Saturday, February 28, 2015

Elegi 3 Hati

1425355601936284645
       Foto : ciricara.com/wp-content/uploads/2011/12/07/a103.jpg

Asti masih menggenggam erat handphonenya meskipun suara Mega sudah menghilang dari ujung telpon. Jantungnya seolah berhenti berdetak, mengingat kalimat demi kalimat yang diucapkan sahabatnya sejak kecil itu, sebelum akhirnya percakapan mereka terputus.

“Umurku tidak akan lama lagi As. Dan aku tidak mau mati dengan membawa penyesalan serta dosa. Kembalilah pada Wisnu. Karena sebenarnya kamu adalah cinta sejati dia. Aku yang telah memisahkan kalian, dengan membuat cerita kalau kamu telah berselingkuh dengan Rio…”

Bak di sambar petir di siang bolong, tiba-tiba Asti mendengar pengakuan Mega yang tidak pernah disangka-sangka itu. Bibirnya mendadak kelu, nafasnya tersengal menahan emosi yang tiba-tiba bergejolak. Sedang tangannya terkulai lemas di atas paha karena tak kuat memegang telpon genggamnya. Spontan Asti mengelus perutnya yang membesar. Didalamnya ada calon bayi yang sudah berusia 6 bulan. Tapi baru seminggu yang lalu calon anaknya itu sudah harus kehilangan ayahnya, yaitu Rio – suami Asti.

Ingatan Asti kembali ke 6 tahun silam, ketika mereka  baru beberapa bulan lulus dari SMA. Kegembiraan Asti pun berlipat ganda karena di samping dia di terima di universitas negeri, dia juga akan bertunangan dengan Wisnu kekasihnya. Tapi ternyata kebahagiaan itu tidak pernah terjadi. Asti batal bertunangan dengan Wisnu tanpa ada alasan yang jelas. Tiba-tiba Wisnu menghilang dan meninggalkan Asti begitu saja.

***

Waktu itu sudah ada rencana kalau malam Minggu akan ada acara di rumah Asti. Yaitu syukuran atas diterimanya Asti di fakultas Hukum Universitas Airlangga sekaligus pertunangannya dengan Wisnu. Mereka sudah lama dijodohkan oleh orang tua masing-masing yang memang sudah bersahabat sejak lama. Tentu saja Asti yang cantik dan pintar tidak menolak kalau harus dijodohkan dengan Wisnu sang Ketua OSIS yang tampan, jago basket idola gadis-gadis di sekolah, apalagi selepas SMA sudah di terima di Akabri Magelang. Siapapun pasti akan iri melihat pasangan tersebut.

Baru Asti tahu kalau ternyata ada seseorang tidak senang atas pertunangan mereka. Dan yang tidak pernah di sangka ternyata dia adalah Mega. Sahabat Asti sejak kecil baik di rumah maupun di sekolah, karena mereka tinggal di satu komplek perumahan yang sama. Sebenarnya Mega sudah lama menyimpan rasa suka kepada Wisnu. Tapi karena Mega sudah mendengar kalau Asti nantinya akan dijodohkan dengan Wisnu, maka Mega menyimpan rasa itu. Bukan menerima keadaan dengan lapang dada, tapi justru rasa iri dan niat jelek yang makin berkembang. Sehingga Mega mempunyai tekad yang besar untuk memisahkan mereka.

Asti tidak menyadari ketika hari menjelang pertunangannya dengan Wisnu semakin dekat, justru Mega sudah menyiapkan rencana jelek. Dengan di bantu Rio yang memang sudah lama menyukai Asti, akhirnya Mega berhasil menghasut mereka berdua dengan membuat cerita bahwa sebenarnya Asti menerima cinta Wisnu karena takut sama ibu bapaknya. Dan sebenarnya Asti lebih suka sama Rio yang anak seorang pengusaha kaya raya.

