Saturday, February 21, 2015

Kesan Ketika Saya Diplonco Dan Memplonco

Saya tidak tahu apakah sebelumnya sudah ada yang menulis artikel tentang perploncoan di kompasiana ini. Saya juga tidak dengan sengaja mencari tahu dulu sebelum saya menulis topik ini. Karena saya yakin, setiap tulisan menggunakan bahasa yang berbeda dan penilaian dari sudut pandang yang tidak sama. Apalagi yang saya ulas di sini “masih tetap” seputar pengalaman pribadi. Semoga bisa menjadi bahan perbandingan dalam sudut pandang yang positif.

OPSPEK di jaman saya kuliah dulu adalah singkatan dari Orientasi Perkenalan Siswa & Pengenalan Kampus. Jadi, tidak ada kegiatan yang namanya Opspek selain mahasiswa yang baru akan masuk kuliah. Tidak seperti jaman sekarang, mau masuk SMP atau SMA saja wajib pakai Opspek (istilah sekarang saya kurang faham). Dan tidak ayal, yang direpotkan juga pasti para orang tua. Ikut kalang kabut nyari barang yang aneh-aneh. Akhirnya jadi ikut-ikutan jengkel sama ulah para “senior”.

Istilah PERPLONCOAN juga sudah kita (saya) kenal sejak dulu. Kurang lebih artinya semacam “pembantaian” untuk para mahasiswa baru. Hiiiiiii….serem kan? Saya beri tanda kutip, karena persepsi tiap orang beda dalam mengartikannya. Tapi tetap mengandung arti yang seram dan sadis. Dan kata itu semakin akrab di telinga saya, ketika saya memasuki masa kuliah. Dimana saya pernah menjadi “yang di plonco” dan selanjutnya menjadi “yang memplonco”.

Ketika menjadi mahasiswa baru di kampus Politeknik Unibraw Malang, kami mendapat 2x perploncoan. Pertama adalah Opspek yang dilakukan oleh Senat Mahasiswa fakultas, sedang yang kedua adalah Wajib Militer yang merupakan program wajib dari kampus. Keduanya hampir sama, latihan fisik dan mental. Selisih waktunya hanya beberapa hari. Sehingga anda bisa bayangkan, dalam sebulan penuh kami harus menghadapi senior-senior yang “berdarah dingin” ketika melihat kami para yunior yang masih imut, lugu dan polos.

Kedua perploncoan itu misi visinya jelas. Menanamkan rasa disiplin dan ketahanan mental yang kuat dalam jiwa para mahasiswa baru. Tujuannya adalah mencetak generasi penerus yang tangguh, terlatih dan ksatria (tidak pengecut). Meskipun, hampir tiap hari kami kenyang oleh bentakan, cacian bahkan tindakan dalam bentuk hukuman fisik, tapi tidak ada dendam ataupun kenangan jelek yang tertinggal sampai sekarang. Bahkan membentuk hubungan kami, antara senior dan yunior makin solid.

Waktupun berputar. Setelah setahun menjadi mahasiswa, saya beruntung bisa ikut aktif menjadi pengurus Senat Mahasiswa Politeknik dengan jabatan sebagai Sekretaris. Otomatis seluruh program kemahasiswaan saya turut serta dilibatkan. Termasuk ketika akan diselenggarakannya program Opspek. Seneng banget dooooong. Sudah membayangkan “balas dendam” apa yang akan kita lampiaskan kepada yunior nanti.

Memang, BALAS DENDAM sudah menjadi opini yang terbentuk ketika kita mendapat kesempatan untuk menjdi panitia Opspek. Jangankan ketika di tindak atau di hukum, ketika senior membentak saja ada rasa tidak terima dan marah yang meninggalkan dendam. Tapi ketika pelaksanaannya, hati nurani lebih bicara. Sepahit apapun perlakuan senior kepada saya ternyata tidak pernah meninggalkan bekas marah atau dendam. Sehingga sayajuga tidak mempunyai daya untuk “merusak” pikiran adik-adik mahasiswa baru itu dengan kesan yang jelek. Saya tetap memplonco mereka dengan tegas, keras bahkan sedikit “sadis”, tapi masih tetap mengedepankan pendidikan mental yang positif. Dan sepertinya berhasil. Karena saya akhirnya mendapat predikat senior tergalak tapi sekaligus favourite (ini beneran lo…). Bahagia dan bangga meski mendapat hadiah sepasang sandal jepit dari adik2 yunior.

Dari 2 pengalaman yang saya alami, meskipun sama tema tapi beda posisi adalah nilai2 luhur yang terkandung dalam misi visi program pembinaan tersebut. Dan hal2 yang terlupakan yang seharusnya ditanamkan oleh para senior kepada yunior adalah :

1. Sifat yang mandiri.
Melatih melakukan banyak hal secara sendiri dan tidak selalu bergantung pada orang lain. Ketepatan waktu dan ketangkasan sangat menentukan nilai dan kualits diri selanjutnya.

2. Setia kawan.
Sebenarnya tanpa kita sadari, ada rasa bersaing yang ditanamkan para senior pada diri kita. Tapi ada saat2 tertentu, dimana kita harus memikirkan orang lain yang memerlukan bantuan. Nilai kesetiakawanan tidak bisa digantikan dengan apapun, karena yang berbicara adalah hati nurani.

3. Solid dan loyal.
Dengan kesan positif yang di terima oleh para yunior setelah masa orientasi selesai, penghargaan dan rasa cinta yang makin dalam terhadap almamater terutama pada senior akan membentuk karakter mereka lebih solid dan loyal.

4. Memunculkan rasa terima kasih kepada para senior yang telah memberikan pelajaran tentang nilai2 kemanusiaan, kedisiplinan dan ketauladanan untuk bekal memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Tujuan utama Opspek yang ingin memperkenalkan dunia kampus dan sosialisasi kegiatan ekstra pada kenyataannya, pelaksanaan Opspek sangat melenceng dan jauh dari tujuan mulia dunia pendidikan. Dan yang sangat memprihatinkan, dunia pendidikan kita yang masih terombang ambing dengan kurikulum baru, justru lebih marak dengan aksi-aksi premanisme dan brutalisme. Tidak perlu saya uraikan, karena sudah marak diberitakan di semua media bagaimana pelaksanaan Opspek yang keji dan tidak berperikemanusiaan. Yang kita takutkan, bagaimana kalau peristiwa itu tidak terendus media? Kalau sudah ada korban berjatuhan, paling hanya ada jawaban “kita kecolongan”. Selesai sudah…

Saya ragu untuk mengatakan, bahwa ini juga pe er yang harus diselesaikan oleh pemerintahan selanjutnya. Karena kalau sudah menyangkut karakter dan perilaku yang menyimpang, baik seseorang atau sekelompok masyarakat, adalah kewajiban bersama untuk membenahi dan merubahnya menjadi lebih baik.

Salam PLONCO damai…..


Catatan harian, 14 September 2014
Pukul : 23.58 WIB

No comments:

Post a Comment