Saturday, February 21, 2015

Pertimbangkan Sebelum Membuat Tatoo

Terus terang, saya menulis artikel ini memang tergelitik karena berita kehebohan ibu menteri yang mempunyai tattoo cukup mencolok di kaki nya. Tapi bukan mengulas tentang tattoonya ibu menteri. Juga bukan ingin menilai dari sisi baik, buruk, boleh, tidak, dari sisi masyarakat timur ataupun dari sisi agama. Saya bukan pakarnya dan tidak tertarik untuk menilai orang lain. Di sini saya hanya sekedar bercerita tentang pengalaman pribadi yang kebetulan pernah merasakan punya tattoo meskipun itu hanya tattoo temporary yang sebulan juga sudah hilang. Pengalaman yang bisa dijadikan pelajaran terutama bagi yang ingin coba-coba membuat tattoo…

Waktu itu tahun 2008, saya bekerja sebagai Humas di ITC Mega Grosir Surabaya. Kami mengadakan event yang berhubungan dengan seni lukis melukis. Dimeriahkan dengan berbagai macam seni lukis yang diekspresikan lewat banyak media, termasuk melukis cat di badan (body painting) dan tattoo. Pada waktu pembukaan pameran, ada stand tattoo yang minta saya untuk menjadi modelnya. Karena kata dia jenis tattoonya temporary di buat dari pacar india (hena) yang akan hilang dalam waktu sebulan. Sayapun tidak berkeberatan. Kemudian saya memilih gambar kupu yang mungil dan imut. Saya sangat antusias karena di samping pengunjung yang menonton sangat banyak, saya juga pengen nyoba punya tattoo. Tidak sampai setengah jam, tattoo itupun sudah selesai dan si kupu-kupu menempel dengan manisnya di tangan saya.

Belum setengah jam tattoo itu menghias tangan, tiba-tiba saya rasakan gatal-gatal yang mulai muncul di sekitar gambar kupu-kupu itu. Degg….saya spontan baru ingat kalau saya alergi dengan tinta atau cat rambut. Apalagi bahan tattoo tadi adalah hena yang juga biasa di pakai untuk bahan mewarnai rambut. Saya langsung panik. Sudah terbayang rasa gatal dan bengkak yang akan menghantui selanjutnya. Itu sudah bisa saya pastikan dengan pengalaman mewarnai rambut yang selalu diakhiri dengan munculnya bentol-bentol di kepala. Tapi bagaimana lagi, semua sudah terlambat.

Mulailah malam itu, saya sudah tersiksa dengan gatal dan bengkak di sekitar luka. Keesokan harinya dan hari-hari selanjutnya, saya harus menerima kenyataan bahwa kupu-kupu manis itu berubah menjadi luka yang cukup membuat saya malu dan stress. Bagaimana tidak, karena posisinya di telapak tangan atas sehingga selalu terlihat kalau saya bertemu dan berinteraksi dengan orang-orang. Apalagi pekerjaan saya sebagai Humas yang setiap hari harus bertemu dan menerima tamu serta bersalaman. Sebelum bersalaman saya harus memberi warning plus penjelasan yang panjang lebar tentang asal muasal luka tersebut. Dan itu tidak hanya sekali dua kali. Yang paling menggemaskan adalah reaksi setelah saya selesai bercerita pasti diakhiri dengan tertawa dan komen usil karena kecerobohan saya. Keadaan tersebut harus saya jalani hampir 2 minggu. Penderitaan sedikit agak ringan ketika lukanya sudah mengering.

Sejak saat itu saya bener-bener kapok dan sedikit trauma. Bukan karena tattoonya, tapi karena tidak tahan dan alergi dengan tintanya. Sebenarnya terus terang saya masih pengen bikin tattoo temporary di leher, pundak, tangan atau kaki dengan gambar-gambar yang lucu. Kadang iri ketika melihat teman yang menghiasi badan mereka dengan tatto temporary yang bisa di ubah-ubah gambarnya ketika tatto yang lama sudah hilang. Tapi daripada harus merasakan sakit dan malu punya luka karena tattoo, lebih baik gak usah mencoba membuat tattoo lagi.
Dokumentasi Pribadi
Dokumentasi Pribadi
***
Bagi saya pribadi, meskipun di jaman sekarang tatto sudah menjadi bagian dari karya seni dan hobi. Tapi ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan sebelum membulatkan tekad untuk menghiasi tubuh kita dengan tattoo, terutama yang permanen yaitu :

