Saturday, February 21, 2015

Pelajaran Hidup Dari Mantan "Pembantu"

Sebenarnya saya masih belum dalam kondisi “FIT” untuk kembali menulis. Rasanya kok belum ada mood atau “feel” tepatnya. Entah karena masih capek dengan ritual mudik atau karena kedahuluan muncul rasa malas yang lebih mendominasi akhir-akhir ini dalam mencari ide tulisan. Tapi anehnya, justru saya sangat antusias dan seperti menemukan keasikan tersendiri ketika kasih komen di beberapa artikel teman-teman. Atau itu yang namanya jenuh ya?

Total hanya 1 minggu saya membutuhkan waktu untuk mempersiapkan momen mudik lebaran kali ini. Karena sejak sebelum puasa, tenaga dan pikiran terkuras untuk fokus mencari sekolah anak saya nomor 2 yang meneruskan jenjang ke SMA. Setelah urusan sekolah selesai, selanjutnya tenaga pikiran terus bersinergi menyusun rencana pulang dengan segala pernik dan tetek bengeknya.

Tapi kali ini saya ingin sedikit “memaksakan” diri  memberi pemanasan pada tangan dan otak untuk menulis artikel lagi supaya tidak kebablasan mengenakkan diri hanya berkomen-komen di artikel teman. Memangnya ada yang “memaksa”? Tidak juga… Yang jelas kalau sudah terbuai agak lama, pasti jadinya malas dan ditakutkan keenakkan melanda secara berkepanjangan. Gawat juga kalau sense of “menulis” saya akan sedikit demi sedikit menghilang. Karena satu-satunya obat stress saat ini hanya menulis artikel dan berinteraksi dengan teman-teman di Kompasiana.

Cerita saya awali ketika hari menjelang sore di lebaran ke-3, kami dikejutkan dengan kedatangan seorang tamu yang tidak di sangka-sangka. Seorang pria dengan membawa istri dan 4 orang anaknya. Namanya Sumadi, sekitar tahun 1987-an dia pernah ikut keluarga kami ketika waktu itu umurnya baru menginjak 13 tahun. Sebenarnya DI (nama panggilannya) masih keponakan dari anggota (anak buah) bapak saya yang seorang tentara. Mereka tinggal di desa Gemarang, Saradan – di pelosok tengah hutan jati. Orang tuanya tidak mampu maka DI dititipkan ke orang tua saya untuk bantu-bantu kerjaan rumah, asal bisa sekolah. Kurang lebih selama 3 tahun saja dia ikut kami, sejak kelas 1-3 SMP. Ketika menginjak bangku SMA, dia di suruh pulang oleh ibunya. Kami pikir dia akan bertani atau berjualan ikan seperti kebanyakan mata pencaharian orang-orang di desanya.

Singkat cerita, setelah lulus SMP sekitar tahun 1990 dia  memang terpaksa harus kembali ke kampung halamannya. Tentunya dengan berat hati, karena sebenarnya DI masih ingin melanjutkan sekolah sampai STM. Dia bercita-cita ingin menjadi Insinyur yang kelak akan membangun desanya. Belakangan baru kami tahu, kalau dia menggantikan tugas ayahnya yang makin sakit-sakitan - sebagai petani dan yang sekarang sudah tidak mampu bekerja untuk menghidupi keluarganya. Selanjutnya kami tidak pernah bertemu, meski kata ibu beberapa kali DI sempat main ke rumah. Apalagi sejak tahun 2004 kami pindah rumah dari mess Kodim yang sudah kami tempati selama 30 tahun ke rumah pribadi di jalan Thamrin. Praktis kami putus komunikasi. Bahkan saya sempat lupa dengan sosok yang sudah kami anggap sebagai bagian dari keluarga sendiri.

