Saturday, February 21, 2015

Pelabuhan Cinta

Riak-riak kecil ombak menyapu lautan,
merusak pasir pantai yang berserakan,
diiringi barisan gelombang menerobos dengan tenang,
sejuk membasuh jiwa  para petualang,
yang tiada henti menuliskan jejak kenangan,
dalam persinggahan akhir di setiap pelabuhan…

Camar berkejaran di antara awan yang biru,
pelan meninggalkan ujung dermaga yang sepi kelu,
merebak panas di sudut belahan bola mataku,
butiran kristal terurai tak mampu menepis gundah kalbu,
dan ketika sejumput asa melintas ragu,
senja kembali hadir membawa rona yang sendu,
terhampar kelam di pelabuhan rindu…

Lihatlah gelombang yang menderu,
seakan menyanyikan lagu cinta nan merdu,
yang mengikat kuat hati kita tuk kembali menyatu,
maka, tunggulah aku di bibir pantai itu,
dibatas akhir muara kusandarkan kapalku,
pun kulabuhkan segenap jiwa ragaku,
janjimu…di malam purnama setahun yang lalu…

Rindu ini bukan untuk mengurai air mata,
juga bukan untuk mengumbar benci di jiwa,
atau bongkahan dendam yang membara,
tapi bercerita tentang segumpal asa berbalut cinta,
lewat sinar purnama yang berpendar indahnya,
melintas mimpi dengan isyarat rahasia,
ketika janji terucap dari bibir untuk saling setia…

Wahai pencuri hatiku,
ketika hujan membasahi setiap lekuk pantaiku,
ketika petir berteriak memanggil namamu,
menggambarkan pedih dan jeritan jiwaku,
menguntai harapan tuk menagih janjimu,
yang akan kembali bersandar di dermagaku…

Wahai pemilik rinduku,
mampukah angin membawa rintihan kalbu,
atau gelombang yang turut mencari jejakmu,
karena merpati tak sanggup menyampaikan pesanku,
bahkan camar tak sudi memberitahu keberadaanmu…

Di ujung senja yang membawa lembayung biru,
menyapu pandangan dalam keremangan yang sahdu,
pintanya aku tuk berhenti memintal benang rindu,
karena bayanganmu semakin semu,
bahkan tak tergambar dalam desir angin lalu…

Dinginnya angin yang menusuk kulitku,
gelap suasana yang menutup pandanganku,
membuatku tersadar tuk segera meninggalkan pantaimu,
maafkan aku,
harus sejenak mengalihkan bayanganmu dari bingkai gelisahku,
tapi aku tak akan pernah berhenti mengharapkanmu,
karena kamu sudah kutasbihkan sebagai nakhkoda dalam pelabuhan cintaku…


Ruang Rindu, 30 Juni 2014
05.00 WIB

No comments:

Post a Comment