Saturday, February 21, 2015

Menyikapi Tekhnologi Dengan Bijak

Beberapa kali ini, saya kena virus latah. Setelah membaca artikel rekan di kompasiana, tiba-tiba muncul ide yang hampir sama. Sebenarnya memang tidak ada yang melarang, karena gaya bahasa dan mengulasnya dari sudut pandang yang pasti berbeda. Begitu juga kali ini. Setelah membaca artikelnya mbak Mike Reyssent yang terbaru, sontak ide itu langsung muncul. Tapi tetap dengan mengambil cerita dari pengalaman yang saya alami.

Anak saya yang bungsu – Adham, usianya 9 tahun masih kelas 4 SD. Tapi kalau urusan gadget - menggunakan perangkat laptop dan berinternet ria, saya sampe melongo melihatnya. Begitupun dengan dunia maya, sosial media maupun seputar game on line (semoga saya tidak salah menyebut), tidak pernah ada yang mengajari ataupun dengan sengaja membuatkan untuk dia. Memang tidak heran. Anak sekarang cukup cerdas dan kreatif. Dengan hanya mengamati, apalagi kalau sejak kecil sudah sering melihat lingkungan sekelilingnya aktif dalam memakai piranti-piranti canggih tersebut. Entah mulai umur berapa – saya sudah lupa, Adham punya akun fesbuk. Tapi saya memang sudah memantau dari pertama dia mulai terjun di dunia maya ini.

Sebagai supervisornya, saya sempat menemukan beberapa kejadian yang membuat ketir-ketir dan was-was akan dampak dari pergaulan di media sosial. Selanjutnya, untuk menghindari dampak negatif sosial media terhadap perilaku dan perkembangan anak, saya sudah lama membuat aturan-aturan baik yang memberatkan maupun yang meringankan antara lain :

1. Membebaskan anak mengenal dan bersosialisasi di dunia maya.
Karena kita tidak bisa menghindar dari kemajuan tekhnologi yang perkembangannya pesat dan cepat. Apalagi di tunjang dengan perangkat pendukung yang semakin canggih. Lebih baik kita perkenalkan sedini mungkin. Jangan sampai seperti saya, tidak tahu awalnya kapan sampai si kecil mempunyai akun sendiri. Cukup mengkhawatirkan kalau mereka justru tahu bukan dari kita, orang tuanya.

2. Memantau, mengawal dan membentengi dari pengaruh negatif.
Saya harus tahu password semua akun media sosial anak, terutama yang masih di bawah umur. Kalau yang sudah dewasa, paling memantaunya dengan melihat rutin status atau teman-teman dia. Status teman-temannya pun tidak luput dari pantauan saya. Tak jarang saya ikut cerewet mengomentari kalau ada teman dia yang sedikit melenceng. Terutama yang suka tag gambar-gambar porno, saya langsung minta dia blokir temannya. Saya rutin cek fesbuk Adham baik status, komen sampai inbox dia. Tidak jarang saya bertengkar dengan temannya, karena beberapa kali ada yang inbox dengan kata-kata yang kotor. Saya berusaha memberi nasehat dan bilang kalau saya adalah mamanya Adham. Eh dianya gak percaya, malah ngomong jorok dan kotor. Saya minta nomor telpon dia, mau saya telpon supaya dia percaya. Akhirnya dia minta maaf. Gak pake pikir panjang, saya delete dia dari pertemanan.

3. Sering ubah passwordnya.
Ternyata, trend anak sekarang adalah suka tukar menukar password sesama temannya. Beberapa hari terakhir saya baru tahu, ketika di inbox fesbuk Adham ada yang nanya apa password Adham yang baru. Pastinya, Adham saya omelin dan beberapa hari tidak saya bisa buka fesbuk karena password saya ganti dan dia tidak saya kasih tahu. Baru setelah janji tidak tukar menukar password lagi, saya ijinkan dia berfesbukan lagi.

