Saturday, February 21, 2015

Bukan Tentang Inem Pelayan Seksi

Mau nyari pembantu nggak? Mumpung aku ada stok 2 nih….?

Bbm dari seorang teman dekat.  Saya cuman mengernyitkan alis…heran saja. Sudah ke sekian kalinya dia nawarin pembantu, dan mungkin sudah ke sekian kali pula saya menolak mentah-mentah. Sebenarnya dia sangat tahu pasti kenapa sampai sekarang saya selalu menolak untuk mempekerjakan seorang asisten rumah tangga lagi. Saya sudah KAPOK. Bahkan TRAUMA itu menghantui sampai sekarang.

Kapok dan trauma itu tidak ada kaitannya dengan cerita pembantu seperti yang di film atau sinetron dengan judul yang sudah cukup terkenal yaitu “Inem Pelayan Seksi”…..pembantu cantik dan bahenol yang suka menggoda majikan lelakinya (kurang lebih ceritanya begitu ya…saya gak pernah nonton sih hehehe). Tapi saya akan menceritakan sisi lain pembantu yang pinter dan cukup cerdas dalam membodohi serta mengelabuhi (saya) majikannya sehingga nyaris anak-anak jadi korban disia-siakan.

Terakhir saya mempunyai pembantu pada tahun 2009. Waktu itu saya masih bekerja sebagai Humas di salah satu mall di Surabaya, sedang suami sibuk dengan bisnis ekspedisi dan juga sebagai supplier rotan. Dengan 3 orang anak laki-laki yang masih kecil-kecil, Thomi - Kiki - Adham, seorang asisten rumah tangga tentunya sangat kami butuhkan untuk  menjaga dan melayani kebutuhan mereka.

Pembantu yang pernah ikut saya selalu kerasan dan awet. Minimal di atas 3 tahunan. Mereka minta keluar biasanya karena harus menikah, ibu bapaknya sakit atau paling terjelek adalah jadi TKW. Mungkin alasan mereka begitu kerasan dan senang ikut saya karena :

1. Saya selalu memberi gaji di atas rata-rata penghasilan pembantu umumnya di sekitar perumahan.
Di samping memang supaya kerasan (karena nyari pembantu juga sulit sekali), saya menitipkan 3 anak laki di bawah pengawasan mereka. Dan tentunya itu juga salah satu tugas berat yang harus dia kerjakan.

2. Mereka tidak pernah saya suruh masak.
Karena kata anak-anak (dan suami tentunya), tidak cocok kalau yang masak bukan tangan saya sendiri. Masakan saya cenderung ke rasa yang sedikit manis, mungkin karena saya asli Madiun. Sedang di Surabaya, semua masakan banyak gurih dan cenderung agak asin.

3. Tugas utama mereka hanya fokus menjaga dan menemani anak-anak.
Apalagi waktu itu anak saya yang bungsu masih berusia 4 tahun dan sangat hiperakti), maka semua baju dan pakaian kotor di kirim ke jasa londre, walaupun di rumah ada mesin cuci.

4. Kami (saya dan suami) bukan tipe orang yang cerewet.
Suka menyuruh atau memerintah, mentang-mentang ada pembantu sedikit-sedikit harus dia yang kerjakan…. Tidak begitu. Tanpa segan-segan kami juga turun tangan. Kadang saya juga mencuci piring, membersihkan kamar mandi atau suami melap kaca jendela.

5. Selalu ada hari libur khusus.
Setiap hari minggu dan tanggal merah pembantu libur. Tiap 3 bulan sekali saya kasih jatah 3 hari libur untuk bisa pulang kampung.

Ketika awal tahun 2008 saya mempunyai pembantu namanya Wiwik (sebut saja begitu). Dia referensi dari pembantu lama yang mau keluar karena menikah, kebetulan mereka masih saudara dekat. Jadi referensi itu cukup kuat untuk mendukung kepercayaan yang saya berikan meski baru kenal.

