Saturday, February 21, 2015

Elang Yang Terluka


Matanya menatap tajam bak pisau belati seolah ingin menelanjangi malam yang mulai menebar awan gelapnya…
Giginya gemerentak seolah ingin menelan bulat-bulat cahaya rembulan yang berpendar dengan angkuhnya…
Tangannya terkepal seolah ingin meninju gunung yang menjulang tinggi dengan sombongnya…

Ketika dia yakin bisa menakhlukkan dunia,
ketika dia merasa cinta tak mungkin lepas dari genggamannya,
tetapi,
keangkuhan itu serentak luruh, kesombongan itu seketika hilang,
bersamaan turunnya butiran-butiran kristal meluncur deras dari ke dua belahan bola matanya…

Sang elang terluka,
sayapnya terkulai lemah tanpa daya dan tanpa kekuatan,
matanya sayup tersaput mendung hitam tanda kedukaan yang dalam,
tak lagi garang dan menantang,
tertatih dan terpatah dia melangkah tak tentu arah…

Sang elang berduka,
untuk sebuah ambisi yang tak pasti,
untuk sebuah cinta yang tak pernah sampai,
untuk sebuah kisah yang tak pernah usai,
mengendap dan berlumut dalam jiwa yang sepi…

Tetaplah tegar Elangku,
meski dalam kesendirian berkalang duka,
merintih sedih di antara derita,
yakinlah….
dalam diam kan kukirimkan doa berbalut cinta,
yang bisa membasuh peluh nestapa,
serta mengobati perih hati yang terluka…


Ruang Rindu, 15 April 2014

Pukul : 22.25 WIB

No comments:

Post a Comment