Saturday, February 21, 2015

Mengenang Ayahku, Mengenang Pahlawanku

Ayahku, Pahlawanku (dok.pri)


Biasanya setiap tanggal 16 Agustus, ayah selalu datang ke Surabaya untuk menghadiri Peringatan Detik-detik Proklamasi HUT RI atas undangan Gubernur Jawa Timur. Beliau datang bersama  rekan-rekan purnawirawan yang tergabung dalam PETA atau Pembela Tanah Air (yaitu para tentara pejuang 45).

Para veteran yang sudah sepuh-sepuh itu di jemput dari Madiun oleh Panitia HUT RI Jawa Timur atas permintaan Gubernur dan menginap di tempat yang sudah disediakan. Baru tanggal 17 siang saya menyusul di Grahadi tempat acara berlangsung, hadir sebagai tamu undangan mewakili keluarga Veteran Pejuang 45.  Acara yang bertajuk “Penghargaan Untuk Pahlawan & Ramah Tamah Dengan Keluarga Veteran” itu berlangsung setelah upacara bendera selesai, sekitar jam 11 an. Saya ingat sekali, sudah 5 kali menghadiri acara tersebut dan menemani ayah untuk menerima tanda penghargaan dari Gubernur Jawa Timur. Karena kebetulan juga wisma Grahadi lokasinya dekat sekali dengan kantor saya di Tunjungan Plaza.

Ayah masih mengikuti acara dari mulai Detik-detik Proklamasi tanggal 17 Agustus sampai pemberiah penghargaan sebagai pahlawan kemerdekaan dari Gubernur sebagai wakil pemerintah. Setelah makan siang baru di beri kebebasan untuk mencari kegiatan di luar protokoler panitia. Pasti beliau minta diantar keliling bertemu dengan 3 putrinya yang tinggal di Surabaya (termasuk saya) tentu saja sekalian melepas kangen dengan cucu-cucunya. Karena waktu itu baru ada 1 mobil yang kebetulan di pakai suami untuk kerja. Akhirnya, saya boncenglah ayah pake sepeda motor keliling Surabaya. Hanya berdua.  Postur beliau yang gagah dan tinggi besar berada di belakang saya yang ukurannya sangat mungil. Tentunya sangat menyolok banget. Beliau memang harus saya bonceng, krn dengan usia yang sudah cukup senja serta pandangan mata yang sudah mulai kurang jelas tidak memungkinkan untuk berkendara atau menyetir diantara lalu lintas yang ramai di kota sebesar Surabaya.

Saya sungguh tidak mengira, ternyata kenangan itu demikian membekas di benak ayahku. Itu diungkapkan pada ibu, dengan mengatakan bahwa beliau sangat terkesan ketika saya bonceng keliling Surabaya dengan begitu tegen (bahasa jawa = mahir dalam bahasa indonesia). Padahal badanku yang mungil tidak sebanding dengan badan ayah yang tinggi besar. Beliau kagum dengan kemandirian dan perhatianku. Tentunya itu juga tak luput dari peran ayah yang tanpa sadar memberikan contoh nilai-nilai kemandirian serta perhatiannya pada kami putra putrinya.
14081629471817999441
Dokumentasi pribadi
Catatan foto : Harus ditanamkan sejak dini rasa cinta pada generasi penerus, supaya mereka bisa menghargai dan selalu ingat jasa para pahlawan dengan mengunjungi makam para pahlawan di Taman Makam Pahlawan (Adham dan Virda tabur bunga di makam kakek di TMP Madiun)


Sekarang tugas kami adalah menanamkan semangat perjuangan terhadap anak-anak sebagai generasi penerus. Berjuang menjaga kedaulatan dan martabat NKRI. Berjuang membangun bangsa Indonesia supaya bisa berkiprah dan bersaing dengan negara-negara besar lainnya di ajang Internasional.

Terutama berjuang untuk menjadi bangsa yang menjunjung tinggi rasa persatuan dan kesatuan dari upaya memecah belah kerukunan antar masyarakat.

Terima kasih Pahlawan-pahlawanku… Perjuanganmu tak mungkin terlupakan dan jasamu tak mungkin terhapus dari hati nurani kami… Doa yang tulus untuk para Pejuang Indonesia, semoga Tuhan memberi tempat yang layak dan terbaik di sisi Nya.


Dedikasi untuk Ayahku

“Sejak tahun 2004 beliau sudah menghadap sang Khalik. Tapi setiap tanggal 16 Agustus saya selalu teringat kenangan manis ini. Ayah….kami akan selalu merindukanmu *love

Ibu dan kakak di malam syukuran kemerdekaan (dok.pri)

Sekarang ibu yang selalu hadir pada acara syukuran kemerdekaan atas undangan pemerintah kota Madiun, dengan di temani kakak. Alhamdulillah beliau masih sangat sehat di usia yang oktober nanti menginjak 75 tahun. Semangat ayah tetap diteruskan ibu, melalui putra putrinya yang sangat bangga akan perjuangan almarhum bersama para rekan-rekan pejuang lainnya.


Ibu menerima tali asih dari pemerintah kota Madiun (dok.pri)




6 comments:

  1. Terharu kalau baca soal ayah. Al Fatiah buat ayahnya Mbak Avy :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. mbak aprilia.... terima kasih sudah berkenan mampir
      saya selalu teringat momen2 berkesan bersama ayah spt cerita di atas
      dan tidak pernah bosan unt berbagi cerita pada teman2 yg lain

      salam hangat

      Delete
  2. eh baru tahu kalau ayahnya, mbak avy nih merupakan pahlawan :')
    bisa dibikin cerita lagi mbak, tentang sang Ayah, diulas gitu cerita kepahlawanan :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. jeng sari....inshaa alloh saya akan membuat buku tentang beliau
      tapi ya gitu.... sok sibuk jadi blogger
      sudah 3 tahun terbengkalai hiks ;(

      Delete
  3. Duh kalau bercerita tentang sosok ayah, saya jadi sedih karena ayah saya juga sudah tidak ada dan rasanya sakit gituh kalau teringat beliaw karena dan sampai sekarang saya serasa nunggu dirumah gituh karena beliaw itu kerjanya diluar kota mulu jadi serasa masih ada.

    ReplyDelete
    Replies
    1. kang nurul.... ayah itu jg kayak separuh jiwa kita ya
      padahal beliau itu nggak serame emak kita hehehe
      di doakan aja kang.... kirim al fatihah
      pasti beliau di sana makin sayang dan turut mendoakan kita

      Delete