1. Apakah anda punya alergi dengan tinta tattoo
Tidak semua orang mempunyai kulit yang tahan dengan segala macam tinta atau cat warna untuk kulit dan rambut. Contohnya saya sendiri. Kulit saya termasuk sensitif dan alergi terhadap segala bentuk tinta-tintaan. Dulu pernah saya mencoba untuk mewarnai rambut (toning). Tidak sampai setengah hari, kulit kepala saya bentol-bentol terasa gatal. Karena gak kuat, akhirnya saya garuk-garuk. Sehingga menimbulkan luka di kepala. Dan itu pasti berlangsung selama seminggu. Setelah 2 kali punya pengalaman seperti itu, akhirnya saya kapok untuk tidak mewarnai rambut lagi. Seperti juga cerita saya di atas, ketika membuat tattoo temporary tersebut.
Nah, jika kulit anda termasuk golongan ‘rewel’ dan sensitif pada alergi, maka perlu konsultasi pada dokter kulit yang berpengalaman ketika mempunya keinginan untuk membuat tattoo tersebut. Selain itu, pastikan juga Anda menghindari hal-hal yang menyebabkan infeksi saat tattoo dibuat. Sedangkan tips aman sebelum bertattoo ada link bawah artikel ini.

2. Alasan apa ingin punya tattoo
Jika anda berkeinginan membuat tattoo permanen, yang perlu dipikirkan adalah bahwa tattoo tersebut tidak hanya melekat dalam sehari dua hari saja. Tapi sampai selama kita hidup. Sedikit ataupun banyak pasti berpengaruh pada identitas diri anda. Ini juga penting karena supaya tidak ada penyesalan di kemudian hari. Jika anda sudah yakin untuk membuat tattoo, yang jelas tidak bisa dihapus begitu saja kecuali dengan teknologi laser. Dan itu membutuhkan dana ekstra yang tidak murah. Kulit kita pun tidak bisa normal seperti semula. Pastikan bahwa anda akan membuat tattoo karena alasan yang tepat. Biasanya karena kita berkecimpung di dunia entertaint atau pelaku seni  (terutama seni lukis tattoo).

3. Minta pertimbangan dan ijin dari orang tua atau orang terdekat
Berhubungan dengan identitas yang nantinya melekat atas penilaian masyarakat, maka dianjurkan sebelum anda membuat tattoo supaya bicara dulu dengan orang tua, suami, istri, pacar atau orang yang terdekat. Karena merekalah yang nantinya bisa memberi pengertian dan penjelasan ketika orang lain bertanya dan memberi penilaian terhadap anda. Kalau sudah saling terbuka, apapun komentar dari masyarakat tidak akan membuat hubungan dengan orang terdekat menjadi buruk atau keruh. Karena kultur kita masih sangat beda dengan budaya luar negeri.

4. Sudah siap dengan respon dari lingkungan (masyarakat)
Meskipun kita hidup di jaman modern, sudah banyak masyarakat yang memahami bahwa tattoo sudah menjadi bagian dari seni dan kreatifitas, tapi banyak juga masyarakat kita yang belum semua bisa menerima tattoo. Terutama di kota-kota kecil dan daerah yang berbasis agama. Juga tidak semua instansi bisa menerima karyawan bertattoo (terutama wanita). Hal ini  yang perlu menjadi pertimbangan matang.

5. Telatenkah merawat tattoo
Urusan tatto tidak selesai begitu saja ketika gambar tatto sudah kelar menghiasi badan. Terutama untuk tattoo permanen. Karena tinta-tinta itu berinterkasi dengan kulit sehingga bentuk dan warnanya bisa berubah. Sering terkena gesekan fisik (seperti baju), maka bahan kimia dan sabun bisa mengubah kualitas tattoo. Oleh karena itu tattoo di bagian tangan biasanya lebih awet bentuknya. Perlu juga dipikirkan resiko jika terkena infeksi di kemudian hari atau gangguan kesehatan lainnya. Cari tahu pada ahlinya, bagaimana cara merawat tattoo agar kualitasnya tetap terjaga hingga jangka waktu yang lama.

Makan bertattoo lah dengan aman dan sehat… Selamat ber-TATTOO ria…..



Catatan harian, 02 November 2014
Pukul : 20.45

No comments:

Post a Comment