. Lokasinya di depan sebuah mall kecil, tapi masih satu lokasi. Cukup ramai juga meski tidak terlalu luas. Konsepnya outdoor, menu kebanyakan makanan tradisional Indonesia, jadi saya tidak terlalu sulit menentukan pilihan. Sebelumnya saya memilih nasi goreng aja untuk lebih amannya karena lidah saya agak sulit menerima makanan luar. Tapi karena sudah habis, akhirnya memilih gurami ikan bakar. Kalau ini juga termasuk menu teraman dan pasti cocoknya. Perpaduan cita rasa jawa timur dan jawa barat (maksa.com hehehehehe).

Meja dan kursi yang di tata seperti suasana di kebun, meja dengan 4 kursi saja – dihiasi tanaman-tanaman hijau yang beraneka macam, menambah suasana romantis dan sahdu. Apalagi lirih terdengar lagu-lagu khas Sunda yang menemani pengunjung bersantap malam.

Kami habiskan malam itu dengan merenda cerita dan kisah manis yang akan menjadi kenangan indah dalam hidupku. Asa dan rasa tertumpah ruah menjadi satu. Menorehkan harapan dimana kelak semua halangan ini bisa kami atasi bersama.

***

Keesokan harinya tepat pukul 16.30 waktu Bandung , saya sudah harus masuk ke perut burung besi yang sudah stand by untuk membawa kembali ke Surabaya.

Walaupun cuma semalam, Bandung begitu eksotis dan meninggalkan kesan yang sangat dalam buat saya. Menikmati kuliner yang istimewa dan menghabiskan malam yang romantis, cukup melengkapi momen-momen indah yang selalu hadir tak terduga dalam kehidupan saya. Dan itu seperti satu keajaiban yang Tuhan ciptakan untuk menorehkan catatan perjalanan hidup yang akan selalu saya kenang.

Dalam hati saya berjanji, suatu saat pasti akan kembali ke kota yang menyimpan berjuta janji-janji ini. Karena disanalah Elang Biruku sudah menunggu….

***

Ruang Rindu, 07 Juni 2014
Pukul : 11.48 WIB

No comments:

Post a Comment