Ternyata hasutan itu berhasil. Tidak hanya memisahkan jalinan cinta Wisnu dan Asti, tapi juga membatalkan pertunangan mereka. Jarak yang jauh Surabaya- Magelang, waktu itu Wisnu sedang sibuk menjalani kegiatan orientasi sebagai taruna baru, sehingga tidak ada kesempatan keduanya untuk saling mengklarifikasi. Sehingga dimanfaatkan oleh Mega dan Rio untuk membuat keadaan menjadi lebih buruk. Saking lihai dan liciknya Mega yang sudah merencanakan keadaan itu, sehingga Wisnu jadi percaya dan menelan mentah-mentah kabar tersebut.

Wisnu seperti menghilang di telan bumi. Kedua orang tua tidak mampu menjembatani perdamaian di antara keduanya. Untuk menutupi kekecewaan, Asti membenamkan diri dalam kesibukan kuliahnya. Akhirnya dengan berjalannya waktu, Rio yang hadir bak seorang pahlawan berhasil mendapatkan hati Asti yang waktu itu sedang patah hati. Rio pun kemudian menikahi Asti setelah lulus kuliah. Begitupun Mega yang tetap meneruskan skenario jahatnya, dia berusaha mendekati Wisnu. Ternyata tidak sia-sia usaha dan rencana jahatnya yang sudah disusun bertahun-tahun. Selepas menuntut ilmu di Akabri, Wisnu meminang Mega. Selanjutnya mereka tinggal di Balikpapan tempat Wisnu berdinas sebagai seorang Perwira Pertama.

Tapi ternyata Mega tidak bisa membohongi diri sendiri. Dia bisa menipu semua orang terutama Asti dan Wisnu. Hanya saja dia tidak bisa mengelak dari rasa bersalah dan berdosa atas apa telah dia lakukan selama ini terhadap Asti. Perasaan itu semakin hari semakin menekan dan membuat dia tidak bisa mengontrol perasaannya. Sehingga mendatangkan penderitaan yang sebenarnya dia sadari bahwa itu akibat stres dari pikiran-pikirannya sendiri.

Mega sering merasakan seperti orang ling lung, pelupa dan di cengkeram rasa ketakutan. Kadang dia ingin memutar waktu ini untuk kembali ke masa lalu. Dimana dia bisa mengubah semua keadaan yang menghimpit dan menyiksa perasaannya sekarang ini. Tapi di satu sisi, dia ingin mempertahankan apa yang telah dia miliki, yaitu suami yang tampan dan menyayanginya. Meskipun dalam hati dia merasa bahwa kebahagiaan itu semu. Kebahagiaan yang seharusnya bukan menjadi miliknya.

***

Wisnu datang dengan tergopoh-gopoh dan wajah begitu cemas. Apalagi melihat kondisi Mega yang makin memprihatinkan dengan 2 selang infus nampak menghiasi tangan dan lengannya. Sedang di samping tempat tidur Mega ada ibu mertuanya yang tengah menangis.

“Dia tidak mengenali siapapun. Bahkan dengan ibu juga tidak ingat, Wisnu.” papar ibunda Mega.

Wisnu menggenggam hangat tangan Mega, seolah ingin memberikan energi cinta kepada istri yang disayanginya itu. Siapa tahu bisa memberikan perubahan positif.

“Mayang ini payang datang. Kok tidak kelihatan senang sih?” sapa Wisnu sambil mempererat genggaman tangannya.

Mega hanya diam. Tidak bereaksi. Matanya yang tampak sayu dan pipinya yang makin tirus membuat rasa bersalah terbersit dalam hati Wisnu. Tapi dia tidak tahu penderitaan apa yang dirasakan istrinya saat ini. Meskipun dia sedang berdinas keluar kota, komunikasi tidak pernah putus. Perhatiannya juga hanya untuk Mega seorang karena sampai saat ini mereka belum dikaruniai anak.

Wisnu tersentak, sadar dari lamunannya ketika tiba-tiba dokter Taufan muncul dan langsung memeriksa kondisi Mega. Kemudian dia berbisik ke telinga Wisnu. Selanjutnya mereka berdua meninggalkan kamar menuju ruangan dokter Taufan.

“Kondisi bu Mega semakin memburuk pak Wisnu. Hasil lab-nya menunjukkan gula darahnya di atas 400. Pemeriksaan terakhir kami, sepertinya bu Mega mengkonsumsi obat penenang di luar resep yang kami berikan. Sehingga kami tidak menduga efeknya akan separah ini.”

