Saturday, February 21, 2015

Romansa Cinta Di Ujung Senja

Anda mulai merasakan adanya krisis dalam perkawinan. Mungkin bosan dengan tugas rutinitas, ketika anak-anak sudah besar dan percintaan yang mulai dirasakan hambar. Usia di ambang 40 tahun memang masuk usia rawan bagi seorang istri. Pada masa itu, dia akan selalu menanyakan eksistensi diri suami, dirinya sendiri, sekelilingnya, bla bla bla…..

Alin mencoba menelaah rubrik Konsultasi Rumah Tangga di sebuah majalah wanita ternama. Dibaca berulang-ulang sambil sesekali menghela napasnya yang sedikit tercekat.

Diletakkan majalah itu di atas meja. Kakinya diselonjorkan ke sofa panjang sambil merebahkan kepalanya, seolah ingin meletakkan semua masalah yang sedang membebani pikirannya.


“Mas Hermawan….” gumamnya lirih sambil memejamkan matanya. Tergambar sosok lelaki lembut, setia dan kebapakan yang sudah menemaninya selama 15 tahun terakhir ini. Tidak ada yang lain dan tidak pernah ada. Sampai 3 bulan belakangan ini, Alin merasakan ada orang lain yang hadir tanpa di undang. Selalu mengusik dan mengganggu pikiran bahkan konsentrasinya dimanapun berada.

Alin tidak akan gusar kalau si dia sang pengganggu pikirannya itu orangnya jauh dari pandangan. Tapi dia rekan satu kantor. Tiap hari mereka selalu bertemu, bertegur sapa, ngobrol bahkan mereka punya banyak waktu berdua walaupun itu membahas masalah kerjaan. Kadang Alin merasa malu sendiri ketika harus menepis debar-debar cinta dan desiran hangat yang penuh sensasi bila mata mereka saling bertatapan. Wajah muda yang segar, penampilan yang elegan dan otak yang brilian. Semua itu kelebihan dia yang membuat Alin begitu terpesona dan bertekuk lutut. Rasa itu sangat wajar apabila usia Alin masih di bawah 30an, single dan gadis pula. Tapi sekarang, Alin bukanlah wanita single, usianya sudah hampir 40 tahun. Walaupun penampilannya masih menarik dan energik.

“Tuhan….kenapa rasa itu hadir di waktu yang tidak tepat? Kalau selama ini dia mampu menahan diri dan memupus perasaan itu, tapi kenapa sekarang sulit sekali? Bahkan semakin hari semakin bersemi dan berbunga. Haruskah aku mencoba sesuatu yang penuh resiko? Dengan mengorbankan rumah tangga yang tenang, anak-anak yang manis juga suami yang setia? Hari ini adalah ulang tahunku yang ke 39, dan tidak ada seorangpun yang mengingatnya. Apakah ini kado-kado pahit untukku?”
*
Pagi ini seperti biasa, tugas Hermawan mengantar 3 jagoan kecil mereka ke sekolah. Suasana rumah begitu lengang. Alin menyuapkan beberapa potong roti sebelum kemudian dia beranjak ke kamar mandi. Sambil mengguyurkan air dan menyapu badannya dengan sabun cair yang lembut, pikirannya masih dipenuhi dengan berbagai dialog dalam batinnya.

“Haruskah aku jujur padanya? Beranikah aku memulainya? Tapi bagaimana kalau dia mentertawakanku? Bagaimana kalau dia menganggapku wanita tidak tahu diri?”

Selama ini hubungan mereka sebagai rekan kerja sangatlah akrab dan hangat. Alin merasa itu sudah cukup dinikmatinya secara diam-diam. Tapi rasa itu semakin lama semakin menyiksa batinnya. Apalagi akhir-akhir ini Alin merasakan respon dari dia. Dilihat dari bahasa tubuhnya dan tatapan matanya, sebagai perempuan matang Alin yakin sekali itu semua ada maksudnya.

Matanya sedikit berkaca-kaca. Selama ini dia tidak pernah bisa memalingkan hatinya dari Hermawan. Kenapa di umur yang semakin mendekati senja ini dia masih bisa merasakan jatuh cinta yang demikian indah, seperti layaknya seorang remaja. Dia merasakan dilema yang tidak ada jawabnya.

*

Alin sudah selesai berdandan dan berpakaian rapi. Diliriknya arloji dipergelangan tangan, menunjukkan pukul 08.15 WIB. Dia mulai gelisah. Pagi ini mobilnya di pinjam Hermawan untuk mengantarkan anak-anak sekolah, karena mobil dia lagi di bengkel. Perjalanan ke kantor kurang lebih 45 menit, kalau tidak macet. Di tambah cuaca yang terlihat tidak bersahabat. Sejak subuh mendung gelap sudah muncul dan Alin tidak mau berspekulasi dengan waktu. Sambil menggerutu dia mengambil handphonenya di meja rias.

Ketika hendak menekan tombol untuk sms, muncullah di layar 20 panggilan tidak terjawab. Waduuuuhh…dari siapa ya? Mas Hermawan? Ada 2 pesan singkat masuk…

Mama…selamat ulang tahun yang ke 39. Semoga mama sehat dan panjang umur. Tetaplah menjadi wanita yang mandiri dan sabar, terutama dalam membimbing kami, jagoanmu yang bandel-bandel. You are our everything and we always love you mom… Papa-Raka-Dika-Dimas

Lin…aku bel berkali-kali kok nggak di angkat? Kamu naik taksi aja ya? Mobilnya aku pake jemput ibu, karena hari ini beliau bikin nasi kuning buatmu. Kalo nanti malem ada acara sama temen2mu, pulangnya jangan sampai larut. Besok anak-anak ada futsal dan les renang, pengen sekali-sekali di anter mamanya…

Tiba-tiba seolah ada air es yang mengguyur batinnya….adem dan segar. Matanya berkaca-kaca. Ternyata mereka tidak lupa hari ulang tahunku. Mereka masih membutuhkanku. Bahkan mas Hermawan yang begitu cool, cuek dan tidak romantis meminta ibunya untuk membuatkan nasi kuning kesukaanku. Masih mengijinkan aku untuk merayakan hari bahagiaku dengan teman-temanku (termasuk dengan si dia)…

*

Anda merasa baik-baik saja dengan suami dan perkawinan anda. Berarti, apa yang anda alami mungkin hanya perasaan temporer belaka. Cinta anda pada si dia, tampaknya hanya semacam outlet yang membawa anda pada suatu “sudut kegembiraan” serasa ke nirwana dan mencari pengakuan lawan jenis bahwa anda masih tetap menarik. Anda merasa terhibur dan menikmati sensasi-sensasi yang indah namun sesaat. Syukurlah kalau anda cepat menyadarinya, karena bukan tidak mungkin anda akan semakin terjerumus kalau menuruti kata hati itu

Di dalam taksi, Alin masih sempat membaca ulasan akhir nasehat dari sang Ahli itu. Serasa melegakan masuk ke pikirannya. Mungkin, sekarang adalah waktu yang tepat membenahi diri. Mumpung belum sebegitu jauh aku terbawa semakin dalam perasaan yang sesaat itu. Aku harus mencoba, dan aku pasti bisa.

Meskipun di luar mendung semakin tebal, Alin merasa kesejukan dan kelegaan yang terpancar dari senyum tipis dan binar bola matanya…


Ruang Rindu, 10 Mei 2014
Pukul : 23:25

No comments:

Post a Comment