Setahun berjalan dengan normal dan tidak pernah terjadi sesuatu yang membuat kami khawatir atau curiga. Apalagi anak-anak kelihatannya juga nyaman dan aman-aman saja. Tapi kemungkinan juga karena anak-anak saya tipenya pendiam dan penurut, sehingga mereka jarang mau bercerita apalagi protes. Saya sendiri ketika menemani mereka belajar, tidak pernah menemukan kesulitan dan kekurangan mereka dalam menangkap semua pelajaran. Semua komunikasi juga tidak ada masalah.

Sampai akhirnya suatu hari si bungsu Adham sakit panas. Naluri sebagai ibu memaksa saya untuk mengambil cuti beberapa hari untuk menjaganya, karena memang tidak mungkin (tega) saya pasrahkan ke pembantu. Hampir seminggu cuti, sampai ketika waktunya saya harus kembali masuk kerja. Tapi selama saya menunggui Adham sakit ada beberapa hal yang saya yakini begitu mencurigakan, yaitu :

1. Ketika kondisi sakit panas, Adham sering mengigau memanggil-manggil nama Wiwik dengan nada ketakutan. Seperti : “maaf mbak… kapok mbak Wiwik…aku gak akan bandel lagi”. Saya menganggap itu satu hal yang normal, ketika dia panas tinggi.

2. Biasanya dia ceria dan hiperaktif, sekarang makin lama cenderung lebih pendiam. Saya tidak terlalu curiga, karena seperti kakaknya yang lain ketika sudah mulai sekolah maka sifatnya makin lama akan berubah menjadi sedikit kalem.

3. Ketika saya akan berangkat kerja setelah menunggui dia beberapa hari di rumah.  Adham menangis histeris tidak mau di tinggal. Waktu itu saya menganggap mungkin hanya efek dari beberapa hari saya tungguin ketika sakit. Meskipun naluri saya sudah merasakan sesuatu yang tidak enak, tapi kalah dengan perasaan percaya yang tinggi pada Wiwik.

Beruntung tidak lama, selang beberapa hari kemudian ada teman satu kos Wiwik datang ke rumah. Sebenarnya dia niatnya mencari Wiwik yang ternyata sudah 2 bulan tidak pernah kembali ke kos dan belum membayar uang kos. Padahal Wiwik tiap hari juga masih masuk bekerja di rumah saya. Tahu kalau dia di cari temannya, entah kenapa sejak itu dia tidak pernah kembali untuk bekerja seperti biasa. Takut kebusukannya terbongkar atau dia memang sudah mengira kalau temannya tersebut pasti akan menceritakan banyak hal terutama tentang siapa dia sebenarnya. Kaget dan benar-benar shock, ketika kami baru menyadari bahwa selama ini kami dibohongi dan dipecundangi seorang pembantu yang sudah demikian kami percaya. Pelan-pelan mulai terkuak kalau ternyata selama ini dia banyak menyalahi kepercayaan dan membohongi kami, seperti :

1. Ketika saya dan suami sudah berangkat kerja, ternyata Wiwik juga berangkat ke beberapa tetangga perumahan untuk menjajakan jasanya mencuci, setrika dan membersihkan rumah secara jam-jaman (dalam bahasa jawa pocokan). Padahal anak bungsu saya seharusnya masuk sekolah di play group, tapi setiap hari dia bawa keliling ikut dia bekerja dari rumah ke rumah. Itu juga menyadarkan saya ketika ada surat peringatan dari pihak sekolah kalau Adham hampir 2 semester tidak masuk sekolah. Bahkan seminggu cuman masuk 1 hari saja.

