Saturday, February 21, 2015

Negara "Surga" Yang Menjadi "Neraka" Bagi Anak Negeri Sendiri

Ternyata, nasib “anak negri” tidak lebih baik dari para TKI di luar negeri.

Saya tidak pandai berkomentar apalagi menganalisa suatu masalah, untuk di tulis dan didiskusikan di media seperti kompasiana. Tapi naluri saya sebagai seorang ibu, berontak dan geram kalau hampir setiap hari selalu disuguhi berita di semua media informasi tanah air mulai dari bayi yang di buang, penjualan anak di bawah umur, eksploitasi anak, diterlantarkan, penyiksaan bahkan alat pelampiasan nafsu atau pelecehan seksual. Dan yang lebih memprihatinkan lagi, pelaku justru kebanyakan adalah orang-orang terdekat mereka. Yang seharusnya memberi perlindungan, memberi rasa aman dan nyaman serta membimbing ke arah masa depan yang lebih baik.

Itulah fenomena yang sekarang terjadi di tanah air tercinta yang pernah dengan bangganya kita beri predikat negeri “SURGA”. Surga dengan kekayaan alam yang berlimpah, keramahtamahan masyarakatnya terutama sopan santunnya, kerukunan serta toleransi yang tinggi dan segala macam sebutan yang menunjukkan bahwa kita cukup beruntung bisa hidup dan tinggal di negeri ini. Tapi kenapa sekarang fenomena itu justru membalikkan keadaan menjadi 360 derajat sehingga sekarang predikat “surga” itu menjadi “neraka”. Terutama “neraka” bagi anak-anak kita yang kelak memegang kendali dan memimpin negeri ini. Dan kondisi itu bak jamur yang tumbuh di musim penghujan. Tidak pernah berhenti. Kasusnya selesai satu tapi tumbuh seribu kasus lagi.

Meskipun turut mengecam dan mengutuk pelaku-pelaku (maaf) biadad tersebut, saya tidak mau berkomentar kira-kira hukuman apa yang pantas dijatuhkan pada orang-orang “sakit” semacam mereka. Karena saya percaya, aparat dan penegak hukum yang berwenang tahu ganjaran setimpal apa yang akan membuat mereka bisa kapok dan tidak mengulangi perbuatan tercela tersebut. Walaupun, seberat apapun hukuman untuk pelaku, tidak akan mampu menghapus trauma dan mengembalikan keceriaan anak-anak seperti sebelum terjadi peristiwa itu.

Sekarang saya lebih memilih untuk banyak berkomunikasi dengan keluarga terutama anak-anak, dan bertukar cerita dengan teman terutama yang memiliki anak dalam usia di bawah pengawasan yang intensif. Menggali sebanyak-banyaknya informasi, baik itu dari media cetak, media elektronik terutama internet, dan tetap memantau perkembangan pemberitaan yang muncul di tengah-tengah masyarakat.

Dari semua informasi yang saya terima dan saya kumpulkan, berikut ini adalah sedikit tips sederhana yang bisa menjadi pegangan dalam menyikapi masalah tersebut di atas.

Perubahan Sikap Yang Menandakan Telah Terjadi Kekerasan Seksual :
• Adanya perubahan pada sikap maupun perilaku anak sehari-harinya.
• Biasanya menarik diri dari kontak fisik dan sosial.
• Menunjukkan kemunduran perkembangan secara psikiologis secaratiba-tiba, misalnya perubahan kebiasan tidur, makan, prestasi di sekolah mundur.
• Mengalami masalah dalam hubungannya dengan orang lain di sekolah, misalnya bermasalah dengan kedisiplinan, menghindar dari tugas-tugas, menarik diri, membangkang.
• Meningkatnya emosi, misalnya selalu takut, cemas, mudah tersinggung, mudah marah dan depresi.

Antisipasi :
• Perbanyak mencari dan membaca informasi tentang kekerasan seksual pada anak untuk memahami penyebab, pelaku, dampak pada korban, tanda-tanda yang ditunjukkan anak yang mengalami kekerasan seksual, dukungan yang dibutuhkan serta mengubah keyakinan-keyakinannya yang mungkin selama ini salah.
• Sedini mungkin mengajarkan anak untuk mengenali bagian-bagian tubuhnya sendiri serta menjelaskan daerah mana yang boleh disentuh orang lain dan mana yang tidak. Dan menyarankan supaya segera memberitahukan kepada keluarga apabila ada orang yang melakukan hal-hal yang tidak wajar pada anggota tubuhnya.
• Saling menginformasikan baik itu dengan anggota keluarga sendiri, teman dekat atau orang di sekeliling kita, apabila ada anak yang bersikap atau bertingkah aneh di luar kebiasaanya sehari-hari.
• Supaya tidak mudah percaya pada orang lain, terutama kalau mau di ajak pergi, main ke tempat yang sepi atau memberikan sesuatu semisal permen, minuman atau makanan.


Tips yang sederhana ini saya ambil dari berbagai sumber di internet. Mohon maaf kalau ada kekeliruan dalam menyampaikan informasi, serta mohon tambahan masukan supaya bisa saling memberikan manfaat..


Mari selamatkan Anak Indonesia….


Catatan Harian, 17 April 2014
Pukul : 10:16 WIB

No comments:

Post a Comment