Saturday, February 21, 2015

Memutuskan Mata Rantai Bullying

Fenomena bullying memang lagi marak di semua pemberitaan media informasi. Semakin banyak yang terungkap justru membuat kita sebagai orang tua merasa prihatin dan khawatir. Karena hal itu bisa terjadi dimana saja bahkan di sekitar kita. Karena ketika kita cermati, ternyata kasus bullying yang terjadi di kalangan anak-anak sering disebabkan karena hal yang sepele. Contoh yang masih hangat yaitu Renggo siswa kelas 5 SD di Jakarta yang meninggal karena dikeroyok. Gara-garanya adalah dia tidak sengaja menjatuhkan kue temannya. Padahal kue tersebut sudah di ganti uang. Tapi entah setan apa yang merasuki otak anak-anak yang tergolong masih polos itu, sehingga dengan tega mengeroyok dan menganiaya Renggo sampai meninggal. Akhir dari masalah inipun tidak jelas, karena baik polisi maupun penegak hukum juga bingung untuk menentukan vonis terhadap anak-anak yang semuanya masih di bawah umur. Sedang jalan keluar damaipun tentunya tidak akan bisa langsung mengembalikan psikis anak yang sudah telanjur di cap sebagai seorang kriminal.


Saya mempunyai anak laki usia 9 tahun sekarang kelas 4 SD. Sejak kelas 1 sudah sering mendengar cerita tentang teman satu kelasnya yang minta uang dengan paksa pada teman lainnya. Kebetulan pelaku tersebut seorang anak perempuan yang mempunyai badan paling besar di kelasnya. Naik kelas 2 ganti teman laki yang hobi malak. Padahal badannya kecil sekali tapi nyalinya gede banget kalau menggertak dan mengancam korbannya.  Begitupun ketika melewati kelas 3 dan 4, hampir selalu ada cerita tentang temannya yang cenderung mempunyai sifat sedikit “kriminal”. Dan semua permasalahan itu tidak pernah bisa diselesaikan oleh pihak sekolah. Mereka tidak berani mengambil sikap dan takut di ekspose media. Akhirnya para wali murid mendekati orang tua pelaku dan sedikit memberi tekanan, supaya anak tersebut keluar dari sekolah alias pindah tanpa harus di paksa. Saya sendiri tidak pernah ikut memantau masalahnya, karena selama ini saya menganggap anak saya masih cukup aman dari segala macam gangguan.

Lingkungan mempunyai andil besar dalam membentuk kepribadian menjadi lebih agresif, emosi tidak terkontrol dan tidak mampu mengendalikan diri. Bahkan anak SD sekarang sangat “ahli” dalam melakukan bully terhadap kawannya. Dari yang mencubit, memukul, mendorong, mencakar sampai merusak barang temannya bahkan berani memeras (malak). Bahkan sekarang lebih sadis lagi, karena mempersenjatai dirinya dengan senjata tajam seperti pisau.

Jika kita mau sedikit merenungkan, bahwa ada beberapa faktor yang bisa memacu timbulnya sifat suka mem-bully adalah :

1. Pola asuh yang berlebihan.
Terlalu memanjakan, memenuhi semua yang di minta tanpa dipertimbangkan atau tidak pernah menyalahkan anak ketika melakukan kesalahan. Biasanya seperti itu adalah orang tua yang sangat sibuk. Sehingga dia menganggap anak dengan mudah bisa di kontrol bahkan di setir dengan materi.

2. Orang tua sering bertengkar di depan anak-anak.
Kadang orang tua tidak menyadari ketika terbawa emosi serta mengumbar pertengkaran di depan anaknya, sehingga mereka mencontoh perilaku seperti itu. Apalagi kalau terjadinya berulang-ulang di depan mata anak, membuat mereka menganggap itu satu hal yang wajar. Otomatis dia tidak akan merasa bersalah ketika berlaku demikian terhadap teman atau orang lain.

3. Tontonan televisi yang tidak mendidik.
Tayangan sinetron dan program yang mengumbar kekerasan serta memamerkan kekayaan, justru lebih laris manis dan banyak peminatnya. Tak heran bila banyak stasiun televisi yang berlomba-lomba membuat acara dengan hanya berharap mendapat rating tinggi serta pemasukan iklan sebanyak-banyaknya.

