Saturday, February 21, 2015

Berakhirnya Episode Dollywood

Kini hidup wanita si kupu-kupu malam…
Bekerja bertaruh seluruh jiwa raga…
Bibir senyum kata harus merayu memanja…
Kepada setiap mereka yang datang…


Itulah sepenggal lagu ciptaan Titik Puspa yang begitu terkenal seantero bumi Indonesia di tahun 80an. Menggambarkan sosok perempuan malam yang bekerja keras demi menghidupi keluarganya, sehingga dia harus mempertaruhkan harga diri dan perasaannya sendiri.

Sebenarnya yang diceritakan Titik Puspa dalam lagu tersebut adalah sosok perempuan yang “dengan terpaksa” harus bekerja sebagai Kupu-kupu Malam. Karena terbatasnya pendidikan, ketrampilan dan kecakapan dia, sehingga sulit untuk mendapatkan pekerjaan. Biasanya memang alasan utama adalah ekonomi atau kemelaratan. Akhirnya dengan alasan “terpaksa” harus menjual diri untuk sesuap nasi demi kelangsungan hidup dirinya dan keluarga.

Apa hubungan Gang Dolly dan lagunya Titik Puspa? Ya karena gambaran nyata yang tersirat dari lagu tersebut adalah di Gang Dolly tempat kupu-kupu malam berkumpul dan bekerja menjajakan diri? Bedanya, syair dari lagu Kupu-kupu Malam tersebut menyiratkan kondisi yang terpaksa dia bekerja sebagai wanita penghibur karena sudah tidak ada pilihan (mungkin latar belakang pendidikan dan ekonomi). Bagaimana dengan kondisi Gang Dolly dalam cerita sesungguhnya?

Konon, kawasan prostitusi dengan nama beken Gang Dolly itu sudah ada sejak tahun 1960 an. Mendapat predikat yang tidak kalah keren yaitu pusat prostitusi terbesar di Asia Tenggara. Bukan karena prestasinya, tapi justru terkenal karena merupakan tempat esek-esek yang terbesar, terorganisir dan “legal”. Perputaran uang di kawasan ini juga cukup fantastis yaitu hingga mencapai lebih dari 500 juta dalam sehari semalam. Sedangkan pemasukan ke kantong pribadi PSK dan mami-papinya bisa sampai 15 jutaan. Banyak pelaku bisnis yang terlibat dalam kegiatan malam itu selain pemeran utama yaitu PSK dan bandar yang biasanya merangkap sebagai pemilik wisma (rumah yg disewakan unt aktifitas PSK), yang lain seperti tukang parkir, penjaga wilayah (preman), pedagang asongan, pedagang kaki lima, sopir taksi, tukang ojek sampai makelar-makelar.

Bisa dibayangkan, berapa ratus orang bahkan kepala keluarga yang sangat tergantung pada bisnis tersebut. Karena menghasilkan pemasukan yang tidak sedikit dan nilainya sangat menggiurkan, sudah tidak ada unsur “keterpaksaan” dalam menjalani bisnis ini. Terutama bagi yang menjadi “pemeran utama”. Sudah tidak ada yang namanya mengorbankan harga diri, mengorbankan perasaan apalagi memikirkan nama baik. Semuanya demi uang dan uang. Sudah bukan untuk kelangsungan hidup, tapi bisnis dan kepentingan materi (dunia).  Bahkan sudah menjadi komoditi dan “pemasukan tetap” untuk setiap wilayah. Padahal di sisi lain, pemerintah juga sedang menggalakkan pemberantasan penyakit HIV AID dan segala macam bentuk minuman keras atau obat-obatan terlarang. Salah satunya menutup tempat yang menjadi sumber awal munculnya malapetaka itu.

Terus kalau dengan menutup Gang Dolly saja menjadi kontoversi dan adu argumentasi yang tidak pernah selesai-selesai, mau jadi apa generasi penerus kita nantinya? Saya yakin bu Risma dan pejabat yang terkait mampu mencarikan jalan keluar dan solusi yang tepat dan bisa di terima semua pihak. Tentunya tidak hanya negosiasi dan komunikasi saja, tapi harus disertai sikap yang legowo dan nrimo. Karena penutupan Gang Dolly ini tidak bisa di tunda dan di tawar lagi. HARGA MATI…. Apalagi menjelang bulan Ramadhan yang suci dan penuh berkah tahun ini.

Menjelang 5 tahun kepemimpinan walikota Tri Rismaharini, kami sebagai warga Surabaya bisa merasakan secara langsung sentuhan tangan dan perasaan keibuannya dalam menata kota tercinta ini. Dibalik sosoknya yang lembut, ada sikap yang tegas dan keras. Tegas untuk memperjuangkan apa yang sudah melenceng dari norma dan tatanan, serta keras untuk melawan apapun yang menghalangi dia dalam merubah Surabaya menjadi lebih baik.

Sekarang sinetron dan film DOLLYWOOD sudah berakhir episodenya. Semoga tidak ada tayangan sambungan yang membuat cerita seperti direkayasa apalagi dipolitisir. Terlepas pro dan kontra yang sekarang masih terus terjadi, kita yakin bahwa hati nurani masih bisa bicara. Uang memang bukan segalanya, meskipun segalanya membutuhkan uang.

Hidup memang tidak seindah sinetron Indonesia atau film-film india… Meskipun cerita hidup kita sudah ada sutradara yang menulis dan mengatur, tapi tanpa keinginan dan usaha diri sendiri untuk merubahnya – tidak akan mungkin bisa seindah yang kita inginkan.

Terima kasih bu Risma….untuk Surabaya Baru!


Catatan harian, 19 Juni 2014
Pukul : 08.34

No comments:

Post a Comment