Saturday, February 21, 2015

Pengurbanan Seorang Anak Yatim

Hari raya qurban baru terlewati 2 hari yang lalu. Bau kambing juga masih menyengat hidung, di sepanjang jalan kecuali di rumah saya (karena gak ada yang doyan daging kambing dan gak bakalan mau terima meski di kasih hehehehe). Hanya penjual sate yang sementara libur, karena pasti tidak laku. Kalah pamor sama sapi atau kambing yang banyak dibagikan secara gratis.

Saya dan keluarga merayakan lebaran di kampung halaman tercinta, Madiun. Tapi tidak lama berada di kota kecil itu, hanya 2 hari. Minggu pagi setelah sholat Ied, saya mengantar ibu mengecek hewan korban yang dititipkan untuk di sembelih di satu masjid. Hampir 3-4 jam berkutat mengurusi daging yang hendak di bagi-bagikan, akhirnya kami harus kembali ke Surabaya. Ibu sudah menawarkan saya dan adik untuk membawa beberapa bungkus daging sapi. Ditawarkan pula untuk di masak rendang atau lapis daging dulu, supaya kalau sampai rumah tinggal diangetin. Karena Madiun-Surabaya membutuhkan waktu sekitar 3-4 jam, kalau tidak dimasak, bisa-bisa hidup lagi itu daging saking kelamaan di tengah jalan. Tapi saya dan adik tidak mau, padahal disunnahkan bagi yang ber-qurban untuk turut menikmati sebagian (kecil) dari hewan yang diqurbankan itu.

Sampai di Surabaya masih agak sorean, saya kaget ketika melihat isi kulkas penuh dengan daging mentah. Untung saja tidak ada daging kambing. Bisa muntah-muntah tuh orang serumah hehehehe. Saya nanya si sulung yang jaga gawang selama di tinggal mudik.

“Daging dari siapa saja tuh mas…?”

“Nih….ada daftarnya ma?” jawab dia sambil ngasih selembar kertas dengan beberapa nama yang tertulis di situ.

Oh ternyata dia catet. Mungkin karena yang ngasih juga termasuk banyak, dan dia juga tidak mau kerepotan kalau suatu waktu saya nanya. Karena meskipun tinggal di perumahan, setiap hari raya qurban pasti banyak yang bagi-bagi daging. Saya baca satu persatu. Kebanyakan adalah penyumbang tetap dan termasuk orang berada. Tapi mata saya berhenti ke satu nama yang selanjutnya mengundang tanya tanya :  Muhammad Kevin Al Fariskhi??

Nama yang unik tapi bagus itu sangat melekat dalam ingatan saya. Umurnya baru 11 tahun, kelas 6 SD. Tinggal di jalan yang sama hanya beda gang. Saya sangat kenal betul dengan ibunya, bu Soffie -  yang seorang guru PAUD dan mengajar mengaji kalau sore hari. 2 tahun yang lalu ayah Kevin, panggilan dari Muhammad Kevin Al Fariskhi – di panggil oleh Alloh SWT karena kecelakaan. Jadilah bu Soffie seorang janda dan Kevin adalah anak yatim.

Beberapa pertanyaan muncul dalam benak saya. Betulkah Muhammad Kevin Al Fariskhi itu adalah Kevin putranya bu Soffie? Mengapa anak seumuran dia sudah terpikir untuk berqurban, padahal ibunya bukan orang yang berada? Apa bukan dia yang seharusnya menerima daging qurban dari kami? Kemudian saya mencoba mengkoreksi sendiri pertanyaan yang ada di benak saya itu. Memang tidak salah untuk siapapun yang punya niat berqurban. Bahkan itu kewajiban setiap orang muslim. Siapapun pasti ingin juga berbuat sesuatu yang berguna bagi orang lain dan mendatangkan pahala bagi dia sendiri.

Untuk menghilangkan rasa penasaran, dengan gaya sok “wartawan” saya coba mengorek kisah pribadi Kevin dengan tujuan supaya bisa dijadikan bahan pembelajaran bagi orang lain terutama saya. Dan betul seperti yang saya duga, Kevin yang memang dilahirkan dari orang tua yang sangat religius itu tidak mau mengesankan kalau anak yatim itu bisanya hanya meminta. Dia juga ingin mengumpulkan pahala sebanyak-banyaknya untuk bekal di akherat kelak, dan berbuat sesuatu yang berguna untuk orang lain.

Walaupun tidak pernah meminta untuk di bantu, setiap orang pasti berlomba-lomba memberikan sesuatu kepada anak yatim. Karena anak yatim itu pembawa berkah dan rizki. Mereka di sayangi malaikat dan di cintai Alloh SWT. Setiap bulan Kevin selalu mendapat donatur yang bisa mencukupi kebutuhan sekolah dan sehari-hari. Tapi dia tidak lupa menyisihkan rizki yang dia dapat untuk di tabung. Hasil dari tabungan itulah yang mampu dia wujudkan membeli seekor kambing untuk di qurbankan.

Subhanalloh…. Anak sekecil Kevin sudah mampu berfikir secerdas dan secermat itu. Betapa bangganya almarhum ayahnya dan bu Soffie memiliki anak sesantun dia. Dan yang tertinggal dalam pikiran saya saat ini adalah…. Terlepas dari rasa ikhlas dan tujuan menolong sesama yang kekurangan, tepatkah daging-daging qurban itu dibagikan kepada warga perumahan yang tergolong mampu, termasuk diberikan kepada saya???


Catatan harian, 07 Oktober 2014
Pukul : 21.22 WIB

***

"Artikel ini diikutsertakan pada kompetisi BLog Nurul Hayat : Nyala Inspirasi untuk Negeri"

No comments:

Post a Comment