Saturday, February 21, 2015

Mentariku

Ketika lelah itu bergelayut, ketika letih itu menggamit, dan ketika resah tak juga berpindah,
sinar itupun memudar,
pendar cahaya semakin surut dan akhirnya tenggelam bersembunyi di balik awan,
kepedihan kamu gambarkan lewat awan kelabu,
kedukaan kamu titipkan lewat angin yang berlalu,
karena kamu tak mampu menguraikan rasamu…

Mentariku…
siapa gerangan yang sudah membuatmu gundah?
apa yang membuatmu seakan berkalang masalah?
sehingga membuat sinarmu tak lagi garang, pendarmu tak lagi menantang,
bahkan kehangatanmu langsung menghilang,
namun kamu tetap diam…
gunung yang menjulang tinggikah yang membuatmu iri?
atau langit luas membiru yang membuatmu cemburu?
kamu tetap diam…

Tahukah kamu mentariku,
embun enggan meneteskan kristal-kristal dari surgawi,
burungpun menolak untuk bernyanyi,
bungapun tak mampu bersemi ,
melihatmu mengurung diri,
yang seolah enggan menepati janji,
tuk selalu hadir memancarkan kehangatan di seluruh penjuru bumi…

Mentariku…..
biarkan aku menjadi hujan, yang kan menepis dukamu dan menyapu resahmu,
biarkan aku menjadi pelangi yang memberi warna diusai sedihmu dan kecerahan setelah mendungmu,
menawarkan kebahagiaan dalam setiap nuansa,
walaupun ketika di ujung senja,
ataupun ketika malam menyapa,
aku tetap menghayati kehadiranmu…

Kamu memang bukan bulan, yang memberi cahaya ketika gelap datang…
kamu juga bukan bintang, yang tetap berkedip walau tertutup awan…
tapi kamu bagai selimut yang selalu memberi kehangatan,
menebarkan harapan serta menawarkan kedamaian,
karena kamulah lambang cinta yang tak pernah tergantikan…
Seperti janji-janjimu yang akan datang bila berganti hari,
dan aku yakin, kamu tidak akan pernah mengingkari…
Tetaplah bersinar mentariku….. kutunggu kamu di penghujung pagi


Ruang Rindu, 25 April 2014
02:10 WIB

No comments:

Post a Comment