Saturday, February 21, 2015

Jangan Paksa Anak Menjadi Dewasa Sebelum Waktunya

Kerukunan & saling mengasihi harus di pupuk sejak dini (dok.pri)

Melihat fenomena yang menimpa anak-anak Indonesia akhir-akhir ini, membuat kita semakin prihatin. Sudah demikian kurangkah perhatian orang tua terhadap kebutuhan batin anak-anak sehingga mereka seperti di paksa untuk tumbuh sendiri secara instan. Apa karena terpengaruh oleh kemajuan peradaban yang serba instan? Sedang kehidupan yang semakin keras, kadang belum bisa di terima oleh pribadi anak-anak yang masih lemah.

Ingatan saya melayang ke beberapa tahun silam. Ketika itu si Sulung - Thomi, berusia 7 tahun masih kelas 2 SD. Sekarang dia 20 tahun, sudah mahasiswa semester 4. Sedangkan Naufal, adiknya - masih berumur 3 tahunan.

Tengah malam tiba-tiba dia menangis mengeluh perutnya sakit. Tanpa pikir panjang, kami segera bawa ke Poliklinik terdekat di perumahan, yang buka 24 jam. Dengan pemeriksaan ala kadarnya oleh dokter jaga yang kemudian memberi resep, kami pulang. Sampai di rumah segera obat tersebut saya minumkan, dengan harapan dia segera sembuh. Tapi sampai 2 jam ternyata tidak ada perkembangan. Dia malah semakin menangis, seolah menahan sakit sekali. Karena panik, akhirnya kami memutuskan untuk membawa dia ke rumah neneknya (karena Thomi dekat sekali dengan neneknya, siapa tau secara psikis bisa membantu mempercepat menyembuhkan sakitnya).

3 jam setelah dari poliklinik, kami sudah di rumah mertua.Thomi masih merintih dengan sakit perutnya. Kemudian kami bawa ke rumah sakit terdekat kebetulan adalah Rumah Sakit Pelabuhan Surabaya (PHC).

6 jam tidak juga ada perkembangan yang melegakan, Thomi masih suka merintih dan menangis. Gimana gak bikin panik. Apalagi dia tidak mau makan apapun, minum susu juga ditolaknya. Takut kenapa-kenapa, bukan gak percaya dengan obat dari PHC, kok semua obat tidak memberikan reaksi yang diharapkan. Kami sepakat untuk membawanya ke RSUD Dokter Soetomo Surabaya(Karang Menjangan). Dengan penanganan yang standard juga, karena diagnosanya Thomi hanya sakit perut. Mungkin masuk angin atau maag-nya kambuh.

Beberapa jam setelah dari rumah sakit Karangmenjangan, masih tidak ada perkembangan yang bagus, sampai menjelang sore. Meskipun Thomi sudah mau sedikit makan roti dan minum susu, tapi dia masih suka meringis dan kadang-kadang diselingi rengekan yang menandakan bahwa kondisi tubuhnya masih belum nyaman. Ditanyapun, dia gak mau jawab hanya menangis saja. Semua anggota keluarga sudah sangat panik dan bingung. Akhirnya diskusi pun di gelar (meskipun sudah sedikit terlambat, krn sudah keliling di 1 poli dan 2 rumah sakit).

Kami mempunyai langganan dokter keluarga. Biasanya kita mempunyai sugesti atau semacam kepercayaan pada dokter pilihan tersebut. Dan percaya tidak percaya, sugesti itu cukup membantu menumbuhkan motivasi yang kuat untuk bisa segera sembuh.

Akhirnya dengan sedikit memaksa karena Thomi sudah gak mau di bawa ke dokter lagi (trauma dengan peralatan kedokteran, maklum… namanya juga anak2), kami sudah tidak mempunya pilihan. Malam itu juga kami berangkat untuk memeriksakan Thomi (lagi) ke dokter Bambang (nama dokter tersebut). Berpegang pada sugesti dan kepercayaan itu pulalah, kami sangat berharap sang dokter bisa menyembuhkan buah hati kami (dengan cepat…kayak sulap aja hehehehe).
Beruntung pasien dokter Bambang malam itu tidak banyak seperti biasanya. Setelah nomor urut ke 8, kami pun masuk ruang praktek. Diawali cerita kami yang cukup panjang (kayak skenario sinetron), wawancara dokter dengan Thomi, dilanjutkan pemeriksaan… seperti biasa… hanya cek tensi darah, suhu badan, tenggorokan dan mata. Sudah itu saja… Sambil menulis resep, dengan sedikit nada serius dokter Bambang mengatakan sesuatu kepada kami (saya dan suami), sedang Thomi sama neneknya di bawa keluar ruang praktek.

“Ibu dan bapak… sebenarnya Thomi ini sudah sembuh. Mungkin tadi memang maag-nya kambuh. Tapi sebenarnya dia sudah tidak sakit. Dia hanya minta perhatian terutama dari orang tua. Meskipun dia anak sulung, tapi bagaimanapun juga dia masih tergolong anak-anak. Dia masih berhak menikmati masa kanak-kanaknya, dengan pemikiran yang masih harus dibimbing, diarahkan, kesempatan berkembang secara alami, dan jangan dipaksa untuk menjadi dewasa sebelum waktunya walaupun dia adalah anak pertama.”

Deg… spontan saya dan suami saling berpandangan. Kata-kata dokter Bambang cukup mengagetkan… sesaat… dan langsung bisa membuka mata dan pikiran kami.
Memang ada beberapa hal yang sering saya tegaskan kepada Thomi sehari-hari, dan sekarang saya betul-betul menyadari bahwa itu satu kesalahan. Seperti :

1. Kakak harus memberi contoh baik pada adik
Dimana-mana sih memang harus begitu, tidak hanya kepada adiknya. Kita selalu mengajarkan anak untuk bersikap baik kepada orang lain. Tapi baik menurut kita belum tentu baik menurut anak-anak yang masih terbatas pemahaman dan pengertiannya. Kembali ke orang tua, yang harus memberikan contoh serta penjelasan sesederhana mungkin supaya bisa di mengerti anak seusia mereka.

2. Kakak selalu salah dan adik tidak pernah salah
Itulah salah satu kesalahan yang tidak kami sadari waktu itu. Kalau adiknya nangis ketika bermain dengan kakaknya, kita sudah menuduh si kakak mencubit atau melakukan diskriminasi. Itu menjadi pemikiran dia bahwa orang tua pilih kasih. Selalu membela adik, padahal belum tentu dia yang salah.
Anak-anak sudah mempunyai jiwa bersaing, terutama dengan lingkungan yang paling terdekat yaitu adiknya sendiri. Tidak jarang, pelampiasannya justru lewat sikap yang tidak bersahabat dan memusuhi adiknya. Peran orang tua tidak cukup memberi pengertian saja, karena kadang si kakak malah tidak bisa menerima penjelasan itu. Jalan keluarnya adalah dengan berbagi tugas, ayah harus banyak memberikan perhatian pada kakak karena bunda harus fokus pada adik yang masih kecil.

3. Pemberian tanggung jawab yang belum waktunya
Sebenarnya maksud kita adalah mengajarkan anak sedini mungkin mempunya rasa tanggung jawab. Terutama yang mempunyai anak laki-laki, tanggung jawab bisa diartikan sebagai sifat yang satria dan jantan. Meskipun memang sebenarnya harus ditanamkan juga pada anak perempuan. Diajarkan untuk bertanggung jawab atas barang-barang milik dia sendiri, tugas sekolah, tugas yang diberikan di rumah… adalah salah satu bentuk pembelajaran yang sesuai dengan usia mereka.

Satu catatan buat kita yaitu :

Anak yang penurut, patuh dan peduli tidak bisa dibentuk lewat cara pemaksaan, apalagi kekerasan atau hukuman. Pemahaman tersebut bisa dimunculkan dari kesadaran dalam diri anak itu sendiri. Orangtua mendidik anak dengan membuatnya menyadari bahwa patuh dan peduli adalah nilai positif yang harus dimiliki.

Memang hal tersebut tidaklah mudah. Semua harus melewati proses yang membutuhkan kesabaran dan usaha ekstra, dan tentunya hal ini bukanlah hal yang tidak mungkin. Dimulai dari keluarga kita sendiri, kepedulian terhadap tumbuh kembang anak akan melahirkan generasi-generasi penerus yang cerdas, bermartabat dan berakhlak mulia.


Semoga sharing ini bermanfaat… Salam sayang untuk anak-anak Indonesia…




No comments:

Post a Comment