Penjelasan dokter Taufan cukup membuat Wisnu makin merasa tertekan dengan rasa bersalah. Dia merasa telah gagal menjadi seorang suami yang baik buat Mega. Tapi sebagai abdi negara, dia tidak bisa setiap saat menemani dan merawat istrinya yang memang jadi sering sakit-sakitan setelah ikut pindah ke Balikpapan karena dia berdinas di sana.

“Kemarin sebelum di bawa ke rumah sakit, ibu mertua cerita kalau istri saya sempat teriak-teriak dan membentur-benturkan kepala di tembok Dok. Dia menangis meraung sambil bilang minta maaf…tapi tidak jelas minta maaf ke siapa. Saya sendiri bingung, sebenarnya istri saya sakit apa ya Dok?”

Wisnu berdesah cukup panjang, seolah ingin membuang beban yang beberapa bulan ini sangat menghimpitnya. Tiba-tiba dokter Taufan mengambil sesuatu dari laci. Semacam hasil foto rontgen…

“Ini saya terima kemarin dari ibunya bu Mega. Beliau tidak sengaja menemukan di lemari pakaian, kemudian memberikan kepada saya untuk di cek siapa tau bisa memberi gambaran yang jelas. Ternyata memang benar. Hasil rontgen ini menunjukkan bahwa bu Mega mengidap semacam gejala Alzheimer…” bla bla bla…..dokter Taufan masih menjelaskan panjang lebar, tapi Wisnu sudah keburu terperangah.

Alzheimer…? Alzheimer..? Alzheimer…? Beberapa kali dia ulang kata itu, untuk memastikan pendengarannya tidak keliru. Dokter Taufan menganggukkan kepalanya.

“Pikun… Dok?”

Wisnu tidak sanggup mencerna lebih jauh penjelasan dari dokter Taufan. Nama penyakit itu sudah sangat familiar dia dengar, karena dia juga punya teman yang mengidap Demensia Alzheimer. Dan salah satu penyebabnya adalah stress tingkat tinggi. Kembali beribu pertanyaan memenuhi pikirannya. Apa yang membuat Mega sampai tertekan sehingga mengalami stress yang berakibat mengidap penyakit yang biasanya dialami orang lanjut usia.

Wisnu menggenggam erat tangan Mega. Pandangan matanya tidak lepas dari raut wajah kuyu, pucat serta pandangan kosong ke depan. Mega seperti tidak pernah menyadari kehadiran orang yang dicintainya, suaminya sendiri. Hati Wisnu cukup hancur melihat kondisi Mega yang semakin parah sejak dia tinggal tugas sebulan ke Ambon.

“Mayang cepat sembuh ya? Payang tidak akan ninggalin lagi sampai mayang sembuh…” Wisnu mencoba memberi energi cintanya dengan menyebut panggilan kesayangan buat Mega. Mayang atau mama sayang dan payang adalah papa sayang.

Tidak ada reaksi apapun dari Mega. Dia tetap membisu. Meski matanya berkaca-kaca seperti seolah mengerti apa yang dimaksud Wisnu, tapi sesekali hanya mengerjap-erjapkan matanya saja.

Saking capeknya, Wisnu tertidur dengan kepala diletakkan di pinggiran tempat tidur samping Mega.

Seperti ada secercah cahaya, mata Mega menangkap sosok laki-laki yang dicintainya itu tampak lelah dan lemah. Air matanya tiba-tiba luruh. Tangannya ingin menggapai sekedar menyentuh kepala Wisnu, tapi tak sampai. Seketika dadanya bergemuruh menahan gejolak emosi dan tangis yang mencekat. Dia ingin mengatakan sesuatu. Dia ingin menyampaikan rahasia besar yang selama ini disimpannya sendiri. Dan rahasia itulah yang telah merubah hidupnya menjadi penuh beban dan rasa dosa.