Dari obrolan panjang sore itu, DI banyak menceritakan perjalanan hidupnya yang sangat menakjubkan setelah tidak ikut kami lagi. Sempat membuat kami tercengang sekaligus kagum. Dan beberapa catatan yang saya garis bawahi dari cerita dia yang pantas di acungi jempol adalah :

1. Ternyata sudah hampir 4 tahun dia berusaha mencari-cari alamat rumah kami yang baru. Dia tidak pernah merasa putus asa. Dan dia sangat yakin suatu saat pasti akan menemukan keluarga yang telah dianggapnya turut berjasa dalam menanamkan semangat dan memberi kesempatan untuk terus sekolah. Seperti anak ayam yang kehilangan induknya, dia mencoba menyusuri satu per satu teman ibu yang sebagian masih dia ingat. Beberapa nomor telpon yang mereka berikan juga sudah banyak yang ganti, sehingga ketika DI menelpon ibu tidak satupun yang bisa nyambung. Sampai akhirnya dia menemukan alamat keluarga kami lewat pemilik toko kue yang menjadi langganan lama. Berbekal alamat lengkap itulah akhirnya silaturahmi itu tersambung kembali di momen lebaran kemarin. Tidak ada maksud DI untuk pamer ataupun membanggakan diri. Justru dia ingin berterima kasih dan menunjukkan kepada kami bahwa tidak mungkin dia bisa seperti ini kalau tidak karena jasa ayah dan ibu menyekolahkan dia 3 tahun di SMP. Kami turut senang, terharu dan terus berucap syukur melihat dia nampak begitu bahagia dengan istri dan 4 orang anaknya.

2. Sedangkan waktu itu, meskipun dengan terpaksa dia harus kembali ke kampung halamannya. Menggantikan tugas ayahnya dan mengubur mimpinya untuk menjadi seorang Insinyur, tidak membuat DI kehilangan semangat untuk tetap ingin melanjutkan sekolah. Dan Tuhan selalu menunjukkan jalan kepada hambanya yang sabar serta punya niat baik. Tiba-tiba ada tetangganya kebetulan seorang Kepala Sekolah menawari DI untuk bekerja sebagai penjaga sekolah yang baru di buka di desa itu. Sebagai gantinya, DI diijinkan untuk menuntut ilmu di sekolah tersebut yang ternyata setingkat SMA yaitu STM secara gratis. Pucuk di cinta ulam pun tiba. Cita-cita DI untuk bisa sekolah di STM akhirnya terlaksana. Sampai dia lulus dengan nilai tidak terlalu mengecewakan, sehingga mendapat tawaran dari Kepala Sekolah tersebut untuk bekerja di Surabaya. Di situlah awal dari karir dan ekonomi hidupnya semakin meningkat dan berkembang atau bisa dikatakan mapan.

3. Meskipun dia belum mampu mewujudkan cita-citanya menjadi seorang “tukang insinyur” dengan gelar Ir di depan namanya, tapi paling tidak sebagian harapan dia sudah berhasil dia wujudkan untuk menjadi seorang ahli bangunan atau bahasa kerennya mandor. Keberhasilan itu dia buktikan dengan bisa menyekolahkan ke 4 anaknya, meskipun yang paling besar masih kelas 3 SMA. Dia tidak ingin anaknya mendapat nasib yang tidak beruntung seperti dia waktu kecil. Kalau bisa malah sekolah setinggi-tingginya melebihi dia. Dalam segi ekonomi, terlihat dari kendaraan roda 4 yang menjadi alat transportasi ketika berkunjung ke rumah kami, juga rumah pribadi dan beberapa petak sawah yang sekarang dia miliki – menunjukkan bahwa dia termasuk orang yang ulet dan pantang menyerah.

Dari catatan kecil tersebut di atas, semoga kita bisa mengambil banyak manfaat dan sisi positif. Betapa tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Sekeras apapun perjuangan hidup yang kita terima, pasti akan ada jalan keluar jika di sertai doa, tekad dan semangat yang tak pernah padam. Semoga masih banyak DI-DI yang lain dengan semangat membangun kampung halamannya supaya tidak tertinggal dari kota-kota yang lain.

Selamat malam INDONESIA….

***

Catatan harian, 03 Agustus 2014
Pukul : 21.15 WIB

No comments:

Post a Comment