Saturday, February 21, 2015

Melihat Peluang Bisnis Yang Strategis Dan Ekonomis

Maksud saya adalah terjun di dunia bisnis yang tidak membutuhkan modal besar tapi menarik. Masa bisa…? Mana bisa…?
Sedikit intermezo dulu ya….
1403342303451405355
Grand Opening Resto Mayang Suki Cab. Surabaya (dokumentasi pribadi)
1403349661600746428
14033497511402901528
Nebeng Ngetop (dokumentasi pribadi)
Pada bulan Juli 2011 saya di minta oleh alm. Tedy Sujadi (manager artis Mayangsari, pemilik TM Management) untuk menjadi Media Relations acara Pembukaan Resto Jepang Mayang Suki milik artis Mayangsari di Grand City Surabaya. Untuk public figure sekelas Mayangsari, sebagai artis papan atas tanah air dan istri seorang pengusaha tajir Bambang Tri Hatmodjo – acara Grand Opening terkonsep dengan sangat mewah dan meriah. Desain interior resto begitu artistik dan modern, menu yang beraneka ragam sangat berlimpah, tamu undangan yang terdiri dari komunitas sosialita Surabaya dan Jakarta, plus wartawan baik media cetak, online sampai infotainment  Surabaya maupun Jakarta.

Tapi sayang sekali, restoran tersebut hanya bertahan 2 tahun saja. Saya sendiri selanjutnya tidak mengikut perkembangan. Di samping jaraknya jauh dari rumah, saya tidak terlalu suka masakan Jepang. Ketika beberapa waktu lalu saya jalan-jalan ke Grand City, sudah tidak ada papan nama Mayang Suki. Dalam hati saya hanya membayangkan dan menyayangkan sekali, sudah berapa ratus juta dana yang dikeluarkan untuk membangun bisnis itu. Sebenarnya kalau dijalankan dengan telaten, pasti bisa bersaing dengan bisnis makanan yang sudah ada, termasuk golongan fast food. Karena dari konsep sebagai restoran jepang tapi taste indonesia serta harga yang terjangkau, Mayang Suki punya kelebihan yang berbeda dengan restoran Jepang lain yang sudah ada.

Kembali ke laptop….

Semua pasti punya keinginan untuk memiliki usaha sendiri. Tidak mungkin seterusnya akan jadi pegawai atau ikut orang. Kecuali Pegawai Negri atau bekerja dengan ikatan kontrak dalam jangka waktu yang panjang. Mereka kebanyakan pun mempunyai keinginan untuk mempunyai usaha sampingan, dengan mencoba belajar berbisnis. Tapi tidak semua orang mempunyai cukup modal untuk terjun ke bisnis yang diinginkannya.

Demikian juga saya sendiri. Setelah beberapa kali saya gagal dengan berbagai macam bisnis, akhirnya saya mencoba menekuni bisnis asesoris. Awalnya karena harga asesoris di toko saya rasa semakin mahal dan cepat rusak. Sayangkan kalau sudah membeli dengan mahal tapi tidak awet. Beda kalau kita membuat sendiri, dipadupadankan busana yang akan kita kenakan, sekaligus bisa memperbaiki sendiri kalau rusak.

Bisnis itu muncul dengan beberapa pertimbangan yang matang, karena saya tidak mau sekedar iseng atau main-main seperti yang sudah-sudah. Terutama mengatasi rasa bosan yang biasanya lebih sering mengganggu. Pertimbangan tersebut adalah :

1. Di Mulai Dari Hobi.
Semua wanita pasti punya hobi belanja, termasuk saya. Tapi saya tidak pernah punya keingian membeli sesuatu tanpa perencanaan, seperti orang lapar mata kalau melihat diskonan terus langsung beli. Biasanya saya belanja tapi sudah saya rancang dulu. Karena saya orangnya suka memadu madankan busana yang matching antara baju, sepatu, tas dan asesoris. Atas saran dari suami juga, saya mencoba bisnis yang tidak jauh-jauh dari hobi saya itu. Sehingga akan mengurangi resiko bosan dan irit buat belanja juga. Karena asesoris yang saya pakai, di samping sebagai contoh tapi juga bisa di jual kembali. Memang sih kebanyakan teman-teman tertarik kalau produk itu sudah selesai saya pakai.