2. Wiwik memang tidak tidur di rumah kami, karena dia ada suami. Sedang kami tidak bisa dan tidak mau menampung suami istri sekaligus. Rumah kos Wiwik di kampung dekat perumahan, suaminya seorang pekerja bangunan. Sudah disepakati, dia standby di rumah saya mulai pukul 8 pagi sampai 6 sore. Biasanya jam 5 sore suami saya sudah pulang kantor, dia baru boleh balik ke kosannya tanpa harus menunggu saya pulang kerja. Jadi tugas dia sebenarnya hanya menjaga anak-anak, melayani kebutuhan mereka sekaligus mengawasi kegiatannya seperti les dan ngaji di rumah. Tapi ternyata, Wiwik tidak pernah standby di rumah. Si bungsu Adham di bawa ke kosan dia, sedang Thomi dan Kiki selalu sendirian di rumah. Dia datang baru sekitar jam 4 sore. Untung anak-anak saya termasuk tipe anak yang tidak suka banyak bermain di luar rumah. Guru les mereka yang datang ke rumah, dan biasanya sore hari ketika Wiwik sudah balik ke rumah saya. Belakangan saya ketahui kalo Wiwik mengancam (memaksa) anak-anak untuk tidak bilang ke saya. Namanya anak-anak, pastilah keder juga kalo di ancam.

3. Saya tidak pernah mengunci pintu kamar tidur (baik kamar pribadi maupun anak-anak). Karena di samping saya tidak pernah menyimpan uang atau perhiasan berharga di rumah, saya terlalu percaya dengan kejujuran dan loyalitas pembantu. Belakangan baru saya sadar bahwa ada beberapa baju (saya dan suami) dan koleksi jilbab hilang, tupperware koleksi saya juga raib, beberapa asesoris saya lenyap. Meskipun imitasi, tapi hampir semuanya adalah oleh-oleh dari saudara juga teman dari luar jawa/negeri. Dan salah satunya adalah kenang-kenangan dari desainer terkenal Surabaya. Bukan nilai nominal dari barang-barang yang hilang tersebut, tapi kejujuran dan kepercayaan yang sudah dikhianati.

Ketika satu per satu kebusukan Wiwik terungkap, masih terbersit rasa syukur dalam hati saya dan suami, karena kejadian ini tidak sampai berlaru-larut. Meksipun 1 tahun pasti cukuplah lama dirasakan anak-anak ketika hari-harinya ditemani dengan seorang “srigala”,  masih beruntung mereka tidak mengalami semacam trauma psikis. Oleh karena itu saya lalu mengalah mengorbankan karir yang lagi cemerlang. Dan untuk menebus rasa bersalah itu dengan memberi perhatian total ke keluarga terutama anak-anak, serta mengembalikan rasa nyaman dan aman terutama keindahan masa kanak-kanak mereka .

Dalam artikel ini saya tidak ingin menyertakan “tips-tips jitu dan tepat bagaimana mencari seorang pembantu”, terutama yang menggunakan jasa penyalur (agency) baik untuk pembantu rumah tangga atau babysitter. Karena sekarang dengan searching di internet, semua informasi otomatis muncul di banyak website yang akan membantu memberikan arahan dan saran bagaimana dan dimana mencari seorang pembantu atau baby sitter plus alamat lengkap.

Kisah nyata yang pernah saya alami ini, mudah-mudahan bisa dijadikan gambaran bahwa hal tersebut bukan tidak mungkin akan terjadi pada anda. Sehingga sebelumnya bisa diantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Karena seperti tekhnologi yang semakin berkembang, pembantu jaman sekarang pun justru semakin cerdas dan pintar.

Semoga pengalaman yang saya anggap sangat ceroboh dan teledor ini, karena terlalu percaya dengan orang lain (pembantu), bisa dijadikan sebagai pengalaman yang berharga dan masukan yang berguna bagi rekan-rekan kompasiana (terutama yang sempat membaca artikel ini).

“Karir setinggi apapun dan materi yang berlimpah… Tidak akan mampu menggantikan nilai-nilai tulus orang tua kepada anaknya.  Semua akan sia-sia kalau si anak tidak pernah merasakan langsung sentuhan, perhatian serta kehangatan kasih dari orang tua”

Salam hangat untuk keluarga Indonesia…


Catatan Harian, 24 Mei 2014
Pukul : 02:10

No comments:

Post a Comment