Saturday, February 21, 2015

Jangan Paksa Saya Untuk "Berkhianat"

Lama-lama saya merasa jengah juga, melihat suhu politik yang semakin memanas meski hanya kurang 5 hari lagi pelaksanaan pemilu. Pengen baca koran, headline-nya saling menghujat antar kubu pendukung plus sederet ilustrasi-ilustrasi yang makin “kreatif” dan ngawur. Pengen lihat televisi, hampir semua cenderung menonjolkan satu sisi saja (akhirnya membuat saya pilih nonton acara keroyokan yang masih rame riwa riwi di layar kaca). Buka laptop, media online juga nggak kalah seru dengan adu argumentasi antar pendukung dan tim sukses yang tidak resmi.
Yang membuat saya merasa tidak nyaman akhir-akhir ini, sebagian teman sudah semakin kepo. Mereka sering bertanya setengah memaksa untuk terang-terangan menyebut pasangan capres-cawapres pilihan saya atau mengajak membahas politik. Sengaja memancing pendapat saya yang ujung-ujungnya di ajak berdebat. Bahkan sampai kirim ke inbox fesbuk untuk mengajak “berantem”. Tapi saya masih bisa bertahan untuk tidak meladeni dia, karena saya menganggap itu sudah masuk wilayah pribadi saya. Dan tidak seorangpun bisa memaksa walaupun memakai ancaman sekalipun.
Dalam kondisi sekarang, apapun yang  kita bahas akan mudah memercikkan api pertengkaran. Jangankan dengan teman atau saudara, di rumah saja sudah jelas saya dan suami mempunyai pilihan yang berbeda. Dan selama kami menikah lebih dari 20 tahun, sama-sama saling tahu bahwa pilihan kami memang tidak pernah sama. Oleh sebab itu, kami selalu menghindari topik yang sekiranya bisa menyulutkan pertikaian karena perbedaan pandangan tersebut. Bahkan pada anak sulung saya – Thomi, yang tahun ini sudah bisa menggunakan hak suaranya, kami tidak pernah berusaha untuk mempengaruhi atau memberi masukan yang cenderung menonjolkan pilihan kami. Justru saya tekankan dia lebih banyak mencari referensi dan informasi yang mampu dia serap sesuai usia dia. Yang penting jangan golput! Sempat juga kemarin waktu pemilu legislatif dia tidak mau nyoblos karena bingung dan tidak tahu mau milih yang mana. Saya tegur dia untuk tidak ikut-ikutan teman atau dipengaruhi orang yang memberi informasi menyesatkan. Dia harus mulai belajar berdemokrasi dan tahu betapa pentingnya menggunakan hak suara, karena itu juga berpengaruh kepada kelangsungan masa depan negara ini.
Sebenarnya alasan saya cukup sederhana saja. Saya tidak ingin memunculkan permusuhan karena perbedaan pendapat itu. Saya tidak ingin kehilangan teman karena masing-masing mempunyai pilihan yang berbeda. Apalagi saya beraktifitas dan bersosialisasi berhubungan dengan golongan atau profesi yang beraneka ragam. Semua rekan dan sahabat saya juga mempunyai pandangan politik yang bermacam-macam. Jadi saya lebih mengutamakan nilai persahabatan dan persaudaraan. Tidak kalah penting yang menjadi alasan saya adalah pelajaran PMP tentang Pemilu yang diajarkan di bangku sekolah, cukup melekat dan menjadi pedoman dalam saya bersikap sampai sekarang.
Jadi, sekali lagi saya tegaskan, jangan paksa saya untuk “mengkhianati” prinsip saya yang katanya “kuno” ini, yaitu menghargai asas Pemilu yang LUBER – Langsung, Umum, Bebas dan Rahasia. Saya masih sangat menyayangi dan menghargai para guru PMP yang menanamkan pendidikan dalam berpemilu sejak saya belajar di bangku SD.
Biarin saja meski saya di katain yang malu-malu kucing, yang tidak punya pendirian, tidak mengikuti trend yang katanya sudah era keterbukaan dan transparansi, tidak cerdas dalam berdebat masalah politik, tidak asyik – dalam hati cuman bilang : masa bodoh, emang gue pikirin, masalah buat elo, gue gitu loooohh….
Terakhir, yang menjadi harapan saya (pasti juga harapan seluruh rakyat Indonesia) adalah :
1. Pemilu segera berlalu dengan sukses, aman, lancar dan damai. Tanpa ada pertikaian, kerusuhan apalagi pertumpahan darah.
2. Indonesia mempunyai pemimpin baru yang amanah dan membuat perubahan yang lebih baik untuk rakyat, bangsa dan negara (baik itu nomor 1 atau nomor 2 karena saya menilai keduanya mempunyai kapabilitas yang sama-sama mengagumkan).
3. Kita kembali melanjutkan kehidupan yang normal, bekerja, bermasyarakat dan bersosialisasi, menjaga kerukunan dan kedamaian dengan tetap berpegang pada asas dasar negara kita yaitu PANCASILA. Dimulai dari negara kecil di sekeliling kita yaitu keluarga, tetangga dan lingkungan sekitar kita.
4. Dengan pemimpin yang baru, Indonesia akan semakin makmur dan maju dalam segala bidang. Sudah waktunya kita masuk dalam jajaran negara-negara yang diperhitungkan dalam kancah Internasional. Terutama disegani dan dihormati oleh negara yang menjadi adikuasa selama ini.
Yang jelas saya tidak GOLPUT. Saya akan menentukan pilihan sesuai hati nurani saya pas tanggal 9 Juli itu. Dan yang paling tahu saya nyoblos nomor berapa - hanya saya, Tuhan dan dinding bilik pemilu yang menjadi saksi bisu.
Salam Indonesia damai… menuju Indonesia baru….
***
Catatan harian, 04 Juli 2014
Pukul : 06.17 WIB

No comments:

Post a Comment