Saturday, February 21, 2015

Ketika Kita Harus MOVE ON

Pasti sudah membayangkan saya lagi patah hati ya? Atau saya akan membahas tentang fenomena sekarang dimana para jablayers dan alayers sering menganggap move on adalah satu episode hidup menuju yang lebih baik ketika mengalami putus cinta atau patah hati. Tidak salah tapi juga belum tentu benar… Tapi saya tidak akan membahas tentang MOVE ON ala ala mereka.

Menurut saya MOVE ON adalah suatu keadaan dimana seseorang di paksa untuk melakukan tindakan “bergerak maju” ketika dirinya dihadapkan dalam keadaan gagal, terpuruk atau “jatuh” untuk menemukan kembali jati dirinya dan mendapatkan hal-hal yang positif seperti sedia kala.

Kembali saya ingin berbagi cerita tentang pengalaman pribadi, dimana pada waktu itu saya memang dalam kondisi dilema serta merasa gagal, sehingga mengharuskan saya berusaha serta berjuang keras untuk move on.

Episode pertama :

Saya bekerja sebagai wanita karir cukup lama. Hampir 25 tahunan. Dengan berbagai macam profesi dari Sekretaris, Asisten Manager Purchasing, Wartawan sampai Humas (Public Relation di satu mall). Tentunya saya sudah terbiasa mengisi hari-hari dengan banyak kegiatan di luar rumah.

Tapi satu saat saya dihadapkan pada pilihan untuk fokus pada anak-anak, yang semakin hari semakin dewasa dan butuh perhatian. Di samping ada masalah dengan pembantu yang pernah saya tulis juga tentang Bukan Tentang Inem Pelayan Seksi.

Dilema cukup menghantui keputusan saya, antara masih ingin berkarir karena kebutuhan ekonomi juga semakin tinggi. Tap disisi lain anak-anak juga butuh sekali perhatian saya.

Akhirnya dengan berbagai pertimbangan, terutama adalah kesadaran saya sendiri untuk memutuskan berhenti bekerja dan melakukan aktifitas yang bisa saya kerjakan di rumah. dengan network yang saya miliki selama 25 tahun bekerja, saya yakin bisa melakukan banyak hal tanpa harus keluar rumah. Meskipun saya melalui proses yang cukup sulit untuk bisa menerima kondisi tersebut.

Episode kedua :

Terjadi persis setahun yang lalu, tepatnya bulan Juni 2012. Waktu itu saya bertindak sebagai Promotor Musik yang akan mengadakan Konser Slank di Surabaya. Tahu sendiri kan, kalau mengundang band sekelas Slank pasti urusannya ribet dan ruwet. Tapi kami sudah mempersiapkan semua kemungkinan-kemungkinan dan resiko jauh-jauh hari. Bahkan setahun sebelumnya.

Dengan target penonton sekitar 20 ribu orang, kami mencari tempat yang sekiranya cukup aman dan terkendali yaitu di Lapangan Brigif Marinir 1 Gedangan Sidoarjo. Tentunya semua perijinan, dari ijin lapangan Brigif ke Marinir dan ijin keramain ke Polres setempat sudah kami urus. Dan lancar tanpa hambatan. Sampai H-3 kami pun sudah menggelar gladi bersih dan rapat koordinasi dengan semua pihak termasuk yang punya lapangan yaitu Marinir.

Tapi tanpa di sangka sama sekal, H-2 kami mendapat kabar bahwa konser tersebut harus dibatalkan karena ada himbauan dari pusat Jakarta bahwa waktu itu kondisi negara kita sedang Siaga 1 BBM. Dengan alasan, Slank membawa massa sehingga ditakutkan ada yang menunggangi dengan kepentingan politik. Padahal semua persiapan sudah selesai hampir 90 persen. Tiket juga sudah terjual sekitar 8000 ribu lembar. Dan yang paling mengkhawatirkan waktu itu adalah, para Slankers sudah banyak yang merapat ke lokasi bahkan dari luar kota sampai luar jawa.

Karena memang sudah tidak bisa di tawar lagi, akhirnya kami berkoordinasi dengan semua pihak untuk bisa mengatasi semua kemungkinan-kemungkin timbulnya problem yang tidak diinginkan. Kerugian materi? Jangan di tanya lagi…

Banyak hikmah yang bisa saya ambil dari ke 2 pengalaman tersebut di atas. Meskipun kasusnya berbeda, tapi akibat yang ditimbulkan awalnya hampir sama yaitu terpuruk. Membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa menerima keadaan yang sebelumnya memang tidak pernah kita harapkan. Tapi paling tidak ada beberapa hal yang menjadi pegangan saya, dan itu cukup bisa membuat saya MOVE ON yaitu :

1. Kita tidak bisa menghindari Takdir.
Kita melihat bahwa setiap kejadian adalah takdir yang tidak bisa dihindari. Tantangan dan rintangan dalam hidup adalah bagian dari cambuk untuk memotivasi kita dalam mencapai kesuksesan. Kita juga harus paham, hidup tak selamanya indah, karena selalu ada masa-masa di mana kita merasa sedih dan berduka. Bahkan harus siap untuk kehilangan, apapun itu bentuknya, baik materi, jabatan, kepercayaan, kesehatan atau orang yang kita sayangi sekalipun. Karena sesungguhnya semua itu adalah titipan.

2. Harus Sabar dan Ikhlas
Satu-satunya cara untuk bisa membuat kita tenang adalah menerima semua itu dengan ikhlas. Semua masalah tidak bisa diselesaikan secara instan dan sim salabim. Tapi dengan mengkaji serta merenungi masalah yang ada. Mencari kekurangan dan kelebihannya. Memperbaiki yang sekiranya sudah pernah gagal.

3. Selalu ada Jalan Keluar di setiap masalah.
Kita tahu seberapa besar kemampuan kita dalam menghadapi satu masalah. Supaya kita bisa terus menjadi lebih baik di sepanjang hidup ini dengan belajar mengambil hikmah dari setiap masalah yang kita hadapi. Yakinlah bahwa satu masalah yang berhasil kita selesaikan, berarti kita sudah berusaha menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.

4. Berbagi dengan sahabat atau saudara.
Berbagi cerita atau sekedar sharing bisa menjadi penawar untuk beban yang kita terima. Meskipun tidak menjanjikan untuk bisa menyelesaikan masalah. Karena biasanya mereka tidak bisa merasakan langsung apa yang saat itu sedang kita rasakan. Tapi setidaknya, beban itu akan sedikit berkurang ketika kita bisa berbagi dengan orang yang kita percaya.

5. Jangan Menyerah.
Contoh episode kedua ketika terpuruk dalam bisnis, bahwa kita pernah punya pengalaman dalam menjalankan bisnis tersebut. Pengalaman ini bisa kita gunakan untuk menghidupkan atau membangun bisnis baru lagi. Beserta hikmah yang kita dapatkan sehingga tidak mengulangi kesalahan yang sama kedua kalinya. Kuncinya memang jangan menyerah. Mari bangkit dan membangun bisnis baru lagi yang lebih baik dibandingkan sebelumnya. Plus mengelola perasaan, jangan sampai menghancurkan motivasi kita.

Memang kelihatannya gampang secara teori, prakteknya pasti sulit dan belum tentu kita sendiri bisa menerima keadaan tersebut. Tapi tidak ada salahnya kita disini saling berbagi cerita dan memberi semangat supaya bisa cepat untuk MOVE ON.

Ketika kita jatuh atau terpuruk….Dunia belum kiamat kok :)


Happy Monday


Catatan Harian, 16 Juni 2014
Pukul : 06.08

No comments:

Post a Comment