Antara keinginan yang kuat untuk mengutarakan sesuatu tapi tak sanggup, akhirnya membuat Mega mengerahkan seluruh tenaganya secara maksimal. Dia tidak menyadari bahaya yang mengancam jiwanya ketika tiba-tiba kepalanya seperti mau meledak dan akhirnya pecah.

Wisnu tersentak bangun ketika merasakan kepalanya seperti di hantam palu. Dia menjerit histeris ketika melihat Mega terkulai lemas dengan wajah yang sudah putih pasi.

***

Akhirnya Mega kembali ke kota kelahirannya, Surabaya. Walaupun hanya jasadnya, tapi sesuai permintaannya yang terakhir. Dia ingin dekat dengan ayah, bunda, keluarga, sahabat dan teman-temannya. Terutama dia ingin dekat dengan Asti, sahabat sejak kecil yang paling disayangi tapi sudah dikhianati. Asti pun memenuhi permintaan Mega untuk sesering mungkin mengunjungi makamnya. Karena dengan begitu berarti Asti sudah memaafkan semua kesalahan Mega dengan tulus dan ikhlas.

Hari ke 7, Asti masih nampak termenung di depan gundukan tanah yang masih memerah dengan taburan bunga mawar melati kenanga yang menggunung. Dimana bersemayam jasad Mega yang sudah menghadap sang Khalik. Masih dengan rasa hampir tidak percaya dengan semua kenyataan yang dia terima. Air mata masih deras menetes di antara ke dua belahan bola matanya yang tampak lebam, menandakan duka yang tertinggal begitu mendalam.  Namun bibirnya tidak lepas terus beristighfar serta membacakan doa-doa untuk almarhum sahabatnya itu.

Sebelum beranjak meninggalkan pusara Mega, dengan lirih Asti mengucapkan beberapa patah kata. Dia berharap Mega bisa mendengarnya…

“Mega….aku minta maaf kalau hari ini adalah hari terakhir aku bisa mengunjungimu. Aku juga minta maaf tidak sanggup untuk memenuhi wasiatmu. Aku ingin mempersiapkan kelahiran anakku yang tinggal beberapa bulan lagi. Mungkin aku akan pindah ke luar kota dengan kehidupan yang baru. Aku tidak ingin terpenjara oleh masa lalu. Karena aku yakin, apa yang telah Tuhan berikan padaku itulah yang terbaik. Suatu saat aku akan datang lagi Mega. Selamat tinggal… kamu tetap sahabat terbaikku…”

Sambil tertatih, Asti meninggalkan tempat peristirahatan terakhir sahabatnya. Tanpa menoleh lagi ke belakang. Dia mantap untuk melangkah menyongsong masa depan dengan kehidupan yang baru bersama calon buah hatinya.

Selang 2 jam kemudian Wisnu mendatangi pusara Mega. Dia tampak tercenung melihat 7 tangkai mawar putih di dekat batu nisan istrinya. Mawar putih adalah bunga kesukaan Asti, gumamnya dalam hati. Sebenarnya Wisnu ingin menemui Asti. Beberapa kali dia datangi rumahnya, tapi Asti selalu menghindar. Akhirnya Wisnu menyerah. Mungkin kesalahan masa lalunya memang harus di tebus dengan keadaan seperti ini. Mungkin tidak mudah untuk menyembuhkan luka lama akibat tindakannya di masa lalu itu.

Kali ini Wisnu pun berpamitan pada istrinya untuk kembali ke Balikpapan. Kota tempat dia harus melanjutkan hidup barunya dalam kesendirian. Dikecupnya kepala batu nisan bertuliskan nama Mega. Diapun melangkah dengan tegar meninggalkan komplek pemakaman meninggalkan jasad istrinya beristirahat. Terkubur bersama masa depan mereka yang terpenggal.

***

4 comments:

  1. Aaiiihhhh.... ko aku jadi sedih mbak avy...

    Hiks hiks...

    ReplyDelete
  2. maaf teteh cantik...kalo bikin sedih
    ini hanya imajinasi kok...semoga di dunia nyata nggak ada hehehehe

    ReplyDelete
  3. hehehehe.... makasih mas ryan

    saya belum bisa upload foto profile nih.....msh bingung :(

    ReplyDelete