Adapun cara membekali anak supaya terhindar dari bullying sekaligus mencegah supaya anak tidak mempunyai sifat yang nantinya mengarah membully adalah :


1. Membekali dengan ilmu bela diri.
Dengan mempunyai kecakapan ilmu bela diri, minimal dia bisa menjaga dirinya sendiri dari segala macam ancaman dan gangguan dari orang lain. Diharapkan juga memberi pemahaman bahwa ilmu bela diri tidak untuk mengajari bagaimana melakukan kekerasan tapi justru bagaimana cara mengantisipasi kekerasan. Tanamkan juga pengertian bahwa dengan berlatih bela diri adalah salah satu alternatif pembentukan mental yang sportif dengan di barengi jasmani yang kuat. Lewat bela diri juga bisa menelurkan prestasi yang membanggakan, baik untuk dirinya sendiri maupun keluarga.

2. Membatasi tontonan yang tidak mendidik.
Saya yakin semua orang tua pasti hapal jam-jam tayang program televisi kesayangan putra-putrinya. Misalkan film kartun atau program hiburan yang sesuai dengan umur dan pola pikir mereka. Kita akan membebaskan mereka untuk menonton acara yang menjadi kesukaan, tapi harus diterapkan pula “jam nonton televisi”. Ketika waktunya jam tidur, beribadah (sholat dan mengaji) dan belajar, televisi tidak boleh dinyalakan. Peraturan ini harus disepakati dan dilaksanakan oleh semua anggota keluarga. Biasakan pula mendampingi mereka, sehingga bisa memberi penjelasan ketika menonton acara yang tidak di ketahui atau banyak hal yang ingin ditanyakan. Hindari tayangan yang bersifat mengekspos kekerasan dan horor. Takutnya akan meninggalkan trauma yang akhirnya mengganggu psikis mereka.

3. Melakukan komunikasi dengan pihak sekolah.
Sebagian besar waktu anak dihabiskan di sekolah dan kita tidak mampu memantau terus menerus. Karena sudah mempercayakan anak di bawah didikan kepada pihak sekolah yaitu kepala sekolah dan guru. Tapi orang tua juga harus mau mengenal teman-teman sekolah baik yang satu kelas maupun dalam lingkungan sekitarnya. Banyak peristiwa bullying yang dilakukan di sekolah. Kadang faktor bisa juga timbul karena guru kurang memperhatikan konsisi anak. Baik dalam kondisi sosial ekonomi, prestasi maupun perilaku anak baik sehari-hari di kelas atau di luar kelas.

4. Meningkatkan rasa sosial untuk menumbuhkan percaya diri.
Mengajarkan anak untuk bisa ber-empati, menghargai serta menyayangi orang lain dengan memberi pemahaman bahwa kita adalah makhluk sosial yang selalu membutuhkan orang lain dalam kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu orang tua harus meningkatkan rasa percaya diri dengan memahami karakter masing-masing anak yang pastinya tidak sama. Terutama anak yang pendiam, suka menyendiri atau jarang bergaul dengan teman-temannya kebanyakan sangat introvert. Mereka kadang di anggap seperti manusia aneh. Tidak heran kalau mereka akan menjadi bahan bully dan permainan teman-temannya.

Di samping pemahaman tentang pentingnya bersosialisasi, energi mereka disalurkan sesuai bakat dan keinginan anak. Misalkan ikutkan les seni musik, seni suara dan menari. Juga tambahan ilmu agama seperti sekolah minggu atau mengaji di Tpa, untuk memperkaya batin dan menumbuhkan rasa takut kepada Tuhan Yang Maha Esa. Sehingga kecerdasan dan kontrol emosional anak akan terkembang sejak dini.

Marilah kita putus mata rantai bullying. Jangan sampai anak kita terlanjur menjadi korban bully atau sebaliknya justru menjadi pelaku. Kita tidak mau kecolongan dan dikatakan gagal dalam mendidik anak. Karena mereka adalah generasi masa depan yang kelak menjadi pemimpin bangsa. Tapi kita tidak bisa melakukan sendiri tanpa kerja sama pihak lain. Di mulai dari masyarakat kecil yaitu keluarga sendiri dan lingkungan rumah, untuk bersama-sama menjaga dan mendidik anak-anak menjadi manusia Indonesia yang Pancasialis.


Semoga pemerintahan yang baru, mempunyai perhatian terhadap semua masalah yang menimpa anak-anak Indonesia akhir-akhir ini. Sekaligus mencarikan solusi dan memberikan jaminan yang lebih aman dan nyaman untuk masa depan mereka.

Selamatkan anak Indonesia...


Catatan harian, 19 Oktober 2014
Pukul : 14.24 WIB

No comments:

Post a Comment