4. Atur jadwal (jam) dalam berselancar ria di dunia maya.
Biasanya saya bebaskan Adham untuk mengintip fesbuknya ketika pulang sekolah, sekitar setengah jam saja. Dia bebas berinternet ketika hari Sabtu sampai Minggu siang (kecuali ada hari libur). Tapi tetap di atur jadwalnya.

5. Harus tegas kalau dia sudah tidak komit dengan aturan yang kita berikan.
Saya kasih warning ke anak-anak, kalau tidak menuruti aturan dan ketentuan yang berlaku (kayak undang-undang aja) saya akan tarik semua fasilitas yang sudah diberikan. Dan akun-akun mereka saya akan tutup (dinonaktifkan). Anak-anak saya, baik yang sulung Thomi (sudah kuliah), Kiki (SMA) sampai Adham tahu banget kalau saya tidak pernah main-main dengan aturan. Sehingga sejauh ini mereka bukan karena takut dengan aturan itu, tapi berusaha sewajar dan senormal mungkin dalam menggunakan tekhnologi terutama bermain di sosial media.

Sebenarnya tidak hanya buat Adham saja, pedoman untuk menyikapi tekhnologi dengan bijak itu juga saya terapkan pada diri saya pribadi. Setiap orang mempunyai alasan dan tujuan sendiri dalam menggunakan media sosial yang semakin marak akhir-akhir ini. Sebenarnya alasan selain untuk memperlancar urusan kerjaan, tali silaturahmi teman dan saudara semakin mudah terjalin di sosial media. Ketika saya merasa banyak memberikan manfaat positif untuk diri saya sendiri, terutama ketika saya menemukan Kompasiana, saya akan mempergunakan semaksimal mungkin dalam hal positif juga. Tapi kalau dampaknya justru negatif, terutama dalam hubungan keluarga dan suami, maka saya harus rela dan sadar untu tidak meneruskannya.

Terakhir, usul untuk mbak dan mas admin Kompasiana. Karena keberadaan Kompasiana makin populer dan mendapat tempat di semua kalangan masyarakat (tidak hanya di Indonesia, tapi sudah merambah ke luar negeri juga kan?). Kayaknya virus menulis juga sudah menjangkiti anak-anak kita. Yaitu virus gatal pengen ikutan menulis dan bergabung menjadi Kompasianer. Bagaimana kalau di buka lapak berupa Liputan Khusus dengan judul Kompasianer Cilik. Jadi mereka mempunyai tempat untuk berlatih menulis, tanpa ngrecoki lapak kompasiner senior. Tentunya harus ada “sponsor” atau penanggung jawab dari orang tuanya (tetap ada ketentuan KTP terlampir), karena nggak mungkin mereka bikin akun sendiri.

Anak saya Adham juga sudah sering merengek minta dibuatin akun di Kompasiana. Karena dia yang paling setia menemani saya mengetik, mengupload sampai memantau jumlah pembaca serta vote. Tanpa saya tahu, dia sudah menulis beberapa artikel. Masih sangat singkat dan belum teratur dalam menata bahasa maupun cara penulisan. Contoh tulisan Adham (tanpa di edit mamanya) :

Namaku adham saya kelas 4 SD cita citaku menjadi tentara kayak yangkung dan pakde. saya suka bermain game online terus terusan, sampe di marahin mama dan saya masih membantah. saya ingin sukses tak ingin menjadi anak bodoh. saya masih pelajar dan saya ingin belajar. mama memberi tahu jika maen game online  sabtu minggu tapi masih saya  bantah. ya allah kenapa ya kenapa aku berani sama orang tua ? aku merasa salah dan dosa. maafin aku ya mama kalo ada salah aku sama mama.

Salam hangat untuk anak Indonesia…


Catatan harian, 25 Agustus 2014
Pukul : 05.05

No comments:

Post a Comment