2. Tidak Membutuhkan Modal Yang Besar
Bahan-bahan asesoris sekarang banyak sekali di jual di toko atau pasar. Sangat mudah juga mencari informasi di internet, dimana kita bisa mendapatkan peralatan yang kita butuhkan plus panduan cara membuatnya. Harganya bisa disesuaikan dengan kantong, karena membeli peralatan dan kebutuhan bisa dalam jumlah sedikit demi sedikit. Apalagi kalo masih dalam taraf belajar, ada juga yang menjual bijian.

3. Mencari Berbagai Peluang Dari Bisnis Yang Ditekuni.
Tidak hanya membuat dan lalu di jual sendiri, saya berusaha membagi ketrampilan untuk orang lain. Selama ini saya hampir sebulan sekali di undang ke beberapa RT untuk mengajari cara membuat asesoris tersebut. Sekarang sudah mulai jalan Program Pelatihan untuk komunitas-komunitas yang lebih besar seperti Persit, Bhayangkari, Hijabers daerah Sidoarjo dan beberapa perkumpulan bentukan sendiri. Ada kebahagiaan tersendiri ketika saya bisa berbagi ilmu dan memberikan sesuatu yang berguna, di samping menambah teman dan relasi.

4. Jangan Berharap Untung Besar Di Awal, Tapi Yang Penting Rutin
Awalnya saya membuat giwang warna warni dengan harga yang cukup murah yaitu 10 ribuan. Saya tawarkan ke tetangga ibu-ibu kampung untuk mengambil secara grosir dengan harga yang lebih murah. Mereka jual kembali ke toko-toko asesoris atau ke sekolah-sekolah terdekat (biasanya Paud dan TK). Sehingga tetangga saya juga mempunya kegiatan yang bisa memberikan masukan ekstra. Daripada sehari-hari hanya manyun atau diisi dengan ngerumpi yang gak jelas.

5. Sering Promosi.
Memanfaatkan relasi yang berkecimpung di dunia hiburan, maka saya promosikan dengan beberapa macam cara diantaranya adalah :
a. Menawarkan beberapa stasiun televisi lokal Jawa Timur untuk di pakai para presenternya dengan memakai asesoris saya. Sehingga nama brand saya bisa diperkenalkan dengan menyebut atau mencantumkan pada akhir acara. Termasuk juga ke media cetak untuk rubrik mode, fashion atau perhiasan.

b. Menawarkan ke teman-teman atau kenalan yang mempunya anak model dan suka ikut fashion show, bisa saya pinjami dengan gratis. Biasanya mereka langsung tertarik membeli setelah selesai acara, atau ada rekan mereka yang minta informasi dimana bisa membeli perhiasan itu.

c. Saya sering ikut pameran UKM atau bazaar. Di samping ada pemasukan dari penjualan, juga banyak rekanan untuk bisa bergabung di organisasi pemerintah yang sangat peduli dengan kerajinan hasil buatan tangan sendiri. Siapa tau bisa di kirim ke luar negri menjadi wakil Indonesia…. Boleh dong bermimpi?
1403342973516211010
Surabapa Post (dokumentasi pribadi)
Kesimpulannya yang bisa saya ambil dengan memilih asesoris seperti giwang, gelang, kalung, bros dan lainnya sebagai peluang binsnis yang strategis dan ekonomis karena :

Strategis : karena asesoris termasuk kebutuhan utama semua perempuan, baik dewasa maupun anak-anak. Kadang mereka mau mengeluarkan banyak dana untuk membeli asesoris guna menunjang kecantikan dan kesempurnaan penampilan. Peluang ini juga banyak di lirik oleh pengusaha garmen dan fashion karena  cukup bagus untuk potensi bisnis masa depan. Asal dibarengi dengan ide yang selalu kreatif dan inovatif.

-Ekonomis : memulainya tidak membutuhkan modal yang besar. Cukup dengan 200 ribu saya bisa membuat 5 stel giwang, gelang dan kalung. Karena bahannya mudah di dapat dan murah (disesuaikan dana yang ada). Perputarannya juga sangat cepat, karena kebetulan sekitar rumah banyak TK dan Paud. Biasanya ibu-ibu yang mempunyai anak perempuan kecil suka membelikan asesoris yg beraneka warna. Karena murah (giwang cuma 10 ribu), biasanya beli sampai 5 pasang dengan aneka warna.

Itulah sedikit sharing dari pengalaman saya… Selamat mencoba yaaa….


Catatan harian, 21 Juni 2014
Pukul : 16.30

No comments:

Post a Comment