Saturday, February 21, 2015

Jangan Sembarangan Menghukum Anak

Sambil berkutat di dapur, saya menonton televisi yang kebetulan pagi ini sedang menayangkan program kesehatan Dr. OZ. Topiknyapun sangat menarik yaitu jangan sembarangan menjatuhkan hukuman terhadap anak.  Hal sepele namun sering kurang mendapat perhatian dari kita sebagai orang tua.

Karena perhatian saya terbagi dengan kegiatan di dapur, sehingga tidak semua pembahasan bisa saya ikuti dengan baik. Tapi ada beberapa poin yang menjadi catatan saya dan cukup menarik, adalah :

1. Ketika orang tua memberikan hukuman kepada anaknya dengan ekspresi marah, sebenarnya itu bukan karena ingin memperbaiki kesalahan, tapi hanya merupakan pelampiasan emosi saja. Kita tidak menyadari kalau emosi yang tersulut itu bukan murni karena anak yang membawa kesal, tapi tumpukan masalah pribadi yang tidak tersalurkan.

2. Ketika anak mendapat hukuman dari orang tua, karena merasa powernya kurang maka dia akan mencari pelampiasan. Bisa saja hal itu dilampiaskan kepada temannya, adiknya atau anaknya kelak. Karena pola pemahaman seperti itu sudah tertanam sejak dia kecil tanpa penjelasan dari orang tua bahwa sikap tersebut adalah konsekuen dari kesalahan yang telah dia lakukan.

3. Anak butuh saluran komunikasi. Hal ini berlaku juga untuk orang tua yang sibuk bekerja atau kegiatan di luar rumah. Meskipun alat komunikasi sudah serba canggih, tapi kontak fisik secara langsung dengan buah hati bisa memberikan dampak bagus untuk psikis mereka terutama perkembangan sosial dan kepribadian selanjutnya.

4. Kalau tidak perlu menghukum jangan dilakukan. Karena lebih banyak dampak negatif dari positifnya. Sudah banyak contoh di sekeliling kita, bagaimana sekarang banyak pelaku kriminal dari usia anak-anak atau seorang pedofilia mempunya masa lalu yang suram serta perlakuan yang tidak senonoh sejak kecil. Semua itu tidak lepas dari peran orang tua dalam menjaga mereka ketika dalam masa tumbuh kembang.

Contoh sederhana :

Ketika jalan-jalan di mall atau tempat umum lainnya, anak ingin meminta sesuatu dengan ekspresinya seperti anak kecil kebanyakan yaitu merengek, menangis bahkan sampai berteriak. Karena merasa malu atau jengkel, orang tua kemudian marah atau nyubit. Padahal hal tersebut justru akan membuat anak semakin menjadi-jadi menangis.

Hal yang seharusnya kita lakukan adalah, katakan dengan tenang kalau si anak tidak diam, orang tua tidak akan bisa mendengar apa yang dia minta. Atau ajak duduk, dan biarkan dia melampiaskan kekesalannya sampai tangisnya mereda baru di tanyakan apa maunya.

Hal sepele seperti itu, kalau penyampaiannya tidak diluruskan oleh orang tua bahwa itu hal yang tidak bagus. Nantinya akan berdampak jelek untuk perkembangan pembelajaran anak tentang bagaimana melampiaskan emosi dengan benar.
Jika ingin mengubah perilaku seperti itu, disarankan bahwa :

1. Antara ibu dan ayah harus sinkron dan kompak dalam menerapkan aturan di rumah. Supaya si anak tidak bingung dengan aturan yang harus dia patuhi. Biasanya di mulai dari hal-hal yang sederhana misalkan aturan dalam memberlakukan jam main, jam tidur, jam belajar sampai jam dimana anak boleh bermain komputer.

2. Kalau ayah marah, ibu diam dulu. Sebaliknya juga begitu. Usahakan penyelesaian dan pelampiasan emosi (bila diperlukan) tidak di depan anak. Segala permasalahan diselesaikan ketika anak tidak di antara mereka untuk menghindari kebingungan dalam memihak. Satu hal yang wajar kala anak punya kecenderungan lebih dekat ke ayah atau ke ibu. Tapi diharapkan dalam taraf yang wajar.

3.      Kadang-kadang anak memang berperilaku yang membuat orang tua marah. Kita tidak bisa menyalahkan mereka. Kalau sudah begitu, lebih baik orang tua sedikit mengalah untuk menenangkan diri dan menurunkan emosi. Dengan menghindari sumber masalah. Misalkan anaknya itu bikin kesal, untuk sementara jangan banyak berdekatan dengan si anak sampai emosi sudah menurun. Baru bisa berhadapan untuk menyelesaikan masalahnya.

Meskipun anak saya sudah mendekati dewasa semua, tapi saya sangat setuju dengan apa yang disampaikan Psikiater tadi. Dan selama ini saya menerapkan komitmen untuk diri saya sendiri bahwa senakal apapun anak saya tidak akan pernah saya sakiti dia. Baik itu menyakiti badannya seperti memukul, mencubit atau memperlakukan dengan kasar. Tapi saya pun menjaga kata-kata dan ucapan, baik itu secara langsung ditujukan ke mereka ataupun yang tidak langsung. Tidak langsung misalkan berkata yang tidak pantas dengan orang lain tapi mereka sampai mendengarnya.

Sedang pada suami, saya meminta supaya segala urusan yang berhubungan dengan hukum menghukum anak, dipercayakan saja kepada saya. Apapun kesalahan mereka, biar ibu yang mengambil tindakan. Karena hanya ibu yang tahu siapa dan bagaimana anaknya tersebut. Seorang ibu kalau menghukum akan mengukur dengan hati, hukuman apa yang pantas dan tepat sehingga tidak mengganggu psikis anaknya.

“Tidak ada sekolah untuk orang tua. Tapi orang tua di beri karunia sebuah naluri untuk menjadi seorang pelindung, pengayom dan pendidik anaknya. Yang akan menuntun dengan sendirinya untuk menjadi contoh serta teladan bagi mereka.”


Salam hangat…


Catatan harian, 10 Oktober2014
Pukul : 08.31 WIB

No comments